Nabi Musa AS, Yahudi dan Kota Al-Quds

Al Quds kota yang disucikan
Al Quds kota yang disucikan

An-Najah.net – Salah satu alasan Yahudi-(Bani Israel) bersyahwat menguasai Yerusalem atau Baitul Maqdis, adalah klaim mereka bahwa Yahudi adalah manusia yang paling berhak terhadap Baitul Maqdis, dibandingkan agama-agama lainnya. Karena, negeri tersebut adalah negeri orang-orang Yahudi, merekalah manusia yang pertama kali menempati negeri pertemuan tiga agama ini.

Demikian alasan orang-orang Yahudi. Namun jika ditelisik lebih dalam, sesungguhnya kita akan mendapati bahwa Yahudi adalah bangsa yang tidak punya sejarah, tidak memiliki peradaban bahkan tidak memiliki asal-usul, (Tarikh al-Hakiki lil Yahud, hlm. 17).

Jika pun mereka mengklaim bahwa mereka adalah anak keturunan Ibrahim AS; mereka seagama dan satu keyakinan dengan khalilurrahman, Ibrahim AS. Jelas hal ini terbantahkan dengan realitas; bahwa mereka berbeda jauh dengan nabi Ibrahim AS.

Allah SWT berfirman:

مَا كَانَ إِبْرَاهِيمُ يَهُودِيًّا وَلَا نَصْرَانِيًّا وَلَكِنْ كَانَ حَنِيفًا مُسْلِمًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

“Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang lurus [hanif], lagi berserah diri (kepada Allah)/muslim, dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik.” (QS. Ali Imron: 67)

Baitul Maqdis, Pra-Musa AS

Klaim Yahudi ini tidak menemukan legitimasi dalam sejarah. Sebab, berdasarkan riset para pakar, tidak didapatkan Yahudi sebagai manusia pertama kali yang menempati Yerusalem. Bahkan tidak ada catatan sejarah yang bisa dipertanggungjawabkan tentang siapa yang pertama kali tinggal di tempat suci ini.

Kajian sejarah hanya mampu melacak pada suku Kan’an dan Yobes. Disebutkan, bahwa ketika dakwah Nabi Ibrahim AS tidak medapatkan sambutan yang baik di Babilonia (Irak), beliau berhijrah ke negeri Syam, tepatnya di Nablus, Palestina.

Ibrahim AS dan keluarganya, akhirnya pergi ke Mesir saat musim paceklik melanda Syam. Di Mesir, beliau dihadiahi oleh Fir’aun, seorang wanita bernama Hajar. Dikemudian hari Hajar dinikahi dan melahirkan Isma’il AS.

Sementara istrinya Sarah AS, melahirkan Ishaq. Dari Ishaq-lah, nabi Ya’kub AS lahir, beliaulah yang dianggap bapak-nya kaum Yahudi/Israel. Sebab, nabi Ishaq dikenal juga dengan nama Israel. Dalam kisah yang mashur, Ya’kub melahirkan 12 anak dari empat istri.

Salah satu anaknya adalah nabi Yusuf AS, yang dibuang oleh saudara-saudaranya di sumur tua. Kemudian diselamatkan oleh para pedagang. Beliau dijual di pasar Mesir, ia pun dibeli oleh….

Setelah menjadi bendahara Mesir, Yusuf mengundang kedua orang tua dan saudara-saudaranya untuk tinggal di Mesir. Sepeninggalan beliau AS, bangsa Mesir, suku Qibthiy, mulai arogan kepada mereka. Hingga, Bani Israel (anak keturunan nabi Ya’kub) ini diperbudak oleh mereka.

Banyak hal yang menjadikan bangsa Qibthi arogan dan memperbudak Bani Israel. Diantaranya; karena perbedaan keyakinan; latar belakang Bani Israel adalah beribadah kepada Allah SWT. Tidak menyekutukan-Nya dengan makhluk-Nya. Yaitu tauhid, monotheisme. Sementara bangsa Mesir adalah bangsa pagan. Beribadah kepada patung. Kesyirikan mereka diperparah dengan klaim Fir’aun, bahwa dirinya adalah tuhan.

