Munafik, Pemuja Hukum Thoghut

Munafik

An-Najah.net – Lain kata, lain perbuatan. Beginilah ucapan dan perbuatan orang-orang munafik. ‎Dengan sadar mereka bermanis-manis di depan, namun menikam dari belakang. Dalam masalah ‎hukum, orang munafik juga memiliki standar ganda. Tampak manis di depan kaum muslimin, ‎tetapi berbandeng mesra dengan orang-orang kafir untuk memusuhi umat Islam. Sebuah peran ‎yang mereka lalukan hanya ingin merebut sepotong kenikmatan duniawi.‎

Ulama suu’, Menjustifikasi Kenifakan‎

Hadirnya ulama-ulama suu’ dan para dai murji’ah (mengedepankan raja’) menambah runyam ‎‎(berkata-kata di hati) dan suburnya kenifakan. Terutama jika berbicara berkenaan dengan masalah ‎tahakkum (meminta keputusan hukum). Mereka menjustifikasi (memutuskan) kebolehan ‎berhukum kepada selain hukum Allah Ta’ala dengan berbagai macam syubhat yang dibumbui ‎beberapa dalil.‎

Kesyubhatan dai-dai murji’ah dan ulama suu’ di sebarkan dengan berbagai macam cara. Ada ‎yang lewat tulisan, ceramah bahkan daurah-daurah yang konon katanya “ilmiyah”. Terkadang ‎mereka membodohi umat ini dengan memotong-motong perkataan ulama ahlu sunnah agar ‎menguatkan pendapat mereka ketika berbicara. ‎

Mereka Membenci Islam

Mungkin sebagian umat Islam meresa heran, kenapa orang-orang kafir begitu nekat ingin ‎menghancurkan Islam. Kenapa mereka lebih memuja hukum thoghut dari pada hukum Allah ‎Ta’ala? Mungkin ini adalah salah satu pertanyaan yang timbul dalam benak kita.‎

Saudaraku, sebenarnya tidak perlu diherankan, karena orang-orang munafik pada hakekatnya ‎adalah orang yang sangat membenci Islam. Bahkan, karena mereka sangat membenci Islam ‎apapun perkara yang dapat merusak Islam mereka akan mengusahakannya.‎

Bukankah Allah Ta’ala telah menjelaskan hakekat mereka dalam firmannya,‎
Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka mengikuti apa yang menimbulkan ‎kemurkaan Allah dan karena mereka membenci keridhaan-Nya, sebab itu Allah menghapus ‎‎(pahala) amal-amal mereka. (Q.S Muhammad: 28,29)‎

Ayat ini menjelaskan, pada hakekatnya orang munafik membenci apa yang diturunkan oleh Allah ‎Ta’ala kepada mereka. Seringnya keinginan mereka selalu berlawanan dengan apa yang ‎dikehendaki Allah Ta’ala.‎
Dalam masalah hukum misalnya, Allah Ta’ala memerintahkan untuk meningkari hukum thaghut, ‎keinginan munafik berbalik justru mereka berhukum kepada thoghut. (Q.S An-Nisa’: 60)‎

Contoh lain, Allah Ta’ala memberi amaran kepada orang beriman agar menegaskan dan ‎memproklamirkan permusuhan, kenecian, dan baro’ dari orang-orang kafir. Justru orang munafik ‎berlemah lembut kepada mereka, dan menegaskan permusuhan kepada orang-orang beriman (Q.S ‎Al-Maidah:51)‎

‎“Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang munafik yang berkata kepada saudara-saudara ‎mereka yang kafir di antara ahli kitab: “Sesungguhnya jika kamu diusir niscaya kamipun akan ‎keluar bersamamu; dan kami selama-lamanya tidak akan patuh kepada siapapun untuk ‎‎(menyusahkan) kamu, dan jika kamu diperangi pasti kami akan membantu kamu”. Dan Allah ‎menyaksikan bahwa Sesungguhnya mereka benar-benar pendusta. (Q.S Al-Hasr: 11)‎

Disini Allah Ta’ala menjelaskan keadaan orang-orang kafir yang berjanji kepada saudara-‎saudaranya kafir, yang sama-sama berideologi kafir, sama-sama menentang Allah Ta’ala. Yang ‎memiliki falsafah hidup yang sama, untuk memerangi umat Islam, pengibar bendera tauhid dan ‎jihad (Shihabuddin al-Alusi, Ruhul Ma’ani, cet. I, Jilid 14, hal. 249)‎

Ketika genderang war on terorism ditabuh oleh orang kafir dari ahlul kitab, maka para munafik ‎di berbagai belahan bumi menyambut dengan suka cita, bergabai macam perjanjian untuk ‎melawan terorisme yang tidak lain adalah umat Islam itu sendiri. Guna melenyapkan siapa saja ‎yang berupaya menegakkan panji Islam secara kafah.‎

Tertutupnya Cayaha Wahyu

Karena kebencian mereka terhadap hukum Allah Ta’ala dan mendahulukan syahwat dunia dari ‎pada ridho Allah Ta’ala. Maka, Allah Ta’ala menghukum orang-orang munafik dengan hukuman ‎yang sangat pedih dan sangat mengerikan yaitu Allah Ta’ala menutup mata hati mereka dari ‎cahaya wahyu. Bukankah Allah Ta’ala telah berfirman,‎

“Yang demikian itu adalah karena bahwa sesungguhnya mereka telah beriman, kemudian ‎menjadi kafir (lagi) lalu hati mereka dikunci mati; karena itu mereka tidak dapat mengerti.(Q.S ‎Al-Munafikun: 3)‎

Ini adalah puncak kedurhakaan. Ketika mereka Mendengar ayat-ayat, syariat, peringatan dan ‎ancaman-ancaman Allah Ta’ala, namun tidak perhan menggubrisnya. Masa bodoh terhadap ‎kebenaran. Sebagai balasan kedurhakaannya Allah Ta’ala menutup pintu hidayah untuknya. ‎Mereka tidak akan mendapatkan manfaat apapun dari ayat-ayat Allah Ta’ala yang mereka ‎dengar. Sulit megharapkan ia mendapat hidayah, karena memang hatinya telah ditutupi dari ‎cahaya hidayah. (Abdurrahman As-Sa’di, Taisirul Karimurrahman, cet. I, jilid 1, hal. 864)‎

Imam al-Alusi dalam tafsinya “Ruhul Ma’ani“, berkata “Tidak usah diragukan lagi kekafiran ‎orang yang menganggap baik undang-undang (buatan manusia) dan mengutamakannya dari pada ‎hukum syariat. Ia berpendapat, undang-undang ini lebih bijak dan memenuhi kebutuhan manusia, ‎ia akan marah jika dikatakan, “ini bukan termasuk hukum Allah Ta’ala” (menyelisihi undang-‎undang buatannya).‎

Saudaraku, hari ini kita banyak sekali menyaksikan hal itu di kalangan manusia yang telah ‎ditulikan dan dibutakan mata hatinya oleh Allah Ta’ala. Supaya jelas di hadapan kita siapa yang ‎benar dan siapa yang salah. Tidak patut bagi kita yang mengetahuna untuk ragu mengkafirkan ‎orang yang menganggap baik (hukum) yang jelas-jelas bertentangan dengan hukum syariat Allah ‎Ta’ala

Benci Hukum Allah, Jangan Ngaku Muslim

Munafik tetaplah munafik, walau ia mengaku Islam dan kenyataanya ia menolak hukum Islam. Menghasung orang lain untuk melawan syariat Islam. Bekerja sama dengan musuh-musuh Islam, ‎untuk menghancurkan Islam dan para pejuangnya. Maka, tidak ada sebutan baginya kecuali ‎durhaka dan murtad dari Islam.‎
Bukankan Allah Ta’ala telah menegaskannya dalam firman-Nya:‎

Dan mereka berkata: “Kami telah beriman kepada Allah dan rasul, dan kami mentaati ‎‎(keduanya)”. Kemudian sebagian dari mereka berpaling sesudah itu, sekali-kali mereka itu ‎bukanlah orang-orang yang beriman. Dan apabila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-‎Nya, agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka, tiba-tiba sebagian dari mereka ‎menolak untuk datang. (Q.S An-Nur: 47,48)‎

Menjelaskan ayat ini, syeikh Abdul majid al-Zindani, pendiri Universitas Al-Aiman, berkata, ‎‎“Kelompok yang mengaku beriman, tetapi kenyataannya mengambil jalan hidup yang jauh dari ‎Islam, menentang hukum Allah Ta’ala, adalah representasi (perbuatan mewakili) orang-orang ‎munafik sepanjang zaman dan setiap waktu”. (Abdul Majid az-Zindani, Al-Munafikun Wal ‎Hakimiyah, hal 1) Wallahu ‘alam.‎

Penulis  : Azhar
Sumber : Majalah An-Najah, edisi 66, hal 8,9‎
Editor    : Ibnu ‎