Menimbang Ungkapan Terima Kasih Hamas kepada Iran

(an-najah.net) – Tulisan ini masih berkaitan dengan sebelumnya yang berjudul, mengapa sayap militer Hamas berterima kasih kepada Iran.[1. Lihat pula http://mig.an-najah.net/berita/hamas-memuji-muji-pemimpin-tinggi-revolusi-iran-sayid-ali-khamenei; http://indonesian.irib.ir/c/journal/view_article_content?groupId=10330&articleId=5279268&version=1.0; http://syrianarmyfree.com/vb/showthread.php?t=25175] Hal ini memang menarik sebab di mata umat Islam, terutama Indonesia, Hamas dengan Brigade Al-Qasam-nya dianggap sebagai ujung tombak perlawanan Palestina terhadap Israel, meskipun ada beberapa elemen lain.

Memang benar demikian, dan kita tidak boleh menganggap enteng peran mereka. Tetapi, penghargaan terhadap seseorang atau kelompok tidak boleh pula membuat kita segan untuk saling mengingatkan. Tidak ada yang meragukan pengalaman Khalid bin Al-Walid di medan perang, tetapi Rasulullah saw dengan tegas mengingatkannya ketika berbuat salah dalam salah satu peperangan.

Berangkat dari persepsi umum umat Islam terhadap Hamas sebagai “pahlawan”—kalau boleh disebut demikian— dan Iran sebagai negara Syiah —yang oleh ahli sunnah dianggap— sebagai musuh Islam,[2. Sejarah membuktikan hal ini. Lihat buku Pengkhianatan Pengkhianatan Syiah dan Pengaruhnya Terhadap Kekalahan Umat Islam Karya DR. Imad Ali Abdus Sami’, terbitan Al-Kautsar.] saya mencoba membuat analisis data hubungan Rasulullah saw dengan orang-orang kafir dan munafik, terutama dalam hubungan pada level pemimpin bangsa.

Secara garis besar, hubungan Rasulullah saw dengan mereka dibagi menjadi dua saja:

  1. Hubungan pertetanggaan, penjagaan darah dan harta mereka. Hal ini terjadi selama mereka tunduk dalam aturan Islam sebagai rakyat di negara Islam.
  2. Hubungan permusuhan, perang dan penghalalan darah dan harta mereka. Hal ini terjadi bila mereka memberontak, berkhianat, dan tidak tunduk kepada negara Islam. Atau mereka memerangi Islam dan pemeluknya dengan lisan dan perbuatan, baik di negara Islam maupun dari luar.

Berikut ini beberapa contohnya:

  1. Hubungan dengan kaum Musyrik Mekkah dan Madinah:

Hubungan Rasulullah saw dengan orang-orang musyrik tidak lepas dari hal-hal berikut:

  1. Berdoa untuk hidayah mereka. Hal ini tampak jelas ketika beliau meminta kepada Allah agar Islam dikuatkan dengan Umar bin Al-Khaththab atau Abu Jahal. [3. Lihat Sunan At-Tirmidzi.] 
  2. Memosisikan sebagai umat dakwah agar mereka masuk Islam. Hal ini tampak dalam seruan beliau kepada Abu Thalib agar mau bersyahadat sampai di ranjang kematiannya. Beliau selalu menaruh harapan besar agar mereka mendapatkan hidayah, meskipun banyak perlakuan buruk dari mereka. Namun, tidak pernah terlihat beliau bermujamalah kepada mereka, bahkan ketika beliau menghadapi situasi sulit ketika berdakwah ke Thaif.
  3. Saling mengirim surat, menerima hadiah dan semacamnya. Rasulullah saw menerima hadiah dari Kisra dan Muqauqis. Tetapi tidak pernah ada riwayat bahwa setelah itu beliau bermujamalah kepada mereka. Meskipun kedudukan mereka saat itu sangat kuat, sedangkan keadaan beliau bersama para sahabat masih lemah.
  4. Dan beberapa hubungan muamalah lain, yang tidak terkait dengan hubungan sesama pemimpin, seperti jual beli dan memanfaatkan ilmu mereka dengan imbalan tertentu. Rasulullah dan Abu Bakar menyewa petunjuk jalan dari kalangan orang musyrik ketika hijrah.
  5. Hubungan dengan Munafik di Madinah

