MILF, Banting Setir dari Jihad atau Tipuan ala Moro-Moro?

20160425003712-2-mnlf-002-nfi

an-najah.net_Tanggal 16 Juni lalu, proses decomissioning atau penonaktifan kekuatan bersenjata Moro Islamic Liberation Front (MILF) telah dimulai. Dalam tahap awal, 75 pucuk senjata aneka jenis dan 145 kombatan MILF menjalani proses itu di Kamp Darapanan, Kotabato, Mindanao.

Format perjanjian damai antara pemerintah Filipina dengan MILF mirip dengan Perjanjian Helsinki yang mendamaikan antara Republik Indonesia dengan GAM di Aceh. Kelompok pemberontak meletakkan senjata, kemudian mendapat wilayah otonomi.

Namun ada hal yang berbeda, GAM hanya mendapat konsesi politik. Sementara kekuatan militernya dinonaktifkan total. Bahkan senjata milik GAM yang diserahkan langsung dimusnahkan dengan cara dipotong dengan gergaji listrik. Sementara itu di Mindanao, senjata MILF tidak dipotong tapi digudangkan. Gudang dikunci dan dijaga bersama oleh tim pengamanan gabungan Moro dan Filipina.

Sementara itu selain wilayah otonomi, MILF mengajukan konsep Bangsamoro Basic Law (BBL) atau Hukum Dasar Bangsamoro yang memiliki pasal tentang hak melaksanakan syariat Islam bagi umat Islam di kawasan mereka.

20160425003712-1-mnlf-001-nfi

Klausul BBL itu tercantum dalam Article X Section 1 draf BBL mengenai sistem peradilan Bangsamoro.

Justice System in the Bangsamoro. – The justice system in the Bangsamoro shall consist of Shari’ah law which shall have supremacy and application over Muslims only; the traditional or tribal justice system, for the indigenous peoples in the Bangsamoro; the local courts; and alternative dispute resolution systems.

Sistem pengadilan di Bangsamoro – sistem pengadilan di dalam Bangsamoro harus terdiri atas Hukum Syari’ah yang memiliki kewenangan dan berlaku bagi Muslim saja; sistem pengadilan tradisional atau kesukuan, bagi suku asli di wilayah Bangsamoro; pengadilan lokal; dan sistem penyelesaian sengketa alternatif.

For Muslims, the justice system in the Bangsamoro shall give primary consideration to Shari’ah, and customary rights and traditions of the indigenous peoples in the Bangsamoro

Bagi Muslim, sistem pengadilan di Bangsamoro harus memperhatikan Syari’ah, dan hak-hak adat serta tradisi penduduk asli di Bangsamoro.

Nothing herein shall be construed to operate to the prejudice of non-Muslims and non-indigenous peoples.

Tiada di dalam hal ini yang bisa ditafsirkan untuk menjalankan prasangka terhadap non-Muslim dan penduduk asli.

Artinya, di kawasan otonomi Bangsamoro, bagi umat Islam diberlakukan syariat Islam. Syariat tidak diberlakukan bagi penduduk non Muslim termasuk suku-suku pedalaman yang bukan Muslim. Bagi mereka berlaku hukum nasional Filipina atau adat-istiadat setempat.

Mirip Piagam Jakarta

Klausul ini mirip dengan konsep Piagam Jakarta yang disepakati oleh Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) pada 22 Juni 1945 silam. Syariat Islam berlaku bagi penduduk Muslim Indonesia. Sayang piagam konstitusi ini hanya berumur sehari penerapannya di negara Indonesia yang merdeka, tanggal 18 Agustus rumusan berlakunya syariat Islam bagi Muslim Indonesia dihapus dengan intimidasi licik.

milisi-front-pembebasan-nasional-moro-mnlf-mengangkat-senjata-saat-_130306043719-986

Kemungkinan yang sama juga dihadapi oleh MILF, apalagi preseden sebelumnya sudah ada. Ketika perundingan damai di masa Presiden Gloria Macapagal Arroyo telah menyepakati berlakunya hukum khusus (yang mengandung syariat Islam) di kawasan MILF, kesepakatan itu dibatalkan berlakunya oleh Mahkamah Agung Filipina.

