Hukum Menjual Barang Belum Lunas

Ilustrasi, Jual beli Motor
Ilustrasi, Jual beli Motor
Ilustrasi, Jual beli Motor
Ilustrasi, Jual beli Motor

An-Najah.net – Kepada ustadz pengasuh rubrik konsultasi yang saya hormati. Saya ingin menanyakan kasus yang dialami teman saya. Sebut saja si Z. Si Z kredit kendaraan bermotor dari salah satu BMT dengan akad murobahah senilai 13 juta. Angsuran perbulannya Rp 500 ribuan. Baru dua kali mengangsur, si Z menjual barang tersebut tanpa sepengetahuan pihak BMT.  Apakah yang dilakukan si Z itu sah?

Abdurrahman – Solo

الْحَمْدُ للهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُولِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنِ اتَّبَعَ هُدَاهُ

Transaksi jual beli adalah transaksi yang dibolehkan oleh Allah. Asalkan syarat dan rukun jual beli terpenuhi, transaksi itu sah. Sah artinya terjadi perpindahan kepemilikan secara syar’i. Oleh karenanya para pihak boleh mentasharufkan (mengelola dengan memanfaatkan atau menjual atau memberikan atau melakukan hal lain yang dibolehkan syariat terhadap) barang/uang yang didapatkannya dari jual beli kepada pihak lain.

Murabahah atau jual beli dengan kesepakatan kadar pengambilan keuntungan adalah bentuk jual beli yang dibolehkan—asalkan tidak mengandung riba, gharar, dan kezhaliman. Ini berlaku untuk pembayaran secara kontan maupun kredit.

Ada dua praktik riba yang biasanya dilakukan oleh BMT atau Lembaga Financing. Pertama, dengan menyerahkan langsung uang yang sedianya dipakai untuk membeli barang kepada orang yang membutuhkan barang. Kedua, menjatuhkan denda apabila orang yang membeli barang terlambat membayar cicilan. Kesalahan lain yang juga sering dilakukan BMT adalah BMT tidak memberikan hak khiyar kepada orang yang hendak membeli barang saat barang ditunjukkan kepadanya. BMT mengharuskannya untuk membelinya, bahkan membuat perjanjian harus jadi beli sebelum barang tersebut dimiliki oleh BMT.

Jika kasus yang dihadapi teman Antum terbebas dari ketiga perkara tersebut, maka transaksinya sah. Hanya, umumnya BMT menjadikan barang yang dibeli sebagai marhun (barang gadai) atas utang yang belum lunas. Karena status barang tersebut tergadai, maka pemiliknya tidak boleh menjualnya. Jika ternyata yang menjadi marhun adalah harta yang lain, maka tidak mengapa teman Antum menjualnya. Sebab, yang penting di sini adalah ia tetap berkomitmen untuk membayar utangnya tepat waktu.

Ada satu hal lagi yang perlu dipastikan. Yakni motif teman Antum menjual barang yang baru saja dibelinya. Jika sejak sebelum terjadinya transaksi ia sudah berniat hendak menjualnya sebelum lunas, maka itu termasuk transaksi tawarruq yang diharamkan oleh sebagian ulama karena mirip dengan transaksi jual beli ‘inah.

Transaksi tawarruq adalah bentuk hilah ribawiyah (mencari jalan agar bisa berbuat riba tetapi tidak tampak berbuat riba). Dari awal, yang diinginkan adalah uang cash yang didapat dari menjual kontan barang yang baru saja dibeli secara kredit. Umumnya dengan harga lebih murah. Maka, hakikat orang yang melakukan ‘inah atau tawarruq adalah mendapatkan uang cash dalam jumlah tertentu dan menyahurnya dalam jumlah yang lebih banyak dari jumlah yang diterimanya.

Selanjutnya, sarankan teman Antum dan pihak BMT untuk berkonsultasi dengan ustadz yang memahami fikih mu’alamah maliyah untuk mendapatkan jalan keluar dari problem yang dihadapinya.  Wallahu a’lam.

Sumber : Majalah An-Najah Edisi 112 Rubrik Konsultasi Islam

Editor : Anwar