Menjadi Yahudi Tanpa Sadar

Simbol Yahudi
Simbol Yahudi
Simbol Yahudi

An-najah.net – Tak ada muslim yang mau menjadi yahudi. Sebuah bangsa yang terkenal licik, jahat dan seabrek sifat buruk lainnya. Tapi, hal itu bisa terjadi tanpa disadari. Bisa jadi diwaktu pagi beriman, tapi sorenya sudah berubah menjadi yahudi(kafir) atau sebaliknya. Seperti itulah berita akhir zaman yang perlu diwaspadai.

Seorang muslim bisa menjadi yahudi karena meniru watak dan perilaku mereka. Bukankah orang yang menyerupai suatu kaum termasuk golongan mereka? Yang patut disayangkan, kebanyakan kaum muslimin tidak peka terhadap perbuatannya yang menjadikan dirinya laksana seorang yahudi. Diantaranya yaitu:

Budaya copy paste

Memang sah-sah saja untuk meniru seseorang dalam sebuah amalan yang ia kerjakan. Tetapi dengan sebuah syarat, selama itu sebuah kebaikan. Hal ini akan sangat bermanfaat dalam proses pengembangan diri. Dalam hal ini menjadikan sesorang sebagai role model untuk ditiru. Namun, jika yang ditiru adalah budaya-budaya asing yang jelas-jelas salah akan membawa kerusakan. Contoh kecilnya seperti mengikuti trend berpenampilan dan gaya berbusana yang tidak sesuai dengan tuntunan Islam. Kemudian mengikuti cara orang kafir bergaul bebas dengan lawan jenis, gaya berbahasa dan bersikap sehari-hari. Seperti inilah yang terjadi di sekeliling kita.

Kenyataan ini membuat kita mengingat kembali sebuah sabda Nabi Muhammad SAW yang berbunyi:

“Kiamat tidak akan pernah terjadisebelum umatku mengikuti ajaran-ajaran orang-orang yang sesat sebelum mereka, sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta.” Seseorang bertanya, “Rasulullah,apakah yang dimaksud adalah orang Persia dan Romawi sebelum Islam?” Rasulullah bersabda, “Siapa lagi kalau bukan mereka.” (HR.Bukhari)

Begitulah, kaum muslimin akan mengikuti jejak-jejak sesat kaum kafirin, lebih suka dengan gaya hidup artis barat dari pada cara hidup islami. Lebih jauh mengenal nama-nama pesohor entertainment dibanding para sahabat yang telah dijamin masuk surga.

Ingatlah hai ikhwah, barangsiapa yang menyerupai dengan suatu kaum, maka ia termasuk dari golongan mereka. Jika seorang muslim meniru mereka orang-orang Yahudi yang Kafir, maka ia termasuk dari golongan mereka.

Tak  Mengamalkan Ilmu

Allah SWT berfirman:

“Perumpamaan orang-orang yang diberi tugas untuk membawa kitab taurat, kwmudian mereka tidak membawanya (tidak mengamalkan) adalah laksana keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Sangat buruk perumpamaan kaum yang mendustai ayat-ayat Allah. Dan Allah tidak akan memberikan petunjuk kepada orang-orang yang dhalim”. (Al-Jumu’ah:5)

Umat terdahulu dikisahkan dalam Al Quran, ditulis pada ayat-ayat-Nya agar menjadi contoh jelek agar tak terulang lagi. Ayat di atas menjelaskan satu sifat buruk orang yahudi, diturunkan kepada mereka kitab tauratsebagai pegangan hidup. Mereka membawanya, tapi enggan menerapkan isinya. Karena itu, para ulama ahli tafsir telah memberikan pengertian dari kata AL-MAGHDHUB (orang yang di murkai) dalam surat Al-Fatihah sebagai orang yahudi. Mereka punya ilmu dan kitab suci taurat, akan tetapi dalam perealisasian nol persen.

Fakta telah membuktikkan, banyak kaum muslimin yang meniru sifat buruk mereka tersebut. Al-Quran telah diturunkan sebagai petunjuk jalan dalam mengarungi samudera kehidupan, namun mengapatidak semua muslim merujuk kepada kitab sucinya tersebut dalam kehidupan nyata. Termasuk di negara ini, yang mana diisi oleh banyak muslim cendekiawan. Yang sangat menyedihkan penyelewengan terjadi pada seorang yang memiliki gelar seorang doktor,kiai, bahkan ustadz, yang tentunya mereka seorang muslim banyak belajar tentangIslam.Al-Quran dengan jelas jelas menyuarakan akan keharaman sesuatu, tapi beberapa oknum cendekiawan penting negara ini justru memberikan lebel yang sebaliknya dengan Al Quran.

Penyelewengan tak hanya terjadi pada muslim yang awwam, tapi yang lebih menyedihkan terjadi pada seorang yang memiliki gelar seorang doktor,kiai, bahkan ustadz, yang tentunya mereka seorang muslim yang cerdas akan islam.

Ingatlah hai ikhwah! Al-Quran mentamsilkan orang-orang yahudi laksana seekor keledai yang membawa kitab-kitab besar karena tidak menegakkan kitabnya. Apakah kita justru mengikuti dan meniru mereka?Naudzubillah.

Kecintaan yang Salah Sasaran

Kecintaan seorang muslim atau sikap wala’ditujukan kepada saudaranya satu dien dan aqidah, bukan pada seorang musuh yang dengan jelas-jelas memusuhi Islamdan tak rela islam berjaya.Seharusnya muslim mencontoh bentuk sikap generasi awal islam. Berikut ini salah satu bentuk muwalah yang patut di contoh.

Sa’ad bin Rabi’, seorang shahabat anshar dan Abdurrahman bin Auf sang muhajirin baru bertemu satu kali, perhatikanlah bentuk loyalitas mereka.

Sa’ad berkata, “Saudaraku! Ini hartaku yang telah aku kumpulkan, aku akan membaginya menjadi dua bagian, setengah untukmu dan setengahnya untukku. Aku pun memilki dua orang istri, terserah mana yang akan kamu pilih dari keduanya. Aku akan menceraikannya dan silahkan kau nikahi setelah telah habis masa iddahnya”. Abdurrahman bin Auf berkata,” semoga Allah membalas segala kebaikanmu. Cukup tunjukkan kepadaku jalan menuju pasar.”

Subhanallah! Beginilah seharusnya muslim bersikap pada saudaranya, bukan saling menyalahkan atau memberikan hak kecintaan tersebut kepada musuh-musuh islam. Hudzaifah berkata, “Hendaklah setiap orang dari kalian berhati hati agar tidak menjadi seorang yahudi atau nasroni tanpa ia menyadarinya”.

Pada akhirnya, akankah kita akan mengikuti mereka para yahudi, mengcopy paste segala kejelekan mereka, mengidolakan tokoh tokohnya, tidak merealisasikan Al Quran sebagaimana mereka tak mau merealisasikan kitab Taurat, dan lebih menanamkan kecintaan yang berlebih pada seorang musuh di banding saudara semuslim sendiri. Perbuatan tersebut dapat menjadikan kita seperti orang orang yahudi tanpa disadari. Semoga Allah SWT senantiasa menjauhkan kita dari segala sifat sifat orang orang yahudi dan dari segala perbuatan yang menjadikan kita seperti orang yahudi. Wallahu a’lam bish showab. (Anwar/dikutip dari majalah an najah edisi 89 rubrik makalah)