Hubungan beliau dengan orang-orang munafik di Madinah adalah hubungan yang sangat sulit, terutama seringnya terjadi persoalan dengan para sahabat beliau. Yang perlu digarisbawahi dalam hubungan ini, Rasulullah saw memperlakukan mereka sesuai amal yang tampak pada mereka, tetapi beliau tidak pernah menokohkan atau menempatkan mereka di posisi-posisi penting dalam agama. Mereka juga diizinkan ikut dalam beberapa peperangan, meskipun sering menimbulkan kekacauan. Lihat kembali ulah mereka di perang Uhud dan Tabuk.

  1. Hubungan dengan Yahudi di Madinah
    1. Hubungan tanpa kekerasan, adalah ketika beliau tiba di Madinah dan menjadi pemimpin tertinggi. Mereka tunduk kepada aturan beliau. Beliau membuat perjanjian dengan mereka dengan hak-hak tertentu sebagai rakyat yang tunduk kepada negara Islam. Hubungan ini berakhir dengan pengkhianatan mereka.
    2. Hubungan permusuhan dan perang, di antaranya adalah perang terhadap Yahudi di luar Madinah agar mereka tunduk kepada Islam. Contohnya adalah perang Khaibar. [4. Sirah Nabawiyah, Al-Kautsar, 479.] Atau, hukuman yang harus diterima Yahudi di dalam negeri Islam karena pengkhianatan mereka. Pertama adalah pengkhianatan Yahudi bani Qainuqa terhadap perjanjian. [5. Sirah Nabawiyah, Al-Kautsar, 313.] Nabi saw mengusir mereka secara keseluruhan dari Madinah. Kedua adalah Yahudi bani Nadzir yang diusir pula dari Madinah karena ulah mereka.[6. Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam, Darul Falah, II/157.] Peristiwa ini diabadikan di awal surat Al-Hasyr. Ketiga adalah pengkhianatan Yahudi bani Quraidzah. Mereka semua dibunuh kecuali anak-anak dan perempuan.[7. Lihat artikel terkait ini, http://mig.an-najah.net/fokus/masyarakat-islami-lebih-penting-daripada-negara-islam-cermin-intelektual-muslim-salah-orientasi/]

Adapun data sejarah yang menunjukkan hubungan beliau dengan beberapa personal pemimpin Yahudi bisa disebutkan beberapa contoh:

Pertama adalah pembunuhan terhadap Ka’b bin Al-Asyraf dan Sallam bin Abil Huqaiq.[8. Pembunuhan terhadap Sallam yang dikenal dengan sebutan Abu Rafi’ ini jadi rebutan antara Aus dan Khajraj untuk mendapatkan keridhaan Rasulullah saw, karena sebelumnya Ka’b telah ditangani oleh Aus. Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam, Darul Falah, II/160.] Di Shahih Al-Bukhari disebutkan:

Jabir bin Abdullah ra berkata, “Rasulullah saw bersabda, ‘Siapakah yang akan membunuh Ka’b bin Asyraf yang telah durhaka kepada Allah dan melukai Rasul-Nya?’

Maka Muhammad bin Maslamah berdiri dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, sukakah anda jika aku yang akan membunuhnya?’

Beliau menjawab, ‘Ya.’

Muhammad bin Maslamah berkata, ‘Izinkan aku untuk mengatakan sesuatu.’

Beliau bersabda, ‘Katakanlah.’

Setelah itu Maslamah mendatangi Ka’b, dia berkata, ‘Sesungguhnya laki-laki itu (maksudnya Nabi saw) telah meminta sedekah kepada kami padahal kami dalam keadaan susah. Oleh karena itu aku datang kepadamu untuk berhutang.’

Ka’b berkata, ‘Dan juga -demi Allah- kalian akan bosan kepadanya.’

Maslamah berkata, ‘Ya, tetapi kami telah mengikutinya, dan kami tidak ingin meninggalkannya hingga kami mengetahui kesudahannya.’

‘Kami hendak meminjam satu atau dua wasaq kepadamu.’

Ka’b bin Al Asyraf menjawab, ‘Baiklah, akan tetapi kalian harus memberikan jaminan kepadaku.’ Mereka menjawab, ‘Engkau harus kami beri jaminan apa?’

Ka’b menjawab, ‘Gadaikanlah istri-istri kalian.’

Mereka menjawab, ‘Bagaimana kami harus menggadaikan istri-istri kami, sementara kamu adalah orang yang paling rupawan di Arab.’

Ka’b berkata, ‘Kalau begitu, gadaikanlah putri-putri kalian.’

Mereka berkata, ‘Bagaimana kami harus menggadaikan putri-putri kami, nantinya mereka akan dihina orang-orang dan dikatakan, ‘Mereka telah digadaikan dengan satu atau dua wasaq, ‘ hal ini akan membuat kami terhina. Kami akan menggadaikan la’mah (senjata) kami.’

Kemudian mereka membuat perjanjian untuk bertemu kembali.

Suatu malam Maslamah bersama Abu Na`ilah –saudara sepersusuan Ka’b- datang menemui Ka’b, lalu Ka’b mengundangnya untuk masuk ke dalam benteng, setelah itu Ka’b turun menemui mereka.

Istri Ka’b berkata, ‘Aku mendengar suara seperti darah menetes.’ Ka’b menjawab, ‘Dia hanyalah saudaraku, Muhammad bin Maslamah dan saudara sepersusuanku Abu Na`ilah. Sesungguhnya sebagai seorang yang terhormat, apabila dipanggil, maka ia akan menemuinya walaupun di malam hari.’

Kemudian Muhammad bin Maslamah memasukkan (ke dalam benteng) dua orang bersamanya.’

Maslamah melanjutkan, ‘Sungguh, aku akan meraih rambut kepalanya dan menciumnya, jika kalian melihatku telah berhasil menguasai kepalanya, maka mendekatlah dan tebaslah dia.’ Sesekali Maslamah berkata, ‘Kemudian aku akan memberikan kesempatan kepada kalian untuk menciumnya.’ Ketika Ka’b turun untuk menemui mereka, dan bau minyak wanginya mulai tersebar, Maslamah berkata, ‘Aku belum pernah mencium aroma wangi yang lebih bagus daripada ini.’ Selain ‘Amru menyebutkan, ‘Aku memiliki minyak wangi wanita Arab dan lebih sempurna di kalangan Arab.’ ‘Amr mengatakan, ‘Maslamah berkata, ‘Apakah engkau mengizinkanku untuk mencium kepalamu?’ Ka’b menjawab, ‘Silakan.’ Kemudian Maslamah menciumnya dan diikuti oleh sahabat-sahabatnya.’ Setelah itu Maslamah berkata lagi, ‘Apakah engkau mengizinkanku lagi?’ Ka’b menjawab, ‘Silahkan.’ Ketika ia telah berhasil menguasainya, Maslamah berkata, ‘Mendekatlah.’ Maka mereka langsung membunuhnya, setelah itu mereka menemui Nabi saw dan mengabarkan kepada beliau.”[9. HR Al-Bukhari, hadits no. 3731, dengan pemotongan beberapa redaksi. Silakan merujuk Shahih Al-Bukhari untuk melihat matannya secara lengkap.]

