Menjaga Loyalitas

Menjaga loyalitas
Menjaga loyalitas

An-Najah.net – Loyalitas seorang mukmin hanya boleh diberikan pada orang-orang mukmin, dan permusuhan hanya boleh disebabkan adanya kekafiran. Tidak sebaliknya, loyalitas diberikan pada orang kafir dan permusuhan ditujukan pada orang mukmin, gara-gara dia melakukan kemaksiatan atau kedzaliman padanya.

Baca juga: Menegakkan Permusuhan Terhadap Musuh

Mestinya disikapi dengan adil. Loyal ketika mensikapi kebaikannya dan tidak loyal bila melakukan kemaksiatan. Kalau tidak, maka sikapnya seperti kelompok Khawarij dan Mu’tazilah yang mengeluarkan iman seseorang secara umum karena melakukan dosa atau kemaksiatan. Allah Ta’ala berfirman tentang sifat  orang-orang yang beriman,

مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ ۚ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ

“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. ” (QS. al-Fath:29)

Ibnu Taimiyah berkata, “Seorang mukmin mestinya bermusuhan karena Allah Ta’ala  dan mencintai karena Allah. Bila ada seorang mukmin lain, maka wajib baginya untuk mencintainya walaupun ia berbuat dzalim padanya, karena perbuatan dzalim tidak memutuskan loyalitas keimanan.”

Di tempat lain beliau katakan, “Bagi seorang mukmin hendaknya memberikan loyalitas pada mukmin lainnya dari kelompok manapun ia berasal. Dan harus memusuhi orang kafir, dari kelompok manapun ia berasal.”

Maka ada tiga kriteria manusia yang mesti disikapi dengan benar,

Pertama, mereka yang diberikan loyalitas secara umum.

Yaitu mereka yang beriman pada Allah dan Rasul-Nya, melaksanakan kewajiban-kewajiban Islam secara benar, yang hanya mengikhlaskan semua perbuatan dan perkataannya pada Allah, dan mengutamakan ucapan Nabi Muhammad Saw di atas ucapan yang lainnya.

Kedua, terkadang mereka diberikan loyalitas dan terkadang diberikan permusuhan.

Yaitu seorang muslim yang masih mencampuradukkan amal shalih dengan perbuatan fasiq. Maka, harus diberikan permusuhan sesuai dengan tingkat kefasikannya dan diberikan loyalitas sesuai dengan tingkat kebaikannya.

Baca juga: Loyalitas Seorang Muslim

Ketiga, mereka yang diberikan permusuhan secara  umum.

Yaitu mereka yang kufur pada Allah Ta’ala, para malaikat-Nya, kitab-Nya, Rasul-Nya dan kufur pada hari akhir. Mereka diberikan permusuhan, walaupun termasuk dari kerabat yang terdekat. Allah Ta’ala berfirman,

 لَا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ

Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka.” (QS. Al-Mujadilah: 22)

Semoga Allah Ta’ala selalu membimbing kita dijalan-Nya hingga akhir hayat serta menjauhkan dari berbagai bentuk fitnah yang dilontarkan oleh musuh-musuh Allah Ta’ala. amin.  Wallahu Ta’ala ‘Alam. []Ibnu Jihad