Merapi

Merapi meletus lagi. Kedahsyatannya konon mengalahkan ledakan 1872. Ada yang mengkhawatirkan dahsyatnya ledakan, mirip zaman Mataram Kuno yang konon mampu menutup candi Borobudur dan Prambanan. Hari pertama meletus, tak banyak yang menyangka letusan bakal panjang dan terus-menerus. Kami sempat menanyakan ke penduduk Cangkringan saat masih aman dihari ke-2 setelah letusan: “Berapa hari sekolah diliburkan?” “Tiga hari..” jawabnya. Perangkat desa juga menyampaikan bahwa kejadian semacam ini biasa berlangsung selama sepekan.

Kamis 4 November 2010. Keadaan berubah ekstrim. Hujan Abu mengguyur Sleman, Muntilan dan sekitarnya. Malam Jum’at-nya, letusan dahsyat terjadi lagi. Pemerintah memutuskan untuk memperluas radius aman dari 10 KM menjadi 20 KM. Beberapa desa konon terlambat diberitahu untuk bergeser. Korban tewas mencapai 100 orang lebih, melebihi jumlah korban sebelumnya. Posko-posko dipindah ke Stadiun, kampus, dan ribuan lokasi lain yang berpencar-pencar. Daerah semacam Muntilan laksana kota mati. Listrik padam selama 6 hari. Pohon-pohon tumbang. Sebagian pohon tertunduk seolah sedang berdzikir kepada Rabb semesta. Toko-toko tutup. Jalan licin berabu dan berpasir membuat kendaraan mudah tergelincir. Jarak pandang hanya sekitar 5-10 meter. Suasana mencekam. Dan ternyata, ini bukan kiamat.

Banyak komentar dan sikap atas bencana ini. Tapi, menarik bagi saya untuk mengamati komentar dan sikap aktifis harakah. Ada yang mengatakan “ikon syirik itu telah tiada”. Ada yang “Ini adzab, selagi syirik kraton dipertahankan bencana akan datang.” Ada yang “Peringatan buat masyarakat Yogya yang penduduknya pada berzina.” Ada yang berkelakar semacam, “Gara-gara Abu Bakar Baasyir ditangkap, Abu Vulkanik unjuk rasa” . Ada yang “Ini memang SBY (Suka Bencana Ye..) yang tidak menerapkan syariat”.

Tentu kalimat-kalimat diatas diniatkan sebagai bahan muhasabah. Namun, ketika pesan-pesan semacam itu disampaikan dengan sarkastis atau pilihan diksi yang kurang pas; kadang pesan positifnya tidak bisa ditangkap melainkan arogansinya. Terlebih jika yang bersangkutan tidak hadir membantu di lokasi bencana. Bencana betapa pun akan bisa dilihat dari banyak dimensi. Ia bisa adzab bisa juga ujian. Kita sepakat bahwa bencana yang banyak menimpa negeri ini tak lepas dari teguran dari Allah Ta’ala. Banyak krisis aqidah dan moral di negeri ini. Kesyirikan dilembagakan oleh Negara. Kemungkaran dilindungi oleh Negara. Kedhaliman juga terjadi dimana-mana. Korupsi dan pencurian menjadi budaya.

Meski demikian, bencana juga menjadi ladang amal bagi banyak pihak. Bagi aktifis pergerakan, bencana bisa menjadi madrasah untuk mangasah banyak hal. Dunia ‘kedaruratan’ sangatlah dinamis. Banyak perkembangan di lapangan yang memerlukan inisiatif cepat, kreatif, dan tepat. Banyak hal tidak bisa didapatkan dari teori-teori buku. Dari sini kita belajar bagaimana ‘mengelola’ banyak hal; pengungi, logistik, air, sanitasi, kesehatan, tim work, sampai mentalitas dan ruhiyah. Kita juga bisa membangun koneksi dengan banyak elemen; mulai dari masyarakat korban, LSM, wartawan, tokoh masyarakat, hingga birokrat. Dan kita tidak sedang bersimulasi, tapi menghadapi pelajaran nyata yang mahal harganya.

Kita juga bisa belajar soal ‘daya tahan’. Sebab psikologi masyarakat biasanya terbawa euforia. Mensikapi bencana, banyak yang tejebak pada apa yang diistilahkan Dr Joserijal sebagai semangat ‘orgasme’; nikmat sesaat tapi kemudian hilang. Tidak banyak yang berfikir program recovery berjangka panjang, baik menyangkut fisik apalagi mental. Disini ‘ketahanan’ menjadi kunci. Sudah menjadi rahasia umum bahwa LSM missionaris biasanya memanfaatkan keletihan elemen Islam. Mereka masuk dengan program recovery permanen saat orang Islam kehabisan energi dan amunisi setelah sebelumnya berjibaku di fase tanggap darurat. Kita tentu tidak boleh mengulang kesalahan untuk kesekian kalinya.