Bani Israel & Musa AS

Di tengah-tengah penindasan ini, Allah SWT mengutus di tengah mereka nabi Musa AS. Membawa misi dakwah Islam, serta membebaskan Bani Israel dari perbudakan. Allah SWT mengisahkannya dalam surat asy-Syu’ara, ayat 10 hingga 68.

Setelah terjadi dialog dan perdebatan yang sangat menegangkan antara nabi Musa AS dengan Fir’aun. Akhirnya Fir’aun kalah argumen. Seluruh argumentasi ketuhanan dan makarnya terhadap dakwah Musa AS, dipatahkan oleh Musa dalam debat.

Ketika seluruh argumentasinya dipatahkan secara logis dan data yang akurat, Fir’aun menutup pintu dialog. Dan ia membuat peraturan dan undang-undang (perpu) bahwa dirinya adalah dzat yang sakral nan suci, kata-katanya adalah ideology bangsanya. Sesiapa yang mencoba mengkritik, apalagi mengambil dirinya sebagai tuhan yang ditaati, berarti ia penjahat dan pelaku criminal yang tidak dimaafkan. Ia berkata:

قَالَ لَئِنِ اتَّخَذْتَ إِلَهًا غَيْرِي لَأَجْعَلَنَّكَ مِنَ الْمَسْجُونِينَ

“Fir’aun berkata: ‘Sungguh jika kamu menyembah Tuhan selain aku, benar-benar aku akan menjadikan kamu salah seorang yang dipenjarakan’.” (Asy-Syu’ara: 29)

Fir’aun berhasyrat mempermalukan Musa AS. Bahwa apa yang dibawa Musa dan Harun berupa ajaran Allah SWT dan syari’at-Nya, sesuatu yang tidak layak diikuti; lemah, tidak logis, dan layak dimusuhi. Ia pun mengadakan pertandingan sihir. Pada pertandingan ini, Fir’aun kalah telak. Bahkan para tukang sihirnya beriman kepada Musa AS.

Tidak puas. Fir’aun bahkan mengancam membunuh para tukang sihir yang beriman. Padahal, sejak kurun waktu yang lama, mereka berjasa membangun dan menjaga kerajaan Fir’aun. Tapi beginilah karakter kufur. Ia tidak akan ridho terhadap kebenaran.

Allah SWT mengisahkan (Asy-Syu’ara: 49-51):

Fir’aun berkata: “Apakah kamu sekalian beriman kepada Musa sebelum aku memberi izin kepadamu? Sesungguhnya dia benar-benar pemimpinmu yang mengajarkan sihir kepadamu maka kamu nanti pasti benar-benar akan mengetahui (akibat perbuatanmu); sesungguhnya aku akan memotong tanganmu dan kakimu dengan bersilangan dan aku akan menyalibmu semuanya.”

Mereka berkata: “Tidak ada kemudharatan (bagi kami); sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami, sesungguhnya kami amat menginginkan bahwa Tuhan kami akan mengampuni kesalahan kami, karena kami adalah orang-orang yang pertama-tama beriman.”

Setelah itu, Allah menyelamatkan Bani Israel, di bawah komando dua nabi, Musa AS dan Harun AS. Mereka berhasil menyeberangi lautan. Sesaat sebelum Allah SWT membelah lautan lewat nabi Musa AS; Yahudi Bani Israel yang telah terkontaminasi akhlak dan ideology kaum pagan Mesir, bertanya setengah mengejek kepada Musa AS:…

Keras kepalanya Yahudi bisa dilihat beberapa waktu setelah mereka selamat ke negeri seberang. Sementara musuh utamanya telah ditenggelamkan oleh Allah SWT. Yaitu, saat Allah SWT mewahyukan kepada Musa AS, untuk mengajak kaumnya masuk ke al-Ardhu al-Muqoddasah, negeri yang dijanjikan bagi mereka, yaitu Baitul Maqdis atau Yerussalem. Lebih dikenal dengan al-Aqsha.

