Money Game Berkedok MLM

MLM, Ilustrasi
MLM, Ilustrasi

An-Najah.net – Ustadz pengampu rubrik konsultasi yang kami hormati.

Banyak teman yang mengajak saya untuk berjualan pulsa. Masalahnya, saya melihat sistem penjualan yang ditawarkan tidak murni berjualan, akan tetapi ada unsur Multi Level Marketingnya. Yakni kita akan mendapatkan bonus dari penjualan yang dilakukan oleh downline dan downlinenya downline dan seterusnya. Harap Ustadz jelaskan aspek keharaman sistem seperti ini. (Hamam—Solo)

الْحَمْدُ للهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُولِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالَاهُ

Hari ini banyak sekali upaya pengelabuhan terhadap umat demi tercapainya kehidupan yang “enak”. Cepat kaya tanpa capek berusaha. Salah satunya adalah money game yang pernah digagas oleh Charles K. Ponzi. Bisnisman kelahiran Italia (1882) ini bermigrasi ke Canada pada tahun 1903. Dia ditangkap karena melakukan pemalsuan dan dipenjara. Sepuluh hari lepas dari penjara, kembali dia ditangkap karena melakukan penyelundupan orang ke Amerika dan kemudian ditahan  di penjara Atlanta.

Baca Juga : Riba Ghara dan Kedzaliman dalam BPJS

Pada tahun 1920 Ponzi dan perusahaan jasanya “Kupon Pos” di Boston menjadi perbincangan di Pantai Timur Amerika karena berhasil meraup 9,5 juta dollar dari 10.000 “investor” dalam waktu singkat. Ponzi menjual surat perjanjian yang berbunyi, “Dapatkan 55 sen untuk setiap sen, hanya dalam waktu 45 hari.” Ponzi kemudian disidangkan dengan tuduhan melakukan penipuan finansial dengan metode “Buble burst” (secara harfiyah berarti ledakan gelembung), dan kemudian dikenal dengan “Skema Ponzi” atau “Skema Piramida” yang menjadi cikal bakal sistem MLM.

Tidak Semua Melanggar Syar’i

Seratus perusahaan MLM seratus pula model praktiknya, sehingga hukumnya pun tidak boleh disamakan begitu saja. Masing-masing mesti dikaji kasus per-kasus. Yang pasti, hukum asal segala bentuk muamalah adalah boleh. Siapa pun yang hendak terjun ke dunia kerja—apa pun itu, termasuk MLM—berkewajiban untuk mengilmui dunia yang hendak diterjuninya sebelum dia menceburkan diri ke dalamnya jika ingin mendapatkan ridha Allah dan hidupnya diberkahi.

Ahlussunnah sepakat, al-’ilmu qablal qawli wal ’amal (ilmunya dulu, baru bicara atau bekerja). Biasanya, jika sudah terlanjur mencebur, seseorang akan cenderung mencari-cari pembenaran atas apa yang dilakukannya, kecuali orang-orang yang mendapatkan rahmat Allah.

Baca Juga : Hukum BPJS dalam Islam

Dari beberapa praktik MLM yang menjamur, saya belum mendapatkan MLM yang terbebas dari pelanggaran syar’i. Di antara perkara-perkara yang diharamkan dan selalu ada dalam salah satu MLM—setidaknya sampai jawaban ini saya tulis— antara lain:

  1. Keluar dari Tujuan Utama Jual Beli

Tujuan utama dari membeli suatu produk/barang adalah memiliki produk/barang tersebut karena suatu kebutuhan. Saat seseorang bergabung dalam sebuah MLM, mungkin tujuan semulanya adalah mendapatkan harga murah (diskon khusus member). Namun seiring dengan bergulirnya waktu, ia akan didorong untuk mencari member baru dan mengokohkan jaringan—baik piramida, binary, maupun yang lain—ditambah dengan membeli produk sampai batas tertentu (tutup poin) untuk mendapatkan bonus. Pay to play. Jika tidak menutup poin, maka keseluruhan atau sebagian bonus akan hilang. Membeli produk demi bonus hukumnya sama dengan hukum menerima bonus.

Ibnul Qoyim menjelaskan, “Kaidah dalam syariah yang tidak boleh ditiadakan, bahwa tujuan dan keyakinan itu ternilai dalam aktivitas muamalah dan transaksi… maksud, niat, dan keyakinan menentukan status halal dan haram, sah dan tidak sah, dinilai taat atau maksiat. (I’lamul Muwaqqi’in, 3/96)

Al-Majma’ al-Fiqhi al-Islami, lembaga resmi kajian fiqh di bawah Rabithah Alam Islamiyah (Muslim World League) dalam muktamarnya yang diselenggarakan di Sudan Rabiul Akhir 1424 pernah mengeluarkan keputusan mengenai sistem MLM yang pernah diterapkan oleh PT Biznas (Sebuah perusahaan yang menerapkan sistem MLM dalam pemasarannya di Uni Emirat).

