Munafikin, Dinasti Penggugat Jihad (Makalah_1)

Ilustrasi
Ilustrasi

Hampir setiap hari, cuaca panas kota Madinah begitu menyengat. Terik matahari yang menyinari kota Madinah terasa mendidihkan ubun-ubun. Cuaca yang begitu panas tersebut membuat sebagian penduduk Madinah lebih senang tidur-tiduran dibawah pohon kurma. Karena ada sedikit kesejukkan kala angin sepoi berhembus. Mereka menyaksikan buah-buah kurma yang hampir ranum, panennya tinggal nunggu hari, membuat siapapun makin betah untuk berlama-lama di situ. Inilah cuaca kota Madinah pada bulan Rajab 9 H.

Disaat cuaca demikian, Rasulullah saw sebagai pemimpin Madinah kala itu menitahkan kaum muslimin untuk berangkat ke Tabuk. Sebuah kota yang terletak ratusan mil dari Madinah. Bukan untuk refreshing. Bukan pula untuk berdagang. Tetapi mereka diperintahkan ke Tabuk hanya untuk berjihad. Mempersembahkan harta dan jiwa di jalan Allah swt.

Disaat inilah ujian keimanan begitu berat. Selain cuaca yang begitu panas. Juga kondisi ekonomi yang sedang krisis, membuat sebagian orang merasa sangat berat untuk melaksanakan perintah ini.

Orang mukmin yang jujur serta merta melaksanakan perintah beliau saw. Tanpa tawar menawar. Mereka mengusahakan dana dengan berbagai macam cara. Hingga ada yang menjual perhiasan dan warisannya. Sebagian yang tidak mendapatkan bekal, datang kepada Rasul dengan meneteskan air mata. Mereka memohon kepada Rasulullah untuk diperkenankan berangkat. Dengan semangat yang memuncak mereka ingin bersama Rasulullah pergi berjihad, mendampingi beliau yang telah berumur 62 tahun.

Di tengah hiruk pikuk mempersiapkan diri untuk berjihad di perang Tabu, ada sebagian penduduk Madinah yang mencari-cari alasan untuk tidak berjihad. Padahal mereka memiliki kemampuan. Mereka adalah orang-orang munafik. Parahnya lagi, mereka bukan hanya meminta izin untuk tidak berjihad Lebih dari itu, mereka memprovokasi kaum muslimin untuk tidak berangkat. “Jangan berangkat, cuaca begitu panas.” Kata mereka.

kisah provokasi yang dilakukan oleh munafikin untuk menggagalkan jihad ini diabadikan oleh Allah swt dalam surat At Taubah ayat 81.

فَرِحَ الْمُخَلَّفُونَ بِمَقْعَدِهِمْ خِلَافَ رَسُولِ اللَّهِ وَكَرِهُوا أَنْ يُجَاهِدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَقَالُوا لَا تَنْفِرُوا فِي الْحَرِّ قُلْ نَارُ جَهَنَّمَ أَشَدُّ حَرًّا لَوْ كَانُوا يَفْقَهُونَ

“Orang-orang yang ditinggalkan (tidak ikut perang) itu, merasa gembira dengan tinggalnya mereka di belakang Rasulullah. Mereka tidak suka berjihad dengan harta dan jiwa mereka di jalan Allah dan mereka berkata: “Janganlah kamu berangkat (pergi berperang) dalam panas terik ini.” Katakanlah: “Api neraka jahannam itu lebih sangat panas(nya)” jika mereka mengetahui.” (at-Taubah: 81)

Munafik, Memusuhi Jihad Sepanjang Hayat

Al Qur’an menjelaskan aneka ragam sifak munafikin. Dari sekian sifat tersebut ada tiga perkara yang sering disebut-sebut al Qur’an sekaligus menjadi barometer menilai kemunafikan seseorang. Ketiganya adalah tentang Al-Wala’ wal Baro’, Berhukum kepada Allah, dan Jihad fi sabilillah.

Boleh dikata, jika ingin menguji seseorang apakah ia munafik atau tidak, mungkin alat yang paling ampuh untuk menguji dengan ketiga hal tersebut, terutama tentang jihad.

Setidaknya provokasi kaum munafikin terhadap jihad dapat dilihat dalam dua hal;

Pertama; Memprovokasi jihad dan mujahidin. Misalnya dengan memberikan gambaran yang mengerikan tentang jihad. Jihad identik denganh kekerasan, radikal, tidak berperikemanusiaan dan lain sebagainya.

Kedua: Menghalang-halangi manusia untuk terlibat dalam aktifitas jihad. Bisa jadi dengan menghalangi manusia untuk mengifakkan harta bagi aktifitas jihad dan mujahidin.* (Makalah: Mas’ud Izzul Mujahid. Dinukil dari Majalah An-Najah, Edisi _67)

Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan, dulu sebagian kaum muslimin dihasung oleh Rasulullah saw agar menginfakkan hartanya untuk jihad. Akhirnya berbondong-bondong kaum muslimin menginfakkan hartanya semampunya.

Ada yang menginfakkan hartanya hingga dipikul diatas punggung mereka, lalu orang-orang munafik mengomentari, “Dia ingin berbangga dan dipuji.” Ketika sebagian kaum muslimin hanya mampu menginfakkan segantang, orang-orang munafik mengomentari, “Allah tidak membutuhkan hanya segantang.” Begitulah lidah api orang munafik. Selalu memprovokasi orang yang berbuat baik, terutama dalam jihad.