Kita juga belajar ikhlas; dan berjuang untuk tetap ikhlas baik sebelum, ketika, dan setelah beramal, karena inilah barangkali modal utama yang dimiliki aktifis harakah. Karena jika kita beradu modal yang lain (selain ikhlas) dengan kelompok birokrat misalnya, atau politisi-politisi popular, jelas sulit menandingi mereka. Adalah maklum bahwa setiap tindakan dan kebijakan para birokrat atau politisi, tak bisa dilepaskan dari kepentigan popularitas dan tugas. Hal ini tentu berbeda dengan para relawan yang tak digaji dan siap resiko dalam segala kondisi. Saat Presiden datang ke Merapi, memang terlihat makan nasi ransum, tetapi menurut seorang relawan Muhammadiyah, semua sudah disiapkan alias bukan nasi ransum biasa. Bahkan menu di areal pengungsian itu, berubah sejak dua hari menjelang kunjungan plus disewakan kasur. Dari sini ada hal menarik, bahwa kalangan aktifis yang menggariskan jalan perjuangannya untuk ‘melawan penguasa’ harusnya lebih confidence karena secara mental Insya Allah mereka lebih unggul.

Kita juga berlatih menyalurkan amanat ummat; berusaha menjadi tim yang patut dipercaya, kita hanyalah fasilitator yang dipercaya ummat untuk menyalurkan bantuan, tidak boleh dikorupsi, dikentit, atau di mark-up. Kita bersyukur, sebagai aktifis, kita tidak banyak mengenal budaya semacam itu, bahkan jika perlu kita urun bensin sendiri, konsumsi sendiri, dan mandi sendiriJ. Ini tentu berbeda dengan mental birokrat yang ‘mroyek’ sehingga sering memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Di deerah Sawangan bahkan ada istilah 40:60. Maksudnya jika kita mengajukan bantuan ke jalur birokrat, maka bagian mereka adalah 40 % dan yang dicairkan hanya 60 %. Kami sempat kedatangan tamu seorang relawan dari Maroko yang secara ‘swasta’ ditugaskan oleh kedutaannya. Ia mengeluhkan bantuan dari negaranya yang dijual oleh oknum birokrat. Itu yang membuat ia diminta terjun ke lapangan, dan sselanjutnya berinisiatif mencari aktifis-aktifis Islam yang amanah, agar bantuan bisa dipastikan sampai. Jadi sekali lagi, nampaknya mental aktifis lebih unggul dari birokrat.

Kita juga bisa belajar mendengar keluhan masyarakat dan kawulo alit, karena musibah membuat kestabilan jiwa mengalami gangguan. Dan ‘seni mendengar’, ternyata adalah media dakwah yang lebih efektif daripada ‘pidato’. Dan aktifis, karena sibghah-nya adalah Qur’an-Sunnah, bukan dangdut atau lawakan, maka tentu pancarannya adalah nilai-nilai islam, dan itulah obat sejati yang selaras dengan firah manusia. Bukankah Islam adalah agama fitrah yang paling mengerti hajat spiritual manusia? Dan inilah pintu masuk paling baik untuk mendidik mereka yang banyak divonis sebagai masyarakat klenik. Saatnya kita meluruskan jalan hidup dengan pendeketan yang simpatik. Kita berharap mereka semakin paham Islam, hingga kelak menjadi bagian dari pejuang-pejuang Islam.

Terakhir dan yang paling penting untuk diingat: Kita memang tidak terkena Abu atau Ibnu Wedus Gembel, tapi bukan berarti kita bebas dari sebutan korban bencana. Bukankah ada bencana yang bersifat maknawi? Dr. Najih Ibrahim dalam risalah ila kulli man ya’malil Islam mengutip riwayat Israiliyyat, ada beberapa orang pendeta Bani Israel bermimpi melihat Rabbnya, ia berkata, “Duhai Rabbku, betapa aku telah banyak bermaksiat kepada Mu tetapi Engkau tidak pernah memberikan hukuman atas semua itu?” Rabb-nya menjawab, “Betapa banyak Aku memberikan hukuman kepadamu, tapi kamu tidak pernah tahu. Bukankah aku telah menghalangimu dari merasakan manisnya bermunajat kepada-Ku?”.