Dari uraian tadi bisa diambil beberapa kesimpulan:

  1. Rasulullah saw menyukai perdamaian dengan musuh bila mereka menghendaki selama tidak mengorbankan hak-hak kaum muslimin dan Islam. Hal ini sesuai dengan firman Allah, “Jika mereka condong kepada perdamaian, condonglah kepadanya dan bertawakallah kepada Allah.” (Al-Anfal: 61). Syaikh Mahmud Saltut mengatakan, “Perdamaian adalah kondisi dasar yang dipersiapkan untuk saling menolong, mengenal, dan menyebarkan kebaikan antar sesama manusia secara umum. Bila non-Muslim terjaga karena kondisi perdamaian, mereka dan kaum muslimin dalam pandangan Islam adalah saudara sesama manusia.”[10. Islam: Akidah dan Syariah, Mahmud Saltut, 453.]
  2. Tidak ditemukan bahwa Rasulullah saw pernah bermujamalah kepada orang-orang kafir untuk menegakkan din. Hubungan para sahabat dengan orang-orang non-Muslim (ahli kitab dan kaum munafik) di Madinah pada waktu itu sangat erat sampai pada level pemberian kepercayaan kepada mereka. Namun hal ini tidak terjadi pada Nabi saw sebagai pemimpin. Gejala ini langsung diingatkan oleh Allah dalam firman-Nya, “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudaratan bagimu. mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya.” (Ali Imran: 118). Bithanah adalah orang dekat dan tempat saling bertukar rahasia pribadi. Lihat tafsir As-Sa’di pada ayat ini.
  3. Rasulullah saw memang menerima hadiah dari pemimpin kafir, tetapi beliau tidak pernah lumer terhadap mereka. Allah berfirman:

وَدُّوا لَوْ تُدْهِنُ فَيُدْهِنُونَ

“Mereka menginginkan supaya kamu bersikap lunak lalu mereka bersikap lunak (pula kepadamu).” (Al-Qalam: 9).

“Mereka hampir memalingkan kamu dari apa yang telah Kami wahyukan kepadamu, agar kamu membuat yang lain secara bohong terhadap Kami, dan kalau sudah begitu tentulah mereka mengambil kamu jadi sahabat yang setia. Dan kalau Kami tidak memperkuat (hati)mu, niscaya kamu hampir-hampir condong sedikit kepada mereka. Kalau terjadi demikian, benar-benarlah Kami akan rasakan kepadamu (siksaan) berlipat ganda di dunia ini dan begitu (pula siksaan) berlipat ganda sesudah mati, dan kamu tidak akan mendapat seorang penolong pun terhadap kami.” (Al-Isra’: 73-75)

Jadi, pemimpin Hamas, Penguasa Saudi, Mesir dan negara-negara Arab lainnya, boleh mengadakan pertemuan kenegaraan (muamalah) dengan Ahmadinejad, Benjamin Netanyahu, Barak Obama dan sejenisnya, asal saja membawa misi untuk membunuh mereka seperti dilakukan oleh Muhammad bin Maslamah. Bahkan, mereka boleh berpelukan, jabat tangan, minum bersama—selama bukan minuman haram—dan protokoler kenegaraan lainnya, selama tujuannya meneladani pendahulu kita yang cerdas berpolitik tersebtu.

Permintaan Muhammad bin Maslamah kepada Rasulullah saw untuk menyampaikan kata-kata kepada Ka’b adalah kecerdasan politiknya untuk membuktikan sendiri bahwa Ka’b memang tidak suka kepada beliau saw. Kalau hujjah yang nyata selama ini belum juga membuat para pemimpin Islam yakin bahwa Iran adalah Syiah musuh Islam, mereka boleh membuat skenario untuk membuktikannya sendiri.

Tapi, kalau yang dilakukan hanyalah mujamalah yang justru mengorbankan agama dengan alasan maslahat umat Islam, yang belum jelas entah sampai kapan, rasanya terlalu banyak akidah yang dikorbankan.

Ibnu Hajar mengatakan, “Dibolehkan bermuamalah dengan orang kafir dalam perkara-perkara yang tidak menjerumuskan dalam perbuatan yang diharamkan dalam hubungan itu, dan tidak terpengaruh oleh kerusakan akidah dan pergaulan sesama mereka.”[11. Fathul Bari’, V/199.]. Wallahu a’lam

Redaksi: Agus