Merdeka, Sudahkah?

id-r

Bulan Agustus ini bangsa Indonesia merayakan kemerdekaan. Sebuah status yang diraih setelah 350 tahun dijajah Belanda, selama beberapa tahun oleh Inggris, dan 3,5 tahun oleh Jepang. Pesta pora dan sukaria selalu mengiringi perayaan kemerdekaan. Namun merenungkan kembali makna kemerdekaan sangat penting untuk dilakukan.

Merdeka dalam Islam bukan sekedar bebas dari penjajahan bangsa lain. Apalagi sekedar melepas diri dari mulut harimau masuk ke mulut buaya. Lepas dari satu penjajah untuk dikungkung lagi oleh penjajah lainnya. Atau lepas dari penjajahan fisik tapi berlanjut dalam penjajahan ekonomi.

Kemerdekaan dalam Islam adalah terbebas dari perbudakan terhadap manusia lain menuju penghambaan kepada Allah semata. Gambaran Islam tentang kemerdekaan hakiki terlukis dalam kalimat indah seorang Rib’i bin Amir. Sahabat yang turut serta dalam perang Qadisiyah melawan Persia. Saat itu pasukan Islam yang berjumlah 30.000 personil di bawah komando sahabat Saad bin Abi Waqqash menghadapi pasukan Persia yang berjumlah 200000 personil. Di sela peperangan, Rustum, panglima perang Persia meminta agar umat Islam mengutus seseorang untuk berunding dengannya. Memenuhi permintaan ini, diutuslah Rib’i bin Amir. Ia pun berangkat menunggang seekor kuda yang pendek dilengkapi dengan pedang dan tombak

Di kamp pasukan Persia, Rib’i menuju tenda Rustum yang dihiasi Permadani dan perhiasan emas sutra permata intan berlian dan hiasan indah lainnya. Rustum mengenakan mahkota dan duduk di atas kursi yang terbuat dari emas

Namun Rib’i tak jadi keder atau pun minder pada lawan yang begitu megah. Ia menunggangi kudanya hingga mengijak permadani tenda Rustum. Selanjutnya ia turun dan menambatkan kudanya dibeberapa bantal sandaran yang ada di tenda Rustum. Ia maju menghadap ke Rustum dengan tetap menentang pedangnya. Pengawal Rustum pun menghardiknya dan hendak melucuti senjatanya

Rib’i menanggapi hardikan itu, “Bukan aku yang meminta datang ke tempat ini. Tetapi kalian yang mengundangku untuk datang. Bila kalian tidak suka dengan caraku ini maka aku akan kembali.”

Mendengar perdebatan ini Rustum memerintahkan pengawalnya membiarkan Rib’i masuk. Rustum kemudian bertanya kepada Rib’i, ”Apa tujuan kalian datang kemari?” Rib’i menjawab Kami datang untuk membebaskan umat manusia dari perbudakan kepada sesama manusia menuju penghambaan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala Semata, dari himpitan hidup dunia kepada kelapangan hidup di dunia dan akhirat, dari penindasan tokoh-tokoh agama ke dalam naungan keadilan agama Islam. Allah mengutus kami untuk menyebarkan agamanya kepada seluruh umat manusia. Barangsiapa yang menerima seruan kami maka kami menerima keputusannya itu, dan kami pun segera kembali ke negeri kami. Sedangkan orang yang enggan menerima seruan kami maka kami akan memeranginya hingga kami berhasil mencapai janji Allah.”

Rustum kembali bertanya, “Apa janji Allah untuk kalian?” Rib’i menjawab, “Orang yang gugur dalam perjuangan ini akan mendapatkan surga, dan kejayaan bagi yang selamat.” (Al Bidayah wan Nihayah, Ibnu Katsir, 7/46-47).

Inilah kemenangan yang Hakiki menurut Islam. Parameter rincinya umat Islam belum merdeka jika lima perlindungan dasar syariatnya terjaga. Konsep yang dikenal sebagai “Dhoruriyyatul Khomsah,” Melindungi lima hal dasar dalam perlindungan manusia.

  1. Mengamalkan Dien

Perlindungan pertama adalah terhadap Din. Jika umat Islam bebas mengamalkan seluruh syariatnya dalam kehidupan, mereka telah merdeka. Namun jika ada syariatnya yang dikekang dan dikalahkan oleh hukum buatan manusia, meskipun satu saja kemerdekaan belum dimiliki oleh umat ini.

