Mereka Memang Thaghut

Hari ini, dalam perang melawan terorisme yang dikomandani Amerika, mereka yang dituduh teroris dan diperangi adalah para mujahid dan aktifis Islam. Sebaliknya, mereka yang membantu Amerika memerangi Islam dan kaum Muslimin mendapat cap jelek menurut standar Al-Quran, yaitu sebagai thaghut.

Beragam tulisan pun muncul membongkar kesesuaian para thaghut pembatu Amerika itu. Antara lain ditulis Syaikh Abu Basyir al-Thartusi di luar negeri dan Ustadz Aman Abdurrahman di Indonesia. Tulisan tentang thaghut disambut hangat oleh para aktifis Islam. Karya yang menelanjangi para thagut pengikut Amerika itu dianggap sebagai karya ilmiah yang jujur dalam mendefenisikan thaghut dan bebas dari tekanan atau kepentingan duniawi.

Agaknya tudingan thaghut itu membuat para pembantu Amerika gerah. Mereka yang menikmati kucuran dolar Amerika asal mau memerangi Islam dan kaum Muslimin takut juga disebut thaghut. Namun, agaknya hal itu lebih karena takut bercitra jelek di hadapan publik Muslim. Bukan karena takut dengan konsekuensi menjadi thaghut di hadapan Allah Swt.

Tak heran, saat terpidana kasus terorisme Medan, Khoirul Gozali, menulis buku berjudul “Mereka Bukan Thaghut,” buku itu mendapat sambutan meriah para pendukung Amerika. Buku yang dibedah di hotel mewah dan disponsori BNPT itu agaknya menjadi penghibur hati. Ada juga pembelaan terhadap mereka yang dituduh thaghut.

Kenapa Harus Thaghut?

Para pendukung Amerika pantas gerah disebut thaghut. Dalam aqidah Islam, salah satu syarat sah keimanan adalah mengingkari thaghut (al-kufru bit thaghut). Inilah salah satu alasan kenapa istilah thaghut harus diperjelas, agar jelas yang siapa yang harus diingkari. Karena dengan mengingkarinya keimanan menjadi suci dan sah di sisi Allah swt.

Banyak rujukan dalil yang menjadi dasar keyakinan ini, salah satunya firman Allah swt dalam Surat Al-Baqarah ayat 256:

فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى لَا انْفِصَامَ لَهَا

Artinya, “Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus.”

Kandungan ayat ini menegaskan bahwa barangsiapa yang beriman kepada Allah swt namun tidak mengingkari thaghut, atau hanya mengingkari thaghut namun tidak beriman kepada Allah swt maka ia belum berpegang teguh dengan al-urwah al-wutsqo. Belum bersyahadat dan beriman. Karena, al-urwah al-wutsqo maknanya adalah al-iman atau Laa Ilaha Illallah. (Ibnu Katsier, 1/684)

Dalam menafsirkan ayat ini, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab berkomentar, “Ketahuilah bahwa seorang manusia tidak dianggap beriman kecuali dengan mengingkari thaghut. Dalilnya adalah ayat ini –al-Baqarah: 256-“ (Al-Wala’ wal Baro’, hlm. 27)

Dalam hadits riwayat Muslim, Rasulullah saw menegaskan urgensi mengingkari thaghut.

مَنْ قَالَ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَكَفَرَ بِمَا يُعْبَدُ مِنْ دُونِ اللَّهِ، حَرُمَ مَالُهُ، وَدَمُهُ، وَحِسَابُهُ عَلَى اللَّهِ

Artinya, “Siapa saja yang mengucapkan kaliamat láiláha illáh dan mengingkari segala sesuatu yang diibadahi selain Allah swt maka harta dan darahnya haram ditumpahkan, dan Allah-lah yang akan menghisabnya.”

