Munafik Abu-Abu, Munafik Hari Ini (Makalah_2)

Ilustrasi
Ilustrasi

An-najah.net- Bagi sebagian kalangan, mungkin tidak begitu setuju dengan istilah diatas, munafik abu-abu. Dan mungkin ini istilah baru dalam terminologi Islam. Tidak lain yang kami maksud hanya untuk menggambarkan sekelompok munafikin hari ini yang begitu susah dibedakan oleh kalangan muslim awam; apakah ia pejuang Islam atau pecundang yang selalu menghalangi tegaknya Islam.

Dalam kehidupan kaum muslimin hari ini, umat Islam dapat menyaksikan sekelompok orang yang mengaku sebagai da’i dan pembimbing umat. Mengajarkan kepada umat masalah Islam. Ungkapan yang sering didengungka untuk meluruskan tashowwur, pemahaman umat. Tapi dalam masalah syari’at jihad merekalah yang terdepan dalam menihilkan dan mengikis habis, bahkan mencela para mujahidin.

Bermacam syubhat mereka tebarkan untuk menihilkan jihad dan mujahidin. Misalnya, mensyaratkan izin dari amir. Amir yang mereka maksud adalah penguasa-penguasa sekuler yang memerintah kaum muslimin. Tentu orang yang waras akan tertawa mendengarkan syarat ini. Masuk akalkah budak mengizinkan orang lain untuk memerangi tuannya..?

Realita membuktikan, untuk melindungi aset dan perampasan kekayaan yang dilakukan oleh Amerika, penguasa-penguasa sekuler tidak segan-segan mengorbankan rakyatnya. Seperti menggadaikan kekayaan alamnya kepada asing dengan dengan membuat regulasi yang mengutungkan asing menguasai aset-aset seperti pertambangan emas, minyak, batu besi. Mereka juga menyiapkan pasukan untuk mengawal perampokan kekayaan alam milik kaum muslimin.

Logikanya, mensyaratkan izin kepada penguasa sekuler untuk berjihad melawan kedzoliman orang-orang kafir yang merampas kekayaan kaum muslimin dan menindas Islam dan umat Islam hari ini, sama dengan mimpi. Seperti ungkapan, untuk memenangkan lomba renang, syaratnya peserta tidak boleh basah. Mustahil!!.

Ada lagi persyaratan daulah, jihad boleh dilaksanakan jika ada daulah dan dibawah komando amir. Tetapi ketika ada daulah islamiyah yang jelas-jelas memperjuangkan penegakkan syari’at Islam. Orang-orang munafik justru mencari celah untuk tidak ikut terlibat bahkan menghalang-halangan manusia pergi berjihad. Mereka bukannya bergabung untuk berjihad bersama amirnya, karena syarat yang mereka gagas telah terpenuhi (harus ada daulah dan amir), atau minimal mendukungnya, tetapi justru berbalik menuduh daulah dan para mujahidin yang memperjuangkan daulah tersebut sebagai khowarij dan daulah itu adalah daulah khawarij, tidak sah.

Pertanyaan kepada para munafik jenis ini adalah, sejak kapan berjuang dan mendirikan Daulah Islam yang menerapkan syari’at Islam dikategorikan perbuatan khowarij..?. Salaf mana, jika mengklaim bermanhaj salaf, mendefinisikan; berjama’ah dan membentuk komunitas yang mengangkat senjata melawan penjajahan orang-orang kafir seperti Amerika atau kelompok musyrik Syi’ah Rafidhoh seperti di Iran dan Irak sebagai khowarij..?

Jika tidak ada salaf yang berkata demikian, dan memang tidak ada, berarti mereka bukan pengikut salaf seperti yang mereka klaim. Jika merekalah yang membuatnya, berarti mereka telah membuat kebid’ahan baru dalam urusan dien ini, yang lebih berbahaya daripada kebid’ahan khowarij. Dan ini adalah salah satu trik orang munafik untuk menjauhkan umat dari jihad.

Munafik zaman rasulullah saw, mengistilahkan jihad dalam makna qital (perang) sebagai fitnah, urusan yang membahayakan kelangsungan hidup.

وَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ ائْذَنْ لِي وَلَا تَفْتِنِّي أَلَا فِي الْفِتْنَةِ سَقَطُوا

“Di antara mereka ada orang yang berkata: “Izinkan saya (tidak pergi berperang) dan jangan menjerumuskanku dalam fitnah.” Ketahuilah bahwa mereka telah terjerumus ke dalam fitnah.” (at-taubah: 49)

Bila karena ketidaktahuan dan kebodohan terhadap Islam dan konspirasi kafir internasional, semoga Allah menunjuki mereka dan menjadikannya generasi pantang bicara tanpa ilmu. Hanya saja perbuatan ini sering dilakoni oleh orang-orang munafik yang melakukan berbagai makar terhadap jihad dan mujahidin untuk menyembunyikan sifat jubana’ (pengecut) yang mereka miliki.

“Apa yang terjadi di Irak, Afghanistan dan Palestina bukan jihad, andaikan jihad kami akan ikut.” Demikian alasan yang sering kita dengar dari orang-orang hari ini. Dulupun orang-orang munafik mengungkapkan kalimat yang hampir sama untuk menolak jihad. Inilah sepadan dengan ungkapan Allah terhadap orang-orang munafik dalam masalah jihad.

Dan supaya Allah mengetahui siapa orang-orang yang munafik. Kepada mereka dikatakan: “Marilah berperang di jalan Allah atau pertahankanlah (dirimu).” Mereka berkata: “Sekiranya kami mengetahui akan terjadi peperangan, tentulah kami mengikuti kamu”[247]. Mereka pada hari itu lebih dekat kepada kekafiran dari pada keimanan. Mereka mengatakan dengan mulutnya apa yang tidak terkandung dalam hatinya. Dan Allah lebih mengetahui dalam hatinya. Dan Allah lebih mengetahui apa yang mereka sembunyikan.” (Ali Imran: 167)

Dinasti Penggugat Jihad

Dinasti adalah sesuatu yang bersifat turun temurun. Dalam masalah jihad, sifat dan karakter orang-orang munafik adalah sama. Mereka menggugat jihad dan mujahidin. Bertepuk tangan saat menang dan menunjuk hidung saat kalah. Berlari paling depan saat kesulitan. Menikam saat sempit, dan berbagai kepengecutan lainnya. Layaknya, dinasti, memusuhi jihad selalu diwariskan turun temurun dari satu rezim ke rezim berikutnya, dari satu masa ke masa yang lain.

Mengajarkan syari’at jihad, aqidah al-Wala’ wal Baro’, menghasung penegakkan syari’at Islam, dan bercita-cita mendirikan Negara yang berdasarkan syari’at Islam. Bagi orang munafik dianggap asing, aneh, radikal dan melawan arus. Dalam sejarah Islam, siapapun yang membenci keempat perkara diatas adalah dicurigai sebagai orang munafik.* Wallahua’lam (Mas’ud Izzul Mujahid. Dinukil dari Majalah An-Najah Edisi 67)