Mitos Mayoritas, Refleksi Penerapan Syari’at Islam

Ilustrasi, Mayoritas
Ilustrasi, Mayoritas

An-Najah.net – Betulkah umat Islam mayoritas di Indonesia? Secara statistik memang betul, sekitar 85 hingga 90 persen penduduk negeri ini mengaku Muslim. Dibuktikan dengan catatan dalam KTP dan dokumen resmi lainnya.

Logikanya, jika mayoritas penduduknya Muslim maka Islam akan tegak di Nusantara. Syariat Islam pasti dipilih sebagai sistem kehidupan bernegara dan berbangsa. Pemimpin Muslim yang bertakwa pasti didukung mayoritas rakyat yang seagama.

Namun realitanya tidak, syariat Islam tersingkir dari konstitusi negara sehari setelah Indonesia merdeka. Hukum dan aturan warisan kafir Belanda lebih dicintai sebagai pedoman kehidupan. Sementara demokrasi, yang memakai logika pemenang adalah cacah terbanyak, menghasilkan pemimpin yang jauh dari nilai-nilai Islam. Muslim mayoritas adalah mitos yang melenakan.

Baca Juga : Syari’at Islam, Spirit Perlawanan

Belajar Dari Sejarah

Ki Bagus Hadikusumo, tokoh Muhammadiyah dalam Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia yang bersikukuh menolak penghapusan syariat Islam dalam UUD 1945, pernah tertipu mitos ini. Soekarno berjanji, “Ini hanya sementara. Nanti kalau situasi negeri sudah normal dan pemilu bisa digelar, syariat Islam pasti berlaku karena mayoritas penduduk negeri ini Muslim.”

Buktinya sampai sekarang, syariat tak berlaku kaaffah di Indonesia. Hanya sebagian hukum pribadi Muslim terkait keluarga yang berlaku dalam Kompilasi Hukum Islam. Itupun tak berlaku wajib, sifatnya opsional bagi rakyat yang memilih Pengadilan Agama sebagai mahkamahnya. Bak Ilyasiq di era Tartar, namun lebih parah karena Muslim tak bisa memilih opsi syariah dalam hukum pidana dan publik.

Baca Juga : Tantangan Penerapan Syari’at Islam

Realita ini pahit, namun harus ditelan dan dinikmati. Lebih baik minum jamu pahit tetapi berkhasiat daripada minum racun yang disaluti gula. Jamu akan mengobati meski rasanya tak bisa dinikmati. Sedangkan racun, semanis apapun, akan membunuh tanpa disadari.

Selama ini, perasaan sebagai mayoritas membuat Muslim Indonesia lupa diri. Jumawa, merasa banyak dan hebat meski jauh dari ridha Ilahi. Malas, enggan berdakwah dan berjihad karena merasa jumlah seolah jadi jaminan kemenangan. Lengah, meremehkan tipu daya dan kekuatan musuh aqidah yang dianggap sedikit dan lemah.

Mitos mayoritas juga menjerumuskan Muslim pada pilihan jalan sesat. Demokrasi yang syirik diyakini sebagai jalan kemenangan.  Padahal sudah terbukti berkali-kali gagal. Parah bukan? Sesat dan gagal tapi masih dipegangi sebagai andalan.

Sikap jumawa, malas dan lengah ini berakibat fatal. Umat Islam terbuai dalam fatamorgana. Seolah hidup di oase subur dengan air sejuk melimpah. Padahal hidup di tengah gurun pasir tandus yang panas dan kering. Seolah meminum air jernih dan segar, padahal asap dan debu panas yang membakar.

Baca Juga : Kebersamaan dalam Perjuangan

Lalu, jika statistik menyebut Muslim mayoritas, namun realita membuktikan syariat Islam tak berlaku seperti seharusnya, bagaimana memandang Indonesia? Kejujuran harus ditelan meskipun pahit dan berat, dakwah dan jihad belum berhasil. Jalan perjuangan yang berat masih menunggu untuk ditempuh. Jangan bersantai karena jumlah, padahal kualitas masih jauh dari harapan.

Sumber : Majalah An-Najah Edisi 156 Rubrik Renungan

Penulis : Ibnu

Editor : Anwar