Umat Islam yang tinggal di negeri yang tidak menerapkan syariat Islam dalam kehidupannya, sejatinya belum merdeka. Mereka wajib memperjuangkan kemerdekaan, mengamalkan syariat Islam ini hingga terwujud. Atau merdeka mati menjadi Syuhada inilah hakikat kemerdekaan tertinggi. Semboyang mereka adalah merdeka atau mati.

  1. Melindungi Nyawa

Perlindungan kedua adalah terhadap nyawa manusia. Ini sangat jelas, bagaimana bisa dikatakan merdeka jika selembar nyawa saja tak terlindungi. Inilah sebabnya syariat Islam memberikan hukum berat Qishash atau Diat yang sangat mahal kepada pembunuh.

Pembantaian masih berlangsung terhadap muslim di seluruh dunia. Palestina yang dijajah Israel, Irak dan Afghanistan yang invasi Amerika. Serta negeri-negeri muslim yang dikuasai para thogut, budak kafir. Terakhir adalah pembantaian di Suriah yang memilukan hati. semuanya menunjukkan bahwa umat ini belum merdeka.

  1. Melindungi Akal

Perlindungan ketiga syariat Islam ditunjukkan dilindungi akal dari hal-hal yang merusaknya. Ini lah hikmah dibalik pengharaman khamr, minuman keras dan segala zat yang memabukkan dan menghilangkan kewarasan akal manusia. Kenyataan hari ini menunjukkan generasi umat Islam semakin dekat dengan alkohol. Bahkan toko warung dan minimarket-minimarket memajangnya secara terbuka. Seolah itu perkara halal yang sah untuk dinikmati. pabrik Komar terus beroperasi iklannya bertebaran di jalanan dan media basah

  1. Melindungi harta

Perlindungan Islam yang keempat adalah terhadap harta. Syariat menimpakan hukum potong tangan terhadap pencuri yang melampaui nisob seperempat Dinar emas atau 3 dirham perak. Hari ini bangsa ini begitu geram dengan pencurian harta negara oleh koruptor. Namun alih-alih kembali kepada syariat Islam memotong tangan pencuri malah muncul wacana menghukum mereka sebagaimana aturan hukum atheis China. Di sini banyak pihak ini menuntut koruptor dihukum mati.

Nyatanya sampai hari ini korupsi masih terus berlanjut di China. Lain halnya jika ada hukuman potong tangan yang menjelaskan dan memalukan pelakunya seumur hidup. Insya Allah orang akan takut mencuri dan korupsi.

  1. Perlindungan Keturunan

Perlindungan kelima adalah terhadap keturunan atau kehormatan. inilah hikmah dibalik hukum berat bagi pezina berupa cambuk atau rajam dan penuduh zina tanpa bukti. Keturunan dijaga agar jelas nasab dan hubungan waris kehormatan juga dijaga agar orang tak seenaknya mencemarkan harga ciri orang lain.

[2:39 PM, 8/18/2016] +62 853-3792-8319: Hari ini syariat Islam ditinggalkan akibatnya masyarakat perusak hamil diluar nikah aborsi dan pembuangan bayi terjadi setiap hari sementara kehormatan manusia begitu murah tuduhan zina begitu mudah dilemparkan tanpa konsekuensi dan sanksi jelas kemerdekaan dalam urusan yang satu ini juga belum terlindungi

Syari’at Islam Syarat kemerdekaan

Tidak kemerdekaan hakiki bagi umat Islam tanpa penegakan sehari. Artinya dalam kehidupan sehari-hari menghalangi tegaknya syariat karena ketakutan kepada manusia, takut NKRI bubar, takut dicela dunia internasional, takut diinvasi Amerika, adalah bukti bahwa bangsa ini belum merdeka. Bangsa dan umat ini akan menemukan kemerdekaan hakiki dengan cara meninggalkan penghambaan kepada manusia, kemudian mengalihkannya menjadi penghambaan sepenuhnya kepada Allah Azza wa Jalla. Caranya dengan menegakkan syariat Nya di muka bumi selama itu belum terlaksana maka sebenarnya kita belum merdeka. (Ibnu_)

Diambil dari majalah An-Najah edisi 83 Agustus 2012 halaman 1113.

Editor: Sahlan Ahmad