Browse By

Mewaspadai Metamorfosis Ideologi Komunisme

Bahaya Laten Komunisme Gaya Baru

Bahaya Laten Komunisme Gaya Baru

An-najah.net – Banyak orang menyangka PKI telah terkubur bersamaan dengan keluarnya TAP MPRS No. XXV/1966, yang menetapkan bahwa PKI dan organisasi bawahannya adalah partai terlarang. Padahal fakta membuktikan, orang-orang PKI dan keturunannya masih ada. Mereka bergerilya memperjuangkan ideologinya.

Komunisme belum mati. Ibarat ilalang, setiap kali dibabat, ia tetap saja tumbuh. Pertama kali yang harus kita pahami bahwa komunisme adalah sebuah ideologi. Pengusung ideologi ini selalu berusaha untuk menyebarkan pemahaman mereka.

Mari kita melihat sejarah pemberontakan PKI. Sejak tahun 1926, 1948, 1965 mereka telah melakukan pembantaian kepada umat Islam. Pada Tahun 1948 Muso mendirikan Republik Madiun Soviet. Kemudian mereka melakukan pemberontakan di berbagai wilayah Indonesia.  Pada saat itu Soekarno sebagai presiden Republik Indonesia memaafkan kepada mereka.

Pada tahun 1955 PKI mengikuti pemilu dan berhasil meraih suara yang signifikan yaitu nomor 2 terbanyak setelah TNI. Ini menjadi bukti bahwa PKI adalah organisasi yang sangat kuat karena memiliki basis massa yang banyak.

Pada tahun 1965 PKI kembali melakukan pemberontakan. Terlepas dari isu kontroversional apakah pemberontakan PKI murni didalangi oleh orang-orang PKI atau merupakan sebuah permainan intelijen. Namun yang jelas orang-orang PKI pada saat itu membantai kaum muslimin.

Revitalisasi PKI

Ketika kita melihat berbagai keberhasilan di dalam menumpas pemberontakan yang dilakukan oleh PKI.  Kemudian dikeluarkan TAP MPRS No. XXV/1966. Yang menetapkan bahwa PKI dan organisasi bawahannya adalah partai terlarang.

Menurut saya setelah tahun 1965, PKI melakukan diaspora. Mereka menyembunyikan identitas PKI dari diri mereka. Pemikiran sosialis maupun lambang-lambangnya, mereka hilangkan dari diri mereka. Kemudian mereka menyusup kemana-mana. Ini menunjukkan bahwa PKI adalah sebuah organisasi yang tidak pernah mati.

Memang secara politis maupun yuridis PKI telah tiada, namun secara pemikiran dan ideologi PKI tidak pernah mati.

Pada 1965, banyak kader PKI yang ditangkap. Namun, jumlah mereka sangat-sangat sedikit bila dibandingkan dengan jumlah keseluruhan mereka. Bila dibandingkan dengan jumlah suara yang diperoleh pada pemilu tahun 1955, ini berarti jumlah mereka lebih banyak lagi yang belum tertangkap.

Walaupun kita mengakui bahwa diantara mereka ada juga yang telah sadar. Namun satu hal yang harus kita garis bawahi bahwa setiap ideologi menghajatkan untuk meraih kekuasaan apapun ideologinya. Karena dengan kekuasaan itulah sebuah ideologi dapat menerapkan idealismenya.

Kita masih ingat kejadian tahun 1998. Banyak “orang-orang bawah” yang digerakan oleh orang-orang kiri-PKI. Pasca reformasi tepatnya beberapa tahun sebelum dibentuknya pasukan khusus Densus 88. Umat Islam mulai ditekan oleh pihak-pihak tertentu. Pada saat itu, saya sendiri sempat berbicara dengan beberapa perwira Polri; kenapa hari ini yang dijadikan bidikan hanya kelompok-kelompok dari umat Islam?, Kenapa kelompok kiri juga tidak dijadikan bidikan atau diperhatikan perkembangannya.?