Bukan taat kepada perintah Allah SWT. Justru menolak dengan kasar. Bahkan memerintahkan Musa dan Allah saja, yang pergi masuk ke negeri ini. Sebab di dalam al-Aqsho ada bangsa jabbariyin, yang sangat kuat dan bengis.

Mengisahkan penolakan mereka ini:

Mereka berkata: “Hai Musa, sesungguhnya dalam negeri itu ada orang-orang yang gagah perkasa, sesungguhnya kami sekali-kali tidak akan memasukinya sebelum mereka ke luar daripadanya. Jika mereka ke luar daripadanya, pasti kami akan memasukinya.” (Qs. Al-Ma’idah: 22)

Mereka berkata: “Hai Musa, kami sekali sekali tidak akan memasukinya selama-lamanya, selagi mereka ada didalamnya, karena itu pergilah kamu bersama Tuhanmu, dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti disini saja.” (Qs. Al-Maidah: 24)

Kalimat-kalimat mereka ini sangat menyakiti Musa AS. Hal ini membuat beliau ingin berpisah dari mereka. Allah mengisahkan; Berkata Musa: “Ya Tuhanku, aku tidak menguasai kecuali diriku sendiri dan saudaraku. Sebab itu pisahkanlah antara kami dengan orang-orang yang fasik itu.” (Qs. Al-Maidah: 25)

Allah SWT pun menghukum mereka dengan diharamkan masuk ke dalam Baitul Maqdis. Pengharaman ini, menurut sebagian ulama bersifat sementara, sebagian lainnya mengatakan; bersifat abadi. Artinya, Yahudi tidak akan bisa menguasai Yerussalem selama-lamanya, atau seutuhnya.

Hukuman kedua, mereka dibuat bingung di lembah at-Tiih. Yaitu, mereka tidak bisa keluar darinya. Dari-hari ke hari, selama 40 tahun, mereka hanya mengelilingi lembah yang berdiameter 6 Farsakh, kurang lebih 33 KM.

Pada saat keliling inilah mereka meminta hal-hal yang aneh kepada Musa AS. Seperti; ingin melihat wujud Allah SWT, minta diturunkan nampan besar dari langit (ma’idah) yang berisi makanan yang enak-enak. Di sini juga peristiwa manna wa salwa, terjadi.

Yerussalem Dari Yusa’ Hingga Romawi

Di tengah kebingungan ini, Allah SWT mewafatkan Musa dan Harun AS. Merekapun dipimpin oleh nabi Yosua bin Nun. Beliaulah yang membawa Bani Israel keluar dari lembah ini, dan mengantarkan mereka masuk ke dalam baitul maqdis.

Sepeninggalan Yusa AS, mereka terpecah belah. Yosua pun digantikan oleh beberapa nabi. Tapi setiap nabi yang diutus di tengah mereka, selalu dilawan, diintimidasi, bahkan dibunuh. Sehingga kondisi mereka selalu dihinakan oleh Allah SWT.

Dalam sebuah ayat Allah SWT mengisahkan;

“Maka (Kami lakukan terhadap mereka beberapa tindakan), disebabkan mereka melanggar perjanjian itu, dan karena kekafiran mereka terhadap keterangan-keterangan Allah dan mereka membunuh nabi-nabi tanpa (alasan) yang benar dan mengatakan: “Hati kami tertutup.” Bahkan, sebenarnya Allah telah mengunci mati hati mereka karena kekafirannya, karena itu mereka tidak beriman kecuali sebahagian kecil dari mereka.” (Qs. An-Nisa’: 155)

Hingga mereka dipimpin oleh Thalut yang berhasil mengalahkan Jalut dan tentaranya. Sebelumnya, merekalah termasuk bangsa yang menyiksa Bani Israel. Pimpinannya, Jalut, tewas di tangan seorang anak muda belasan tahun bernama Dawud AS.

