Mukjizat Kalimat Tauhid di Akhir Zaman

Kalimat Tauhid
Kalimat Tauhid

An-Najah.net- Kehidupan manusia, kapan pun, tidak akan pernah lepas dari skenario dan takdir dari Allah SWT. Sang Penguasa Jagat, Allah SWT, selalu terlibat dalam kehidupan manusia. Ia mengatur dan memberlakukan ketentuan-Nya, sesuai keinginan-Nya Yang Maha Adil dan Maha Kuasa.

Allah SWT berfirman

وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ

“Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan seluruh alam.” (Qs. Takwir: 29)

Demikian halnya, dalam kehidupan manusia di akhir zaman. Allah SWT, dengan keadilan dan keuasaan-Nya, akan memberikan keajaiban-keajaiban dalam kehidupan dan perjuangan mereka.

Diantara sarana Allah SWT memberikan keajaiban-mukjizat kepada hamba-hamba-Nya adalah dengan mengajarkan mereka untuk mengucapkan, menghayati, dan merealisasikan kalimat tauhid -لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ-. Sebab ia adalah kalimat yang mengundang mukjizat kehidupan. Banyak keutamaan dan keajaiban kalimat ini, diantaranya adalah;

Baca Juga : Dakwah Kalimat Tauhid Kunci Kejayaan Umat

Keutamaan Kalimat Tauhid

Tentang keutamaan kalimat tauhid, sungguh sangat banyak. Diantara yang terpenting adalah;

Satu: Kalimat ‘Laa ilaaha illallah’ merupakan harga surga. Nabi SAW bersabda,

مَنْ كَانَ آخِرُ كَلَامِهِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ دَخَلَ الجَنَّةَ

“Barangsiapa yang akhir perkataannya sebelum meninggal dunia adalah ‘laa ilaaha illallah,’ maka dia akan masuk surga,” (HR. Abu Dawud no. 1621).

Dua: Kalimat ‘Laa Ilaha Illallah’ adalah kebaikan yang paling utama. Abu Dzar berkata”Katakanlah padaku wahai Rasulullah, ajarilah aku amalan yang dapat mendekatkanku pada surga dan menjauhkanku dari neraka.” Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda;

إِذاَ عَمَلْتَ سَيِّئَةً فَاعْمَلْ حَسَنَةً فَإِنَّهَا عَشْرَ أَمْثَالِهَا، قُلْتُ يَا رَسُوْلَ اللهِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ مِنَ الْحَسَنَاتِ ، قَالَ هِيَ أَحْسَنُ الحَسَنَاتِ وَهِيَ تَمْحُوْ الذُّنُوْبَ وَالْخَطَايَا

Apabila engkau melakukan kejelekan (dosa), maka lakukanlah kebaikan karena dengan melakukan kebaikan itu engkau akan mendapatkan sepuluh yang semisal.” Lalu Abu Dzar berkata lagi,”Wahai Rasulullah, apakah ’laa ilaha illallah’ merupakan kebaikan?” Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,”Kalimat itu (laa ilaha illallah, pen) merupakan kebaikan yang paling utama. Kalimat itu dapat menghapuskan berbagai dosa dan kesalahan.” (Hilyatul Auliya’, Thabrani dan dihasankan oleh al-Albani)

Tiga: Kalimat ‘Laa ilaaha illallah’ adalah dzikir utama dan perantara doa. Dari Abu Sa’id Al Khudri radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda, Musa berkata:

قَالَ مُوسَى: يَا رَبِّ عَلِّمْنِي شَيْئًا أَذْكُرُكَ بِهِ وَأَدْعُوكَ بِهِ، قَالَ: يَا مُوسَى لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، قَالَ مُوسَى: يَا رَبِّ، كُلُّ عِبَادِكَ يَقُولُ هَذَا، قَالَ: قُلْ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، قَالَ: لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، إِنَّمَا أُرِيدُ شَيْئًا تَخُصُّنِي بِهِ، قَالَ: يَا مُوسَى لَوْ أَنَّ السَّمَوَاتِ السَّبْعَ وَعَامِرَهُنَّ غَيْرِي، وَالْأَرَضِينَ السَّبْعَ فِي كَفَّةٍ، وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ فِي كَفَّةٍ مَالَتْ بِهِنَّ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ

“Wahai Tuhanku ajarkanlah kepadaku sesuatu, yang aku akan berdzikir dan berdoa kepadaMu dengannya.” Allah berfirman:” Wahai Musa ucapkanlah Laa ilaaha illallah!.” Musa berkata: Wahai Tuhanku seluruh hambaMu mengucapkan kalimat ini.”

Allah berfirman lagi, “Ucapkanlah, Laa ilaaha illallah!.” Musa pun mengucapkan, “Laa ilaaha illallah!.” Lalu berkata, “Ya Allah, aku ingin kalimat yang khusus untuk diriku.” Maka Allah berfirman,

“Wahai Musa! Seandainya langit tingkat tujuh dan apa yang ada didalamnya serta bumi tingkat tujuh selain Aku diletakkan di suatu timbangan, dan laa ilaaha illallah diletakkan di timbangan yang lain, maka akan berat timbangan laa ilaaha illallah,” (HR. An-Nasa’i).

Baca Juga : Tiga Alasan Mengapa Kami Membela Kalimat Tauhid

Mukjizat di Akhir Zaman

Ternyata kalimat tauhid, tidak sekedar memiliki mukjizat di akherat nanti, yaitu memasukkan seseorang ke dalam surga. Tetapi juga, memiliki mukjizat-mukjizat di akhir zaman kelak. Yaitu di saat manusia, khususnya umat Islam, mengalami kesulitan yang sangat mendera.

Diantara mukjizat kalimat tauhid di akhir zaman adalah;

Pertama: Senjata utama penaklukkan kota konstatinopel (Istanbul) di akhir zaman

سَمِعْتُمْ بِمَدِينَةٍ جَانِبٌ مِنْهَا فِي الْبَرِّ وَجَانِبٌ مِنْهَا فِي الْبَحْرِ؟» قَالُوا: نَعَمْ، يَا رَسُولَ اللهِ قَالَ: لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَغْزُوَهَا سَبْعُونَ أَلْفًا مِنْ بَنِي إِسْحَاقَ، فَإِذَا جَاءُوهَا نَزَلُوا، فَلَمْ يُقَاتِلُوا بِسِلَاحٍ وَلَمْ يَرْمُوا بِسَهْمٍ، قَالُوا: لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، فَيَسْقُطُ أَحَدُ جَانِبَيْهَا – قَالَ ثَوْرٌ: لَا أَعْلَمُهُ إِلَّا قَالَ – الَّذِي فِي الْبَحْرِ، ثُمَّ يَقُولُوا الثَّانِيَةَ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، فَيَسْقُطُ جَانِبُهَا الْآخَرُ، ثُمَّ يَقُولُوا الثَّالِثَةَ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، فَيُفَرَّجُ لَهُمْ، فَيَدْخُلُوهَا فَيَغْنَمُوا، فَبَيْنَمَا هُمْ يَقْتَسِمُونَ الْمَغَانِمَ، إِذْ جَاءَهُمُ الصَّرِيخُ، فَقَالَ: إِنَّ الدَّجَّالَ قَدْ خَرَجَ، فَيَتْرُكُونَ كُلَّ شَيْءٍ وَيَرْجِعُونَ

“Pernahkah kalian mendengar satu kota yang satu sisinya ada di daratan sementara satu sisi (lain) ada di lautan?” Mereka menjawab, “Kami pernah mendengarnya, wahai Rasulullah!” Beliau berkata, “Tidak akan tiba hari kiamat sehingga 70.000 dari keturunan Nabi Ishaq menyerangnya (kota tersebut), ketika mereka (bani Ishaq) mendatanginya, maka mereka turun.

Mereka tidak berperang dengan senjata, tidak pula melemparkan satu panah pun, mereka mengucapkan, ‘Laa ilaaha illallaah wallaahu Akbar,’ maka salah satu sisinya jatuh (ke tangan kaum muslimin) –Tsaur, (salah seorang perawi hadits) berkata, “Aku tidak mengetahuinya kecuali beliau berkata, ‘Yang ada di lautan.’”

Kemudian mereka mengucapkan untuk kedua kalinya, ‘Laa ilaaha illallaah wallaahu Akbar,’ akhirnya salah satu sisi lainnya jatuh (ke tangan kaum muslimin). Lalu mereka mengucapkan untuk ketiga kalinya: ‘Laa ilaaha illallaah wallaahu Akbar,’ lalu diberikan kelapangan kepada mereka. Mereka masuk ke dalamnya dan mendapatkan harta rampasan perang.

Ketika mereka sedang membagi-bagikan harta rampasan perang, tiba-tiba saja datang orang yang berteriak meminta tolong, dia berkata, “Sesungguhnya Dajjal telah keluar,’ lalu mereka meninggalkan segala sesuatu dan kembali.” (HR. Muslim)

Baca Juga : Memurnikan Tauhid Memenangkan Islam

Kedua: Makanan umat Islam menjelang turunnya Dajjal. Dari Abu Umamah al-Bahili RA, beliau berkata;

خَطَبَنَا رَسُوْلُ الله – صلى الله عليه وسلم – فَكَانَ أَكثَرُ خُطْبَتِهِ عَنِ الدَّجَّالِ وَحَّذَّرَنَاهُ إِلَى أَنْ قَالَ: وَإِنَّ قَبْلَ خُرُوجِ الدَّجَّالِ ثَلَاثَ سَنَوَاتٍ شِدَادٍ، يُصِيبُ النَّاسَ فِيهَا جُوعٌ شَدِيدٌ، يَأْمُرُ اللَّهُ السَّمَاءَ فِي السَّنَةِ الْأُولَى أَنْ تَحْبِسَ ثُلُثَ مَطَرِهَا، وَيَأْمُرُ الْأَرْضَ فَتَحْبِسُ ثُلُثَ نَبَاتِهَا، ثُمَّ يَأْمُرُ السَّمَاءَ، فِي الثَّانِيَةِ فَتَحْبِسُ ثُلُثَيْ مَطَرِهَا، وَيَأْمُرُ الْأَرْضَ فَتَحْبِسُ ثُلُثَيْ نَبَاتِهَا، ثُمَّ يَأْمُرُ اللَّهُ السَّمَاءَ، فِي السَّنَةِ الثَّالِثَةِ، فَتَحْبِسُ مَطَرَهَا كُلَّهُ، فَلَا تُقْطِرُ قَطْرَةً، وَيَأْمُرُ الْأَرْضَ، فَتَحْبِسُ نَبَاتَهَا كُلَّهُ، فَلَا تُنْبِتُ خَضْرَاءَ، فَلَا تَبْقَى ذَاتُ ظِلْفٍ إِلَّا هَلَكَتْ، إِلَّا مَا شَاءَ اللَّهُ» ، قِيلَ: فَمَا يُعِيشُ النَّاسُ فِي ذَلِكَ الزَّمَانِ؟ قَالَ «التَّهْلِيلُ، وَالتَّكْبِيرُ، وَالتَّسْبِيحُ، وَالتَّحْمِيدُ، وَيُجْرَى ذَلِكَ عَلَيْهِمْ مُجْرَى الطَّعَامِ.

“Suatu waktu Rasulullah SAW, berkhutbah di hadapan kami, isi khutbahnya mayoritas tentang Dajjal dan memperingatkan kami terhadap Dajjal. Sampai beliau SAW, bersabda, “Sesungguhnya tiga tahun sebelum munculnya Dajjal, ada tahun-tahun yang sangat susah untuk hidup. Manusia ditimpa kelaparan yang sangat.

Allah SWT, memerintahkan langit di tahun pertama untuk tidak menurunkan 1/3 hujannya, dan memerintahkan bumi untuk tidak menumbuhkan 1/3 tumbuh-tumbuhannya. Di tahun kedua, Allah SWT, memerintahkan langit untuk menahan 2/3 hujannya,  dan memerintahkan bumi menahan 2/3 tumbuh-tumbuhannya.

Dan di tahun yang ketiga Allah SWT, memerintahkan langit untuk tidak menurunkan hujan sama sekali, walaupun setetes. Dan memerintahkan bumi untuk menahan tumbuh-tumbuhan semuanya. Tidak ada yang tumbuh, walaupun sebatang pohon. Sehingga setiap yang berkuku tidak tersisa sedikitpun. Kecuali yang dikehendaki Allah SWT.”

Lalu ada ada sahabat yang bertanya, “Ya Rasulullah, terus bagaimana manusia bisa bertahan hidup, pada waktu itu?” Rasulullah SAW bersabda, “Dengan tahlil (membaca Laa Ilaha Illa Allah), tasbih, takbir, dan tahmid. Bacaan-bacaan ini pengganti makanan mereka.” (HR. Ibnu Majah dan Ibn Khuzaimah –dishahihkan oleh al-Albani-)

Baca Juga : Ajari Anak Tauhid Sejak Dini

Dalam hadits lain, ketika Rasulullah SAW mengabarkan tentang tahun-tahun yang penuh kesengsaraan menjelang kedatangan Dajjal, salah seorang sahabiyah, Asma’ binti Yazid al-Anshariyah bertanya;

“Akan tetapi mereka tidak mendapatkan apa-apa sehingga aku khawatir terkena musibah kelaparan, dan apa yang bisa dimakan oleh kaum mukmin pada waktu itu?”

Nabi SAW menjawab, “يَجْزِيهِمْ مَا يَجْزِي أَهْلَ السَّمَاءِ” -Allah SWT mencukupkan kepada mereka dengan makanan yang diberikan kepada penduduk langit (Malaikat).”-

Asma’ kembali bertanya, ““Wahai Nabi Allah, bahwasanya Malaikat tidak makan dan tidak minum.” Rasulullah SAW pun menjelaskan; Akan tetapi mereka membaca tasbih dan mensucikan Allah SWT, dan itulah makanan dan minuman kaum beriman saat itu, tasbih dan taqdis.” (HR. Abdul Razzaq, ath-Thayalisi, Ahmad, Ibnu Asakir. )*

Demikianlan mukjizat kalimat tauhid di akhir zaman. Sungguh berbahagia mereka yang memperjuangkannya, dan merealisasikannya dalam hidup.

Sumber : Majalah An-Najah Edisi 157 Rubrik Catatan Akhir Zaman

Penulis : Akram Syahid

Editor : Anwar