Miftahul Jannah, Jilbabmu Mengantarkanmu ke Makkah

miftahul jannah jilbab
miftahul jannah jilbab

An-Najah.net – Rezeki itu bisa datang tidak disangka-sangka. Bisa menunaikan ibadah di Baitullah, Makkah al Mukarramah merupakan suatu kenikmatan. Apalagi bisa mengumrahkan kedua orang tua. Karena berkat jasa mereka kita berada didunia ini. Belum lagi ridha Allah terdapat pada ridha orang tua.

Rezeki itu diperoleh Miftahul Jannah, seorang atlet Blind Judo dari Aceh, propinsi yang dikenal sebagai serambi Makkah. Kenikmatan itu diperolehnya berkat komitmennya kepada syari’at Allah Swt, khususnya adalah jilbab.

Ketika bertanding di Asia Para Games 2018, ia menolak untuk membuka jilbab. Ia tetap memegang pada prinsip tidak akan membuka jilbab. Meskipun bujukan terus dialamatkan kepadanya.

Penanggung jawab tim para-judo Indonesia, Ahmad Bahar, mengaku pihaknya sudah mencoba berbagai cara untuk membujuk Miftahul Jannah agar melepas hijabnya ketika bertanding di  Asia Para Games 2018. Namun, pejudo putri asal Aceh itu tetap pada pendiriannya untuk tidak melepas hijab dan memilih mundur dari pertandingan.

Ahmad Bahar mengaku sudah mencoba berbagai cara untuk membujuk Miftahul Jannah melepaskan jilbabnya. Bujukan orang tua hingga psikiater tetap tak mampu meluluhkan keputusan Miftahul Jannah.

“Kami sudah mengusahakan untuk mendatangkan orang tuanya dari Aceh dan itu arahan dari Cdm (kepala kontingen) langsung. Kami juga sudah memberikan psikiater, akan tetapi atletnya juga sudah tidak mau,” ujar Ahmad Bahar.

Sungguh Miftahul Jannah telah mengajarkan tidak ada ketaatan kepada makhluk, ketika perintah itu memaksiati kepada Allah swt. Memakai jilbab bagi seorang muslimah itu merupakan kewajiban. Sedangkan melepasnya ketika dalam pertandingan itu merupakan sebuah kemaksiatan.

Karena betapa banyak para wanita demi prestasi dunia, mereka rela mengorbankan prinsip. Namun engkau demi prinsip engkau korbankan prestasimu.

Akan tetapi ketika seorang muslim itu meninggalkan sesuatu itu karena Allah. Rasulullah Saw memberikan motivasi Allah Swt akan menggantikannya yang lebih baik.

Atlet Terkuat di mata Rasulullah Saw

Ketika kita ditanya siapakah orang yang paling kuat itu? Tentu secara umum manusia akan mengatakan si A, Si B, Si C dan Si D. Akan tetapi ternyata orang yang paling kuat menurut Rasulullah Saw adalah orang yang mampu menggalahkan nafsunya.

Rasulullah Saw bersabda :

 

“لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ“

 “Orang yang kuat bukanlah jago gulat, namun orang yang kuat adalah yang mampu menahan diri manakala marah”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Sungguh mulia apa yang telah dilakukan Miftahul Jannah.Ia mengaku sempat menangis tapi lega setelah memutuskan tetap tak mau melepas jilbabnya. Menurutnya, itu adalah keputusan terbaik.

“Saya juga bangga karena sudah bisa melawan diri sendiri, melawan ego sendiri. Saya punya prinsip tak mau dipandang terbaik di mata dunia, tapi di mata Allah,” katanya.

Mistahul Jannah potret wanita kuat dalam arti mampu mengalahkan nafsu untuk tetap tunduk mengikuti wahyu. Meskipun bujukan dan rayuan terus datang, engkau tetap komitmet menolak melepas jilbabmu. Meskipun berkonsekuensi didiskualifikasi dari pertandingan.

Apa yang terjadi dimuka bumi ini tentu ada hikmah. Bisa jadi ada suatu hal yang kamu benci, tidak sesuai dengan hawa nafsu. Akan tetapi itu adalah kebaikan bagi kamu.

Atau juga bisa jadi suatu hal yang kamu cintai karena nafsumu, akan tetapi itu adalah keburukan bagi kamu. Maka sudah menjadi keharusan bagi seorang muslim atau muslimah senantiasa mengikuti apa yang dimaui Allah lewat syari’atnya. Allah Swt mengetahui mana yang terbaik untuk kita.

Hikmah dibalik Komitmenmu

Komitmen kepada syari’at di zaman akhir tidaklah mudah. Halangan dan rintangan terus menghadang. Bahkan Rasulullah Saw mengibaratkan seperti orang yang memegang bara api.

Mereka dikenal sebagai ghuraba’ (orang-orang yang asing). Siapakah mereka itu, mereka adalah orang yang senantiasa mengadakan ishlah, perbaikan berusaha tetap komitmen kepada syari’at ditengah zaman itu banyak orang-orang yang meninggalkannya.

Komitmen kepada syari’at adalah bukti ketaqwaan. Ketaqwaan itu merupakan kunci solusi dari segala permasalahan. Bahkan Allah Swt menjanjikan akan memberikan rezeki yang datang dari arah yang tidak disangka-sangka.

Rezeki yang tidak disangka-sangka bisa umrah bersama orang tua itulah yang diperoleh Miftahul Jannah. Tiket umrah mereka dibiayai oleh Ust. Ade hidayat LC. MA.

Bahkan Miftahul Jannah mendapatkan pujian dari ust ade. “Engkau adalah atlet akhirat, bukan hanya atlet dunia” ungkapnya.

Ia menambahkan pertandingan yang paling hebat itu, bukan memenangkan dalam yudo. Akan tetapi kemenangan hebat itu, ketika engkau mampu menggalahkan hawa nafsumu.

Ust Ade mengingatkan Jilbabmu mungkin tidak bisa memasuki pertandingan Yudo, akan tetapi dengan jilbab itu engkau akan bisa menyaksikan Kakbah dan melakukan ritual ibadah-ibadah lainnya.

“Selamat jilbab itulah yang mengantarkan engkau kemakkah, bukan yang lain.” Pungkasnya.

Wahai para muslimah bersegeralah berjilbab, jangan sampai menunggu kematianmu. Ketika engkau mati baru dipakaikan jilbab. Akan tetapi, bersegeralah untuk berjilbab sebagai bukti akan ketaatanmu kepada Allah Swt. Karena ajal, kematian itu datang tidak ada yang tahu. Apalagi amal itu tergantung dengan akhir hayatnya.

Penulis : Anwar Ihsanuddin S.Pd

Editor : Abu Khalid