Menjadi Muslim Seutuhnya

Muslim Kaffah
Muslim Kaffah

An-Najah.net – Allah SWT menurunkan syari’at Islam dengan segala kesempurnaan, yang tidak dimiliki oleh agama dan ideology manapun. Baik dalam konsep ketuhanan (akidah), ibadah, akhlak, muamalah , politik, ekonomi  ataupun selainnya.

Hal ini diakui oleh orang-orang kafir yang masih jujur dalam dunia pengkajian agama. Misalnya, pada zaman khalifah Umar bin Khathab RA, ada  orang Yahudi secara jujur mengakui kelengkapan Islam.

Muslim Kaffah

Dikisahkan dalam shahih Bukhari, suatu waktu, seorang Yahudi menemui Amirul Mukminin Umar bin Khathab RA, lalu berkata, “Wahai Amirul Mukminin, ada satu ayat dalam Al-Qur’an, andaikan ayat ini diturunkan kepada kami orang-orang Yahudi, niscaya kami akan menjadikan hari diturunkannya, sebagai hari raya besar kami.

Ayat itu adalah:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلامَ دِينًا

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (QS. Al-Maidah: 3)

Maka Sayyidina Umar bin Khathab RA menjawab, “Sungguh, aku tahu di mana dan kapan ayat tersebut diturunkan. Sungguh ia diturunkan hari Arofah yaitu pada hari Jum’at. ”

Oleh karena itu, Allah SWT telah mewajibkan muslimin, untuk masuk Islam secara kaffah, yaitu secara totalitas-sepenuh jiwa. Tidak boleh setengah hati. Allah SWT berfirman;

يا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلا تَتَّبِعُوا خُطُواتِ الشَّيْطانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turuti langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” (Qs. Al-Baqarah: 208)

Syaikh as-Sa’di RHM berkata, “Ini adalah perintah dari Allah SWT kepada setiap mukmin untuk beriman secara kaffah. Yaitu, tunduk dibawah seluruh syari’at. Tidak meninggalkan syari’at sedikitpun.

Tidak memilah-milih syari’at; hanya mengambil sesuai nafsunya saja, yang sesuai nafsu dilaksanakan, yang bertentangan ditolak. Justru, nafsu wajib tunduk di bawah aturan dienul Islam.

Seorang muslim wajib mengamalkan seluruh syari’at Islam sesuai kemampuannya. Jika, ada perkara yang belum mampu dia laksanakan, maka hendaklah ia meniatkan diri untuk melaksanakannya, suatu saat kelak. Sungguh niatnya telah sampai.

Menjadi muslim kaffah, menjadi mustahil dilaksanakan, kecuali dengan menyelisihi jalan setan. Maka, Allah SWT mengingatkan (وَلا تَتَّبِعُوا خُطُواتِ الشَّيْطانِ) –Janganlah kalian mengikuti jalan langkah-langkah setan-, yaitu jangan memaksiati Allah SWT.

Kenapa harus menyelisihi setan? Sebab, setan adalah musuh nyata bagi umat Islam, (إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ) –sesungguhnya setan musuh nyata bagi kalian-, iya, setan betul-betul menampakkan permusuhan. Musuh nyata, obsesinya hanya menjerumuskan dalam keburukan, kekejian, dan apa saja yang akan mencelakakan seorang hamba.“ (Taisir Rahman, hlm. 83)

Sumber : Majalah An-najah Edisi 150 Rubrik Tema Utama

Editor : Abu Khalid