Inti Dakwah Para Rasul

Bahkan bukan sekedar diyakini sebagai syarat sah iman, menjauhi thaghut dan mengingkarinya adalah inti dakwah para rasul. Sejak rasul pertama Nuh As hingga rasul terakhir Muhammad saw, semuanya mendakwahkan dua pokok Islam, yaitu iman kepada Allah dan menjauhi thaghut.

Allah swt menegaskan dakwah para rasul ini dalam surat An-Nahl:36

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

Artinya, “Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut.”

Dalam ayat ini Allah swt menegaskan bahwa intisari dakwah para rasul adalah mengajak manusia agar beriman hanya kepada Allah dan menjauhi serta mengingkari para thaghut. Iman kepada Allah dengan iman kepada thaghut tidak akan bersatu dalam hati seseorang. Sebagaimana sabda Rasulullah saw

لَا يَجْتَمِعُ اْلإِيْمَانُ وَالْكُفْرُ فِيْ قَلْبِ وَاحِدٍ

“Iman dan kufur tidak akan bersatu dalam hati seseorang.” (Silsilah Shahihah: 1050)

Siapakah Thaghut ?

Secara bahasa thaghut dimaknai dengan tindakan melampaui batas atau berlebih-lebihan dalam kemaksiatan, (Mukhtar Shihah/403). Sebagaimana firman Allah swt,

إِنَّا لَمَّا طَغَى الْمَاءُ حَمَلْنَاكُمْ فِي الْجَارِيَةِ

“Sesungguhnya tatkala air telah naik (sampai ke gunung) Kami bawa (nenek moyang) kamu, ke dalam bahtera,” (Al-Haqqah:11)

“Thagha” dalam ayat diatas adalah banyak dan meluap, melampaui batas biasanya serta melebihi muatan sungai sehingga terjadi banjir.

Dalam ayat lain Allah swt menegaskan,

فَأَمَّا مَنْ طَغَى وَآَثَرَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا فَإِنَّ الْجَحِيمَ هِيَ الْمَأْوَى

“Adapun orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal(nya).” (An-Nazi’at: 37-39)

Ibnu Katsier dan mufassir lainnya menafsirkan kata “thagha” dalam ayat tersebut dengan “تَمَرَّدَ وَعتَا” yaitu melampaui batas dan berlaku sewenang-wenang, (Ibnu Katsier 8/317).

Ketika mendefenisikan thaghut para ulama berbeda-beda ungkapannya. Hanya saja, perbedaan tersebut hanya ikhtilaf tanawwu’ –perbedaan lafadz yang masih bisa dikompromikan.

Ibnu Jarir Ath-Thabary rhm berkata, “Menurutku definisi yang tepat untuk istilah thaghut adalah, ‘setiap yang melampaui batas terhadap (aturan) Allah, ia menjadi sesembahan selain Allah, baik dengan cara ia memaksa orang untuk beribadah kepadanya, atau karena ketaatan –suka rela- dari penyembahnya, sesembahan (thaghut) itu berbentuk manusia, setan, patung atau selainnya.” (Ath-Thabary, 3/21)

Al-Qurthubi rhm, “Thaghut adalah tukang tenung, setan dan setiap pemimpin kesesatan.” (Al-Jami’, 3/282). Sedangkan Imam An-Nawawi, seorang tokoh Madzhab Syafi’i berkata, “Al-Laits, Abu Ubaidah, Al-Kassa’i dan mayoritas ahli bahasa mengatakan bahwa thaghut adalah setiap sesuatu yang diibadahi oleh orang selain Allah swt.” (Syarh Shahih Muslim, 3/832 )

Ibnu Taimiyah rhm mengungkapkan makna thaghut lebih terperinci, (Majmu, 28/200), “Setiap yang diibadahi (disembah) selain Allah swt dan ia rela untuk diibadahi, maka ia adalah thaghut. Oleh karena itu Nabi Muhammad saw menyebut berhala-berhala sebagai thaghut, dalam sebuah hadits shahih beliau saw bersabda,

وَيَتَّبِعُ مَنْ كَانَ يَعْبُدُ الطَّوَاغِيتَ الطَّوَاغِيتَ

“Dan orang-orang yang menyembah thaghut akan mengikuti thaghut.”

