Browse By

Menyikapi Ujaran Kebencian

Ujaran Kebencian

Ujaran Kebencian

An-Najah.net – Surat Edaran Kapolri tentang ujaran kebencian (hate speech) meramaikan perbincangan publik akhir-akhir ini.

Berbagai pihak khawatir Kalau surat itu akan mengancam kebebasannya berekspresi.

Para politisi oposisi khawatir polisi akan menjadi alat penguasa untuk membungkam lawan politiknya.

Warga dunia maya (nitizen) takut kalau surat itu akan membatasi diskusi dan ekspresi di media sosial mereka.

Sementara kalangan aktivis Islam juga khawatir, Kalau surat itu akan dimanfaatkan kelompok-kelompok sosial untuk menyetop dakwah.

Melihat isi dan dasar hukum rujukannya, sebenarnya tidak ada hal baru. Yang masuk dalam kategori ujaran kebencian ya hal yang dari dulu sudah diatur dalam kitab undang-undang hukum pidana (KUHP), UU ITE dan beberapa aturan lainnya.

Namun, perlu dicatat juga bahwa sudah menjadi tradisi di institusi penegakan hukum dari Mahkamah Agung hingga Polri, sebuah surat edaran bisa lebih efektif menggerakkan jajaran penegak hukum dari pada sebuah undang-undang.

Maklum, dalam pikiran dan etos kerja penegak hukum di negeri ini memang lebih berorientasi pada “takut atasan” daripada “takut aturan”.

Lalu, Bagaimana umat Islam harus menyikapi persoalan itu? Salah satu kunci kemenangan adalah fleksibilitas. Perubahan situasi tak perlu disesali dan dikutuki, namun justru bisa dimanfaatkan semaksimal mungkin.

Tetaplah tenang dan justru sebisa mungkin memanfaatkan suratan edaran Kapolri tentang ujaran kebencian.

Misalnya dengan mendokumentasikan secara rapi pernyataan anti Islam yang biasa dikeluarkan oleh tokoh-tokoh sesat. Sewaktu-waktu ada hal yang memenuhi kriteria ujaran kebencian, laporkan saja ke polisi.

Bagaimana kalau laporan umat Islam tidak direspon dan justru laporan pihak lawan yang diproses oleh Polisi? Catat dan dokumentasi kan juga hal itu sebagai bukti tidak adilnya polisi. Adukan pada Komnas HAM, komisi Kepolisian, DPR RI dan sebagainya.

Di sisi lain, para Da’i dan pembicara publik dari kalangan muslim perlu lebih berhati-hati memilih kata-kata dan ekspresi.

Tanpa harus kehilangan kekritisan pada kemungkaran, hindarilah jeratan ujaran kebencian. Pahami celah apa saja yang bisa menjadi jebakan dan hindarilah hal itu sebisa mungkin.

Salah satu cara termudah adalah mendasari dakwah dan Amar ma’ruf nahi mungkar dengan cinta kepada objeknya.

Da’i yang berlaku seperti Rasulullah, mencintai umat manusia dan sangat berharap manusia mengikuti jalan kebenaran, niscaya tak akan mengeluarkan ekspresi ujaran kebencian. Justru ajakan penuh cinta yang akan keluar dari lisannya.

Sementara itu, sikap reaksioner, emosional dan membakar amarah perlu disingkirkan saat dakwah publik dilakukan.

Hal-hal tadi cenderung memicu provokasi dan menjerat korbannya dalam jebakan hate speech.
Lebih mudah dikatakan daripada dipraktikkan memang.

Namun lebih baik memanfaatkan peluang dibalik sebuah situasi baru daripada resah dan galau terhadap potensi ancamannya.

Bismillah, Ingatkan Karena Allah, laksanakan dengan kehati-hatian, selanjutnya serahkan dan bertawakal kepada-Nya. Insya Allah hasil terbaik menanti.

Sumber : Majalah An-Najah Edisi 121 Rubrik Renungan

Penulis : Ibnu

Editor : Helmi Alfian

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *