Mushtofa Nahrawardana; OPM Teroris Nyata, Densus 88 Kemana?

Mustofa B Nahrawardaya
Mustofa B Nahrawardaya

Jakarta (An-najah.net) – Pemimpin OPM menantang pemerintah Indonesia adakan perang terbuka di Papua. OPM menuntut kemerdekaan dari Indonesia. Bahkan, tuntutan mereka merupakan harga mati dan mereka menolak untuk jalan dialog.

Ancaman OPM ini nyata. Namun, ketika ada teror kepada NKRI ini dimanakah Densus 88. Padahal densus 88 senantiasa memburu para terduga teroris. Sementara OPM ini bukan lagi terduga, akan tetapi jaringannya memang ada, punya senjata dan juga punya markas.

Pertanyaan seperti ini diungkapkan. Anggota Majelis Pustaka dan Informasi PP Muhammadiyah Mustofa B Nahrawardaya. Ia mempertanyakan keberadaan pasukan Densus 88 yang tidak merespon kelompok teroris-separatis Organisasi Papua Merdeka (OPM) yang menantang perang secara terbuka terhadap TNI dan Polri serta masyarakat non-Papua.

“Inilah fenomena janggal dalam program pemberantasan terorisme. Kelompok yang secara terbuka menantang aparat untuk head to head berperang untuk kemerdekaan, seolah tidak dianggap sebagai ancaman teror. Padahal yang diteror jelas negara. Dalam hal ini TNI/Polri. Mereka punya kelompok, punya jaringan. Punya senjata. Punya markas. Bahkan mungkin punya bekingan di Luar Negeri. Tapi kenapa Densus tidak meresponnya?” kata Mustofa saat dihubungi Suara Islam Online, Jumat (22/5/2015).

Menurutnya, malasnya Densus merespon ancaman separatis di Papua, besar kemungkinan karena kelompok tersebut benar-benar ada dan eksis serta diketahui punya struktur dan amunisi yang nyata.

“Ini jelas berbeda dengan terduga teroris di Jawa dan sekitarnya yang selama ini eksistensinya diketahui dari keterangan aparat. Ada kemungkinan lain, aparat dalam hal ini Densus, sudah mengetahui kekuatan para separatis Papua yang telah menantang mereka. Kekuatan riil yang sudah diketahui ini, kemudian dalam perhitungan, dapat membahayakan Densus,” ungkap Mustofa.

Peneliti terorisme ini menjelaskan, OPM tentu berbeda dengan teroris atau terduga yang selama ini keberadaannya dan kekuatannya tidak pernah terpublikasi secara transparan ke Publik. “Rata-rata, kekuatan para terduga teroris, maupun rencana-rencana mereka, biasanya hanya diungkapkan oleh aparat. Sementara, ancaman separatis Papua, lebih riil dan dapat diketahui publik secara luas,” jelas Mustofa.

Selain itu, kata Mustofa, bisa jadi ini adalah permainan intelijen hitam dalam mengatur “irama” politik pemerintahan. Tujuannya agar masyarakat dan media, bisa disibukkan dengan isu Papua Merdeka.

“Kenapa harus disibukkan dengan urusan Papua Merdeka? Karena barangkali sedang ada rencana terselubung lainnya yang sedang berjalan,” ungkapnya.(Anwar/annajah)