Menyoal Pujian: AJI Mampu Mengelola Isu Terorisme dengan Proporsional

teroris(an-najah.net) – Federasi Jurnalis Internasional (IFJ) menilai Aliansi Jurnalis Independen (AJI) telah berhasil menangani isu terorisme di Indonesia. Menurutnya, AJI telah mampu mengelola isu terorisme dengan proporsional. Hal ini diungkapkan ketua AJI Indonesia, Eko Maryadi. Menurutnya, media di Indonesia cukup proporsional dalam memberitakan masalah terorisme, termasuk menyediakan porsi yang cukup terhadap korban terorisme. (tempo.co./27/1/2013).

Benarkah media memberitakan secara proporsional kasus-kasus terorisme? Pertanyaan ini tentu mengemuka dengan adanya klaim AJI tersebut. Padahal selama ini, kita sering mendengar dalam masalah terorisme, media seakan seperti humas Polri. Mainstream berita pun hanya dari sudut pandang kepolisian. Hilang kekritisan terhadap data-data yang disodorkan kepolisian terhadap orang-orang yang diduga sebagai teroris.

Harits Abu Ulya, Direktur The Community of Indeological Islamic Analyst (CIIA) menganggap klaim AJI berlebihan bahkan cenderung mendramatisir. Menurutnya dalam pemberitaan, baik oleh media cetak maupun elektronik media tampak tidak proporsional dan bahkan melanggar kaidah-kaidah jurnalistik. Lebih jauh ia menyebut media telah menjadi corong propaganda untuk mengadili orang-orang yang terduga terorisme. Lebih lanjut ia menyebutnya telah terjadi trial by the press.

Sejalan dengan Direktur CIIA, ketua Aliansi Jurnalis Muslim Nusantara (AJIMUSA), Memet Slamet Urip menyatakan bahwa sikap kritis media dalam pemberitaan terorisme telah hilang.  Menurutnya, media selalu mengamini bukti-bukti yang disodorkan polisi serta tidak kritis terhadap kejanggalan-kejanggalan yang ada. Dengan halus ketua AJIMUSA ini menyindir bahwa media terlalu mengultuskan sumber kepolisian dalam kasus terorisme.

Dalam konteks kebebasan, media seharusnya tidak hanya menyajikan berbagai informasi atas hiruk-pikuk peristiwa yang terjadi. Lebih dari itu, media diharapkan mampu memberikan solusi atas berbagai persoalan masyarakat. Di sinilah sebenarnya peran media untuk mampu membatu mengatasi berbagai problem-problem yang ada di tengah-tengah masyarakat.

Sayangnya, media hari ini terjebak dalam kerangka industrialisasi dan kapitalisasi. Kepentingan industri lebih didahulukan daripada kepentingan masyarakat. Dari titik ini, idealisme jurnalis kadang melemah yang akhirnya bersifat pragmatis. Padahal, seorang jurnalis seharusnya profesional dalam memberitakan kebenaran dengan berani mengungkapkan fakta-fakta yang terjadi di lapangan.

Dalam masalah terorisme, tak jarang media melakukan penghakiman terhadap orang-orang yang diduga teroris. Baik dalam menampilkan gambar, video, maupun dalam penyebutan kata ‘teroris’ ketika baru ditangkap. Indikasi penghakiman ini diperparah dengan menampilkan judul-judul yang bombastis, ‘memburu teroris’, ‘membasmi teroris’,  dan sejenisnya.

Pertanyaan yang cukup menarik kepada para jurnalis, adakah media melakukan uji publik terhadap data-data kepolisian dalam setiap penangkapan terduga teroris? Atau media hanya sekedar sebagai humas Polri dalam masalah terorisme? Bagaimana dengan istri-istri terduga teroris yang tidak ada ruang yang cukup untuk bersuara di media? Lalu, bagaimana anak-anak mereka dan beban psikologis yang harus mereka tanggung?  Belum lagi pengucilan dan hukuman sosial di tengah-tengah masyarakat. Padahal, sudah sekian banyak orang-orang yang diduga teroris terbunuh tanpa ada uji publik terhadap data-data yang dilansir kepolisian. Di sinilah sebenarnya peran media dalam mengungkap kebenaran.

Jika kondisi seperti ini dianggap keberhasilan media, khususnya AJI dalam memberitakan masalah terorisme, jangan heran jika masyarakat tak peduli lagi dengan berita-berita tentang terorisme yang tak kunjung usai. Betapa mahalnya keadilan di negeri ini, walaupun terhadap media yang memegang prinsip cover both side. Dengan kata lain, media telah gagal memberikan solusi dalam mengatasi berbagai problem yang terjadi di tengah masyarakat, termasuk dalam masalah terorisme.

Redaksi: Khoir
Editor: Agus