Kelak Dawud AS menggantikan kepemimpinan Thalut. Sepeninggalannya, Putra Dawud AS,  nabi Sulaiman AS, menggantikan bapaknya memimpin Bani Israel. Pada masa  inilah Bani Israel mencapai sepeninggalan Nabi Sulaiman AS, kehidupan Bani Israel mulai melemah dan rusak.

Mereka dikuasai banyak bangsa diantaranya; Kisaran tahun 740 -572 SM, Yahudi dikuasai oleh kaum Asyur  dan Babilonia, kedua-duanya berasal dari Irak. Tahun 539-331 SM, mereka dijajah oleh bangsa Persia. Dan tahun 332-62 SM dijajah oleh Yunani. Setelah itu Tahun 63 SM hingga lahirnya nabi Isa AS, mereka di bawah kekuasaan Romawi.

Ditengah kerusakan ini, Allah SWT mengutus ditengah mereka tiga orang nabi dalam waktu yang sama, untuk memperbaiki kondisi mereka yang sudah jauh menyimpang dari ajaran nabi-nabi sebelumnya. Ketiganya adalah: Zakariya, Yahya dan Isa AS.

Nabi Zakariya dan Yahya AS dibunuh. Sementara Nabi Isa AS diburu oleh raja Ptolemareus dan orang-orang Yahudi. Allah SWT mengangkat Isa ke langit. Dan kelak di hari kiamat nanti, Isa AS akan turun ke bumi. Bersama imam Mahdi memerangi Dajjal. Kelak, beliaulah yang berhasil membunuh Dajjal.

Setelah ditinggal nabi Isa AS, sekitar tahun 33 M, terjadi perseteruan hebat antara Yahudi dan Masehi (Kristen). Pada puncaknya, pada kaisar Romawi Hadrianus, mengusir Yahudi dari Al-Quds. Mereka dilarang tinggal, dan berkunjung ke alQuds. Pada tahun 324 M, Kaisar Roma, Konstatinus memeluk Kristen. Ia pun melakukan perluasaan wilayah Bizantium Raya, hingga Al-Quds. Di Al-Quds ia membangun gereja besar saat itu, yaitu gereja kiamat.

Konflik antara kekaisaran Romawi sangat kuat, hingga Romawi pecah menjadi dua; Barat, yang beribukota di Roma, dan Romawi Timur yang meliputi Syam, termasuk Palestina. Raja-raja mereka bergelar Heraclius.

Sang raja terakhir bermimpi bahwa kekaisarannya akan ditaklukkan oleh raja orang-orang yang disunat. Saat itu, tidak ada yang sunat kecuali Yahudi. Dan ternyata kelak yang menundukkan Heraclius adalah khalifah Umar bin Khatthab RA. Beliaulah yang membebaskan Al-Quds, kelak.

Kekaisaran Imperium ini bertahan hingga nabi Muhammad SAW diutus. Dan hilang dari peta dunia, pada saat Umar bin Khatthab menjadi khalifah. Terutama kekalahan Heraclius pada perang Yarmuk, saat itu umat Islam dipimpin sahabat Khalid bin Walid. Jatuhnya Yerussalem/Al-Quds ke tangan umat Islam saat dipimpin panglima Abu Ubaidah bin Jarrah RA, era Umar bin Khatthab, mengakhiri kisah Romawi di Al-Quds, (Ensiklopedi Palestina, Dr. Suwaidan,).

Beginilah bangsa Yahudi, selalu diusir di mana-mana. Inilah hukuman yang Allah SWT timpakan kepada mereka, disebabkan kedurhakaannya. Dan Palestina, terkhusus Al-Quds, menjadi tempat suci yang diperebutkan sejak dahulu kala.

Penulis : Mas’ud Izzul Mujahid

Sumber : Majalah An-Najah Edisi 146 Rubrik Tema Utama

Editor : Anwar