Menjadi Muslim Sampai Akhir Hayat

Muslim Sampai Akhir Hayat
Muslim Sampai Akhir Hayat
Muslim Sampai Akhir Hayat
Muslim Sampai Akhir Hayat

An-Najah.net – Lebih dari empat belas abad silam Rasulullah SAW telah mengabarkan kepada para sahabatnya bahwa nanti akan muncul banyak fitnah yang menimpa kaum muslimin.

Beragam fitnah tersebut akan menimpa orang-orang beriman dengan jenis dan kadar yang beragam. Yang paling berbahaya adalah fitnah yang menerpa keyakinan seseorang.

Saking parahnya, seorang yang muslim di pagi harinya akan menjadi kafir di sore harinya, dan seorang yang muslim di sore harinya akan menjadi kafir pada pagi harinya.

Pada dasarnya fitnah di akhir zaman nanti tidak hanya menimpa kaum muslimin, seluruh manusia akan merasakannya. Hanya saja, kelompok yang paling dirugikan oleh fitnah tersebut adalah orang-orang yang beriman. Lalu apa yang harus dilakukan agar seorang muslim mampu melalui fitnah tersebut dengan selamat?

Para ulama memberikan beberapa panduan agar seorang muslim tidak tergelincir ke dalam kubangan fitnah.

Kembali Kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah

Ketika seseorang tersesat di hutan yang lebat. Maka pada saat itu, kebutuhannya akan petunjuk melebihi kebutuhannya atas makan dan minum.

Sebab, apalah arti makan dan minum sedangkan ia berada di tempat yang asing, cepat atau lambat persediaannya akan habis.Itulah perumpamaan kebutuhan seorang muslim terhadap pedomannya, Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Rasulullah SAW bersabda:

“Aku tinggalkan kepada kalian dua perkara yang kalian tidak akan tersesat selamanya selama berpegang teguh dengan keduanya, Kitabullah dan Sunnah.” (HR. Malik).

Salah satu fitnah yang selalu menjadi problem bagi umat islam adalah terpecahnya kaum muslimin ke dalam banyak golongan. Mereka terkotak-kotak menjadi beberapa kelompok. Fenomena ini tidak hanya menimpa orang-orang awam, bahkan mereka yang pandai berdalil pun tidak luput dari fitnah tersebut.

Setiap orang membanggakan apa yang ada pada golongannya. Tak jarang di antara mereka ada yang menjadikan kelompoknya sebagai tolak ukur kebenaran. Sehingga tidak mengherankan jika ada yang menjadikan kelompok sebagai dasar wala’ dan bara’.

Akhirnya kondisi umat islam semakin terpuruk, sementara jurang pemisah di antara mereka semakin menganga. Dalam kondisis seperti itu, obat yang paling mujarab untuk mengobati perpecahan umat adalah kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Sebuah solusi praktis tanpa efek samping.

Allah berfirman:

“Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (Sunnah-Nya), jika kamu benar-benar mengimani Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagi kalian) dan lebih baik akibatnya.” (QS. An-nisa: 59).

Dalam ayat lain, Allah berfirman:

“Bagaimanakah kamu (sampai) menjadi kafir, padahal ayat-ayat Allah dibacakan kepada kamu, dan Rasul-Nya pun berada di tengah-tengah kamu? Barangsiapa yang berpegang teguh kepada (agama) Allah, Maka Sesungguhnya ia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” (QS. Ali Imran: 101).

Ayat tersebut menegaskan bahwa jika manusia selalu berpegang kepada ayat-ayat Allah dan sunnah-sunnah Rasulullah SAW, kalian akan selamat dan tidak akan tersesat.

Selain itu seorang muslim harus mengetahui, makna kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah yaitu menjadikan keduanya sebagai pedoman hidup, pemutus perkara di saat perselisihan.

Dan yang paling penting, pemahaman terhadap Al-Qur’an dan Sunnah haruslah sesuai dengan pemahaman para salafus shalih. Sebab, banyak orang yang mengaku menjadikan Al-Qur’an dan Sunnah, tapi pelaksaannya jauh dari apa yang mereka katakan.

Allah berfirman:

“Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. An-Nisa : 115).

Tawakkal Kepada Allah

Tawakkal merupakan ciri orang yang beriman. Ia adalah buah dari keyakinan yang benar dan iman yang kokoh. Seseorang tidak mungkin menyerahkan urusan hidup dan matinya kepada sesuatu yang ghaib, melainkan karena ia yakin bahwa tempat ia menyandarkan urusannya adalah Dzat Yang Maha Segalanya.

Para mutawakkilun (orang yang bertawakkal kepada Allah) adalah orang-orang yang mengumpulkan sifat-sifat mulia dalam dirinya. Senantiasa yakin akan janji dan pertolongan Allah, selalu mengingat Allah di setiap waktu dan tempat, merasa perhatian Allah selalu tertuju pada mereka. Karena itulah, orang-orang yang senantiasa bertawakkal kepada Allah akan selalu mendapatkan pertolongan Allah.

Tatkala nabi Musa berdakwah kepada Bani Israil untuk kembali kepada agama yang lurus. Tidak ada yang mau mendengar seruannya kecuali hanya segelintir orang. Padahal mereka yakin apa yang dibawa oleh nabi Musa benar. Tidak ada yang menghalangi mereka untuk beriman kepadanya selain rasa takut akan fitnah yang ditimpakan fir’aun atas mereka.

Nabi musa mengingatkan mereka.
“Hai kaumku, jika kamu beriman kepada Allah, maka hertawakkAllah kepada-Nya saja, jika kamu benar-benar orang yang berserah diri.” Lalu mereka berkata, “Kepada Allahlah kami bertawakkal. Ya Rabb kami, janganlah Engkau jadikan kami sasaran fitnah bagi kaum yang dhalim, dan selamatkanlah kami dengan rahmat Engkau dari tipu-daya orang-orang yang kafir.” (QS. Yunus: 84-86).

Karena tawakkal pula kaum muslimin mampu bertahan ketika mendapatkan serangan Quraisy dalam perang uhud. Allah berfirman:

“(Yaitu) orang-orang (yang mentaati Allah dan Rasul-Nya) ketika ada orang-orang yang mengatakan kepada mereka, “Orang-orang (yang menjadi lawanmu) telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kalian, maka dari itu takutlah kepada mereka.” Ternyata, (ucapan itu) malah menambah keimanan mereka.

Dan mereka mengatakan, “Cukuplah Allah (menjadi penolong) bagi kami. Dan Dialah sebaik-baik pelindung. Maka mereka kembali dengan nikmat dan karunia dari Allah, mereka tidak ditimpa keburukan apapun. Dan mereka telah mengikuti keridhaan Allah. Sedang Allah itu mempunyai karunia yang agung. (QS. Ali Imran : 173-174).

Begitulah pengaruh tawakkal dalam menjaga seseorang dari fitnah. Namun, satu hal yang harus digaris bawahi, tawakkal tidak akan mungkin dimiliki oleh yang kosong imannya dan tawakkal bukan menyerah tampa usaha.

Sumber : Majalah An-Najah Edisi 124 Rubrik Tema Utama

Penulis : Ahmad

Editor : Helmi Alfian