Seandainya Filipina ingkar janji, mungkinkah MILF bertempur kembali? Pengalaman MNLF di masa lalu menunjukkan, Nur Misuari pun memberontak kembali ketika merasa dikhianati oleh Filipina. Ironisnya, kekuatan MNLF telah melemah saat itu terjadi. Sebagian besar pasukannya telah dilebur ke dalam militer Filipina.

Sementara itu, jika perjanjian itu ditepati oleh pemerintah Filipina, bagaimana masa depan Muslim Moro di kawasan Mindanao? Mereka akan memiliki entitas politik, hukum dan ekonomi yang otonom. Meskipun tidak sepenuhnya merdeka, mereka bisa menjalankan pemerintahan sendiri di wilayahnya.

Hal ini tidak sepele, tantangan yang dihadapi Muslim Moro mirip dengan Muslim Pattani, Uighur dan kawasan lainnya. Mereka tak hanya dirampas kemerdekaannya namun juga dikikis identitasnya sebagai Muslim melalui pendidikan, budaya dan transmigrasi. Sedikit demi sedikit, identitas Islam mereka lenyap. Suatu hal yang jika tak dilindungi akan berakibat fatal bagi eksistensi mereka di masa yang akan datang.

Selama ini, MILF melancarkan jihad bersenjata justru untuk melindungi hak-haknya sebagai komunitas Muslim. Dengan pandangan politik yang cukup pragmatis, kini mereka mendapatkan sebagian hak itu melalui perundingan politik.

Eksperimen Politik

Kelelahan setelah berperang puluhan tahun agaknya membuat MILF memilih pandangan pragmatis. Lebih baik mendapatkan sebagian, meski tidak sempurna, daripada kehilangan semua setelah kekuatan mereka dihantam dengan hebat oleh militer Filipina.

Di sisi lain, masyarakat Filipina yang mayoritas Katholik menanggapi skeptis perundingan damai dengan MILF. Mereka yang dibesarkan dalam prasangka warisan Spanyol selalu curiga dengan eksistensi Muslim.

Sebagian pengamat dari Manila, misalnya, curiga bahwa perundingan damai dengan MILF hanyalah “Moro-Moro” atau sandiwara tradisional semacam ketoprak di Jawa. Maka mereka menyerang Presiden Benigno Aquino Junior atas keputusannya untuk berdamai dengan MILF.

Inilah warna khas konflik di Asia Tenggara. Karakter tropis yang hangat dan sedang agaknya membuat solusi hitam-putih ala Timur Tengah tak bisa diraih. Selalu ada kompromi dan tipu-tipu yang mewarnai setiap konflik.

117Di tubuh MILF sendiri, perundingan damai itu juga ditentang oleh sebagian elemennya. Mantan Komandan MILF, Amirul Umbra Kato, menyempal dari MILF dan mendirikan BIFF (Bangsamoro Islamic Freedom Fighter) yang berikrar akan terus mengangkat senjata sampai kemerdekaan Muslim Moro bisa diraih.

Polemik terus berlanjut, kadang ditingkahi pecahnya bentrokan bersenjata, namun sebuah eksperimen politik sedang dijalani oleh MILF. Sebuah kelompok jihad modern berbasis bangsa sedang mencoba peruntungan dengan jalur perundingan. Meski hampir pasti dipandang miring oleh kalangan jihadi, perkembangannya akan terus menarik untuk diambil ibrah dan dicermati. Wallahu a’lam bish shawab. (Ibnu)

Editor: Sahlan Ahmad

Diambil dari majalah An-Najah Edisi 117, Agustus 2015, Rubrik Telisik, Halaman 22-23.