Thaghut ditaati dalam kemaksiatan kepada Allah, bukan dalam kebenaran serta dinul haq. Karenanya Allah swt menyebut setiap pemimpin yang dijadikan rujukan dalam berhukum padahal ia menyimpang dari kitabullah dengan sebutan thaghut. Pun berangkat dari definisi ini, Fir’aun dan Kaum ‘Aad di sebut thaghut.”

Syaikul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab, salah seorang ulama yang berjasa dalam menjaga kelurusan tauhid umat Islam, berkata, “Thaghut adalah istilah yang umum mencakup segala sesuatu yang diibadahi selain Allah swt. Maka, setiap yang diibadahi selain Allah swt dan ia rela diibadahi, baik itu yang disembah, diikuti, maupun ditaati bukan dalam rangka ketaatan kepada Allah swt maka ia adalah thaghut.”(Ad-Durar, 1/161)

Pengertian thaghut yang dikemukakan oleh Syaikh Ibnu Taimiyah dan Muhammad bin Abdul Wahhab mengecualikan para nabi dan orang-orang shaleh yang dikultuskan dari definisi thaghut. Nabi Isa as, misalnya, walau beliau disembah oleh Kaum Nasrani beliau tidak bisa disebut thaghut karena beliau tidak pernah ridha untuk diibadahi.

Demikian juga Ali, Fathimah, Hasan dan Husain yang diibadahi oleh orang-orang Syi’ah. Atau Syaikh Abdul Qadir Jaelani yang dikultuskan oleh orang-orang Tarekat juga tidak boleh disebut thaghut, karena mereka tidak pernah meridhai pengkultusan ini.

Mereka Memang Thaghut

Masih banyak definisi yang dikemukakan oleh para ulama, namun pada intinya semuanya sama. Dalam kitab “ Thaghut”, Syaikh Abu Basyir al-Thartusi memaparkan pendapat-pendapat para ulama mengenai thaghut, baik ulama salaf maupun kontemporer, lalu beliau menyimpulkan,

“Thaghut adalah segala sesuatu yang diibadahi selain Allah –dan ia rela untuk diibadahi- walau dalam diibadahi dalam lingkup ibadah yang terkecil; siapa yang diibadahi dari sisi cinta, al-wala’ wal bara’, maka dia adalah thaghut. Siapa yang diibadahi dari sisi ketaatan, ittiba’, atau hukum maka ia adalah thaghut. Siapa yang diibadai dari sisi do’a, khasyyah, nadzar, sembelihan maka dia adalah thaghut. Termasuk orang yang mengklaim kekhususan yang dimiliki oleh Allah swt maka ia thaghut.

Termasuk dalam pengertian thaghut adalah aturan, undang-undang, dan ketentuan-ketentuan yang bertentangan dengan syari’at Allah. Pun pemimpin kekufuran, kesesatan dan kejahatan adalah thaghut.”

“Jadi” ungkap Syaikh Utsaimin, “setiap benda mati yang disembah selain Allah maka dia adalah thaghut. Setiap ulama suu’ yang mengajak kepada kekufuran, kesesatan, kebid’ahan, penghalalan sesuatu yang diharamkan oleh Allah swt atau pengharaman sesuatu yang dihalalkan oleh Allah, menghasung pemerintah untuk keluar dari dari syari’at Islam maka ia adalah thaghut. Karena mereka semua telah melampaui batas.”

Dari pembahasan di atas jelas. Para penguasa yang berhukum dengan hukum sekuler, menyingkirkan syariat Islam dan mentaati Amerika dalam memerangi kaum Muslimin adalah thaghut. Tak ada keraguan lagi bahwa mereka memang thaghut. *(Akrom)