Sebuah pergerakan itu selama mereka masih memegang teguh pada prinsip-prinsip ideologinya, memiliki kader-kader, dan logistik yang cukup maka selama itulah mereka akan terus eksis, mereka melakukan revitalisasi.

Pengembangan ideologi pada saat itu, di kampus-kampus, dan dimanapun bacaan mengenai komunisme menjadi sesuatu yang biasa. Apalagi sekarang. Dengan demikian transfer ideologi meskipun dilakukan secara nonformal, transfer ideologi secara tidak langsung juga merupakan bagian dari pengkaderan dan rekrutmen.

Secara logistik PKI bukanlah organisasi yang kekurangan. Mereka memiliki banyak uang berapa kompensasi yang didapatkan oleh orang-orang kiri.  Setelah PKI berdiaspora mereka mengembangkan potensi mereka masing-masing. Sehingga mereka mempunyai keahlian dalam bidang masing-masing.

Perang Ideologi

Perang ideologi tidak sama dengan perang senjata. Perang ideologi untuk mengangkat dan memperkenalkan ideologi. Mereka tidak harus memuji ideologi mereka tapi dengan menjatuhkan ideologi lawan, maka orang-orang akan melihat bahwa merekalah pemilik ideologi terbaik.

Saya adalah orang yang anti terhadap korupsi. Tapi saya sangat tidak suka dengan ketidakadilan dalam penegakan hukum. Contoh kasus misalnya kenapa kebanyakan yang dibidik oleh KPK adalah dari orang-orang Islam yang mungkin kadarnya tidak sebesar kasus korupsi yang dilakukan oleh orang-orang non muslim dan jumlahnya jauh lebih besar.

Kasus-kasus itu tidak pernah disentuh seperti kasus BLBI yang mencapai 700 triliun. Kenapa tidak pernah diusut kredit macet yang dilakukan oleh orang-orang Cina. Kredit macet jika dilakukan dengan kesengajaan maka itu merupakan sebuah tindak pidana korupsi.

Selama mereka masih belum memiliki kekuatan. Cara yang mereka lakukan hari ini adalah dengan cara soft. Namun, suatu saat nanti, untuk menegakkan ideologinya, mereka pasti akan menggunakan kekerasan untuk meraih kekuasaan.

Kalau saat ini mereka berusaha meminta pemerintah untuk meminta maaf kepada PKI di peristiwa 65. Ini juga merupakan bagian dari perang ideologi.

Kalau negara yang ingin meminta maaf pada korban kemanusiaan pada saat itu -jika bahasa mereka itu adalah korban- maka tentu ada orang yang berbuat salah terhadap mereka.

Jika mereka adalah korban pasti ada pelakunya, siapa pelakunya. Sehingga mereka Dianggap mereka benar. Akhirnya yang disalahkan siapa, mereka adalah TNI dan umat Islam. Inilah merupakan bagian dari perang ideologi. Padahal yang melakukan penghianatan adalah PKI, tidak mungkin negara meminta maaf kepada penghianat.

Oleh karena itu, untuk meredam laju pergerakan PKI. Umat Islam harus melakukan beberapa langkah. Pertama: umat ini harus dipahamkan tentang bahaya ideologi PKI, kekejaman PKI di masa lalu. Pemberontakan dan pengkhianatan yang mereka lakukan semua telah dijelaskan kepada umat dan kita Jelaskan bahwa ideologi mereka dibangun di atas darah kaum muslimin.

Kedua: mendokumentasikan kejahatan mereka lewat berbagai media. Terutama media cetak karena tulisan sifatnya awet dan bisa dikonsumsi oleh semua kalangan jadi akan menjadi rujukan.

Sumber : Majalah An-najah Edisi Khusus 130 Hal 10 – 12

Saduran dari wawancara dengan MS. Kalono SH. MSi (Advokat dan Pendiri Forum Komunikasi Aktifis Masjid – FKAM)

Penulis : Sahlan/Anwar

Editor : Anwar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *