Mu’awiyah Menangis Karena Kesosokan Ali

Akhlak
Akhlak

An-Najah.net – Sosok Ali bin Abi Thalib ra. Dikisahkan, setelah Ali ra wafat, Mu’awiyah bin Abi ‎Suryan berkata kepada Dirar bin Dhammah, “Wahai Dhirar, gambarkan sosok Ali kepadaku”, ‎Dirar menjawab, “Apakah kau akan membunuhku, karena menjawab pertanyaanmu?”‎

‎“Tidak, gambarkanlah ! desak Mu’awiyah.‎

‎“Bunuh aku”, kata Dirar. “Tidak mau”, jawab Mu’awiyah

‎“Baiklah, saya akan menceritakannya”, kata Dirar sambil menghela nafas. ‎

Sosok Ali bin Abi Thalib

Beliau bercerita, “Demi Allah Ta’ala dia mempunyai visi yang jauh ke depan dan fisiknya ‎sangatlah kuat. Jika berbicara selalu berkata yang jujur. Setiap berita yang sampai ke beliau akan ‎ditelusuri kebenarannya. Ia memerintah dengan adil. Pengetahuannya mengalir deras. Dia ‎bijaksana dan tidak suka kesenangan dunia. ‎
Dia menikmati malam dan kegelapannya dengan banyak berdoa kepada Allah Ta’ala. Demi ‎Allah Ta’ala, dia akan menangis deras karena takut kepada Allah Ta’ala dalam waktu yang lama. ‎

Dia senang memakai pakaian kasar dan sedikit makan. Demi Allah Ta’ala, itu membuatnya ‎seperti orang fakir. Setiap pertanyaan dari kami selalu beliau jawab. Ketika kami pergi ‎menemuinya, ia lebih dahului memulai salam. Ketika kami mengundangnya, ia akan datang ke ‎rumah kami. Meskipun ia dekat dengan kami, kami tidak akan sembarangan kepadanya, ‎dikarenakan martabat dan kehormatannya yang terpancar jika ia tersenyum.‎

Giginya tertata dan putih bagai mutiara. Dia menghormati orang yang taat beragama dan ‎mencintai orang miskin. Orang yang berkuasa tidak akan mendapatkan bantuannya untuk sebuah ‎kepalsuan. Orang yang lemah pun akan mendapatkan kebenaran darinya.”‎

Dirar melanjutkan ceritanya, “Demi Allah Ta’ala, pada saat-saat tertentu, saya melihat beliau ‎berdoa sambil menangis sejadi-jadinya”. Aku mendengar beliau berkata,

Manusia Tertipu Dengan Hinanya Dunia

‎“Wahai dunia, wahai dunia, apakah kau manawarkan dirimu kepadaku?‎ Apakah kau menginginkanku?, tidak pernah! Tidak pernah!‎

Tertipulah manusia. Aku telah menceraikanmu untuk ketiga kalinya, sehingga kau tidak dapat ‎kembali kepadaku. Hidupmu pendek, kesenangan yang kau tawarkan adalah semu, bahayamu ‎sangatlah besar.

Aduh (bekal) perbuatan baikku sangatlah sedikit sementara jarak perjalananku di ‎akhirat sangatlah jauh.”‎

Setelah mendengar pejelasan ini, mata Mu’awiyah ra, sembab karena air mata. Ia tidak mampu ‎Manahan air matanya, ia pun menyekanya. Mu’awiyah pun berkata, “Semoga Allah Ta’ala ‎merahmati ayah Hasan (Ali bin Abi Thalib). Sebab, demi Allah Ta’ala, ia seperti yang engkau ‎gambarkan.”

‎Kemudian Mu’awiyah kembali berkata, “Wahai Dirar, gambarkan kesedihanmu saat kehilangan ‎Ali ra”‎
‎“Kesedihanku seperti seorang wanita yang tidak bias mengendalikan air matanya atau kesedihan ‎seorang ibu yang baru saja kehilangan anaknya”, balas Dirar (Jamaluddin al-Jauzi, Shifatus ‎Shafwah, cet. 2000, jilid 2, hal. 118)‎

Saudaraku, begitu istimewa dan mulianya akhlak para salaf terdahulu. Sehingga akhlak dan ‎perilaku keseharian mereka mencerminkan akhlak Al-Quran dan As-Sunnah. Pantaslah mereka ‎menyandang gelas ‘khairul qurun’ sebaik-baik generasai yaitu generasi para sahabat kemudian ‎tabi’in dan tabi’ut tabiin.‎

Semoga kita bisa mencontoh dan meneladani akhlak mereka yang mencerminkan akhlak Al-‎Quran dan As-Sunnah dikehidupan keseharian kita. Sehingga kehidupan kita terasa aman, ‎nyaman, dan tentram. Amin walllahu ‘alam

Penulis: Abdullah bin Abdurrahman‎
Sumber: Buku: Golden Stories
Editor: Ibnu Jihad