“Pertama, produk yang terdapat pada perusahaan MLM, bukan tujuan utama bagi member. Namun yang menjadi tujuan dan motivasi utama bergabung dalam sistem MLM adalah fee yang didapatkan member ketika dia bergabung dengan MLM. Tujuan utama perusahaan MLM yang beranggotakan banyak orang, dengan skema beruntun, sehingga bagian dasar terus meluas, hingga berbentuk piramida. Orang yang paling beruntung adalah yang berada di atas piramida, yang di bawahnya tersusun 3 level. Sementara mereka yang di bawah (downline) harus membayar kepada orang yang ada di atasnya (upline).”

Baca Juga : Hukum BPJS yang dipaksakan

Para fuqaha` punya kaidah, lilwasaail hukmul maqaashid (hukum sebuah sarana sama dengan hukum tujuannya) dan al-umuuru bimaqaashidiha (hukum semua perkara tergantung kepada maksudnya). Jika hukum menerima bonus jenis ini haram (tidak semua jenis bonus hukumnya mubah), maka hukum membeli dengan tujuan mendapatkan bonus jenis ini pun haram.

2. Bonus yang riba

Dalam fatwa no. 22935 tertanggal 14/3/1425 H. Lajnah Daimah lil Buhuts al-’Ilmiyah wal Iftayang diketuai oleh SyaikhAbdulAziz Aalu al-Syaikh dan beranggotakan Syaikh Shalih al-Fawzan, SyaikhAbdullah al-Ghudayan, Syaikh Abdullah al-Mutlaq, SyaikhAbdullah al-Rakban, dan Syaikh Ahmad al-Mubaraki menyatakan bahwa belanja yang dilakukan oleh member dengan tujuan mendapatkan bonus uang dan yang lainnya termasuk riba.

Dua jenis riba, fadhal dan nasiah ada pada transaksi tersebut. Yang demikian itu karena umumnya member berbelanja dengan tujuan menutup poin supaya mendapatkan bonus yang jumlahnya lebih besar daripada uang yang dikeluarkannya. Mengeluarkan uang yang sedikit untuk mendapatkan uang yang lebih banyak adalah riba fadhal. Mengeluarkan uang sekarang untuk mendapatkan uang di kemudian hari adalah riba nasiah.

  1. Bonus yang gharar

Imam Muslim meriwayatkan sebuah hadits dari Abu Hurairah RA. yang berisi larangan jual beli gharar (mengandung ketidakjelasan/spekulasi). Dalam praktiknya, bonus yang dijanjikan kepada member dengan syarat tutup poin belumlah pasti alias spekulatif atau mengandung gharar. Besarnya bonus yang akan diterima oleh member dikaitkan dengan besarnya belanja downline-downline yang ada di bawahnya. Padahal besarnya belanja para downline tidaklah pasti. Bahkan belanja-tidaknya mereka pun tidak pasti. Mau menutup poin, jangan-jangan para downline tidak belanja banyak. Tidak menutup poin, jangan-jangan para downline belanja banyak.

Baca Juga : Hukum Menjual Barang Yang Belum Lunas

  1. Kebohongan Terselubung

Seringkali perusahaan MLM mengklaim, harga produk mereka lebih murah daripada harga produk sejenis yang dipasarkan secara konvensional karena dengan MLM mereka dapat memangkas bea iklan dan distribusi. Mereka sering mengatakan MLM tidak perlu beriklan. Juga, selisih antara biaya produksi dan harga jual produk non-MLM jauh lebih tinggi daripada selisih antara biaya produksi dan harga jual produk MLM. Nyatanya, beberapa MLM beriklan di media massa. Selain itu, jika dinalar dan dihitung secara cermat, selisih antara biaya produksi dan harga jual produk MLM harus tinggi. Jika tidak, perusahaan tidak akan dapat memberikan bonus jutaan rupiah, mobil mewah, rumah elit, kapal pesiar, dan lain-lain kepada member. Dan masih banyak lagi kebohongan-kebohongan terselubung yang seringkali dilakukan oleh member ketika memprospek calon member. Misalnya, bonus besar dengan modal kecil, mereka yang gagal adalah yang tidak bekerja keras, dan lain sebagainya.

Wallahu a’lam.

Sumber : Majalah An-Najah Edisi 138 Rubrik Konsultasi Islam

Editor : Anwar