Browse By

Munafik Kontemporer, Generasi Bin Salul (1/2)

Oleh: Mas’ud Izzul Mujahid, Lc


An-Najah.net–
Abdullah bin Ubai bin Salul, tokoh munafik, memang telah mati. Namun, karakter dan sepak terjangnya menghadang Islam tidak sirna dengan kepergiannya. Sampai hari kiamat, pengikut jejaknya senantiasa hadir di setiap masa dan tempat. Pola pengikutnya menghancurkan Islam boleh beda, tetapi intinya tetap sama, menghancurkan Islam secara diam-diam. Dan label syar’inya pun tidak beda; sama-sama munafik.

Ada banyak karakter kemunafikan Abdullah bin Ubai bin Salul, yang hari ini kian marak kita saksikan. Terutama laoknnya yang disebut oleh orang dengan “Ulama, pemimpin, tentara, tokoh atau selainnya.”

Berloyalitas Kepada orang-orang kafir

Diantara karakter generasi bin Salul yang paling nampak disaksikan hari ini adalah berloyalitas kepada orang-orang kafir. Mencintai dan menghormati orang-orang kafir. Ini yang dapat kita saksikna hari ini.

Ketika orang-orang kafir bertandang ke tempat mereka, dengan gegap gempita mereka menyambutnya. Disambut dengan suka cita. Menghormati orang-orang kafir jauh diatas penghormatannya kepada orang-orang beriman. Menobatkan mereka sebagai “tuan” yang diikuti titahnya.

Allah swt berfirman

بَشِّرِ الْمُنَافِقِينَ بِأَنَّ لَهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا (138) الَّذِينَ يَتَّخِذُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ أَيَبْتَغُونَ عِنْدَهُمُ الْعِزَّةَ فَإِنَّ الْعِزَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا

“Kabarkanlah kepada orang-orang munafik bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih, (yaitu) orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi teman-teman penolong dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu? Maka sesungguhnya semua kekuatan kepunyaan Allah.” (Qs. An-Nisa’: 38)

Ayat diatas menegaskan dua sikap munafik;

Pertama, Mereka mengangkat pemimpin, teman setia dan patner bekerja dari kalangan orang-orang kafir. Hari inipun banyak disaksikan. Lewat media massa, kita bisa menyaksikan orang-orang yang mengaku muslim dengan suka rela menjadi bawahan orang kafir. Contohnya, mereka berebut untuk menjadi teman dekat presiden Amerika, Inggris dan Negara kafir lainnya.

Sangat berbeda dengan para sahabat yang menghinakan orang kafir. Tidak memuliakannya, karena memang mereka adalah kuam yang telah dihinakan oleh Allah swt.

Imam Ahmad meriwayatkan, Abu Musa al-Asy’ari ra berkata kepada Umar bin Khattab yang saat itu menjabat sebagai khalifah, “Wahai Amirul Mukminin, saya memiliki sekretaris yang nasrani.” Umar bertanya, “Kenapa kau lakukan itu, engkau akan dilaknat oleh Allah, tidakkah kau dengar firman Allah swt, “al-Maidah: 51”. Kenapa tidak kau angkat orang Islam..?” Abu Musa menjawab, “Wahai Amirul mukminin, aku memanfaatkan kemampuannya, sedang agamanya dia sendiri yang bertanggung jawab.” Dengan tegas Umar menjawab, “Aku tidak akan memuliakan mereka, karena Allah telah menghinakannya. Aku tidak akan berdekatan dengan mereka, karena Allah telah menjauhkan mereka (dari rahmat).”

 

Kedua, Mereka mencari kemulian lewat orang-oran kafir. Disangkanya kemuliaan dan kemenangan akan datang dengan berloyal dan berdekatan dengan orang kafir.

Usaha mendekatkan diri kepada orang-orang kafir dilakukan oleh munafik, karena mereka mengira dengan itu mereka akan menjadi terhormat dan dipandang oleh manusia.

Dalam surat al-Munafikun Allah swt berfirman

يَقُولُونَ لَئِنْ رَجَعْنَا إِلَى الْمَدِينَةِ لَيُخْرِجَنَّ الْأَعَزُّ مِنْهَا الْأَذَلَّ وَلِلَّهِ الْعِزَّةُ وَلِرَسُولِهِ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَلَكِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَا يَعْلَمُونَ

“Mereka (munafikun) berkata: “Sesungguhnya jika kita telah kembali ke Madinah, benar-benar orang yang kuat akan mengusir orang-orang yang lemah dari padanya.” Padahal kekuatan itu hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya dan bagi orang-orang mukmin, tetapi orang-orang munafik itu tiada mengetahui.” (Qs. Al-Munafikun: 8)

Dengan memberikan loyalitas kepada orang-orang kafir sama dengan mendaftarkan diri untuk menjadi bagian dari mereka. Allah swt berfirman,

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ (51)

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (Qs. Al-Maidah: 51)

Ibnu Sirin rhm berkata, “Abdullah bin Utbah –seorang tabi’in- pernah berkata, “Hendaklah salah seorang dari kalian berhati-hati, jangan sampai ia menjadi Yahudi dan Nasrani tanpa sadar.” ‘Sepertinya beliau bermaksud menjelaskan ayat ini –al-Ma’idah: 51-.” Lanjut Ibnu Sirin. (Tafsir Ibnu Katsir, )

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab berkata, “Pembatal keislaman yang kesepuluh adalah berloyalitas kepada orang-orang kafir, dalilnya adalah firman Allah swt, surat al-Maidah:51.” (Majmu’ Tauhid, hlm. 38)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *