Najiskah Jasad Orang Kafir dan Musyrik

Ilustrasi Najis
Ilustrasi Najis

An-Najah.net –

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ  : أَنَّهُ لَقِيَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي طَرِيقٍ مِنْ طُرُقِ الْمَدِينَةِ وَهُوَ جُنُبٌ ، فَانْسَلَّ فَذَهَبَ فَاغْتَسَلَ، فَتَفَقَّدَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، فَلَمَّا جَاءَهُ ، قَالَ : أَيْنَ كُنْتَ يَا أَبَا هُرَيْرَةَ ؟ قَالَ : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، لَقِيتَنِي وَأَنَا جُنُبٌ ، فَكَرِهْتُ أَنْ أُجَالِسَكَ حَتَّى أَغْتَسِلَ . فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : “ سُبْحَانَ اللَّهِ ، إِنَّ الْمُؤْمِنَ لاَ يَنْجُسُ “ .

Dari Abu Hurairah RA bahwasanya dia bertemu Nabi SAW di salah satu jalan di Madinah, sedangkan dia dalam keadaan junub. Maka dia menyelinap dan pergi untuk mandi sehingga Rasulullah SAW mencarinya. Ketika Abu Hurairah datang kembali, beliau pun bertanya, “Ke mana kamu pergi wahai Abu Hurairah?”Abu Hurairah menjawab, “Wahai Rasulullah, ketika engkau menjumpaiku tadi aku dalam keadaan junub; aku tidak ingin duduk bersamamu sebelum aku mandi. Lalu Rasulullah SAW bersabda, “Subhânallâh, sesungguhnya orang mukmin itu tidak najis.”

Baca Juga : HUkum Alas Kaki Yang Terkena Najis

Takhrij Hadits

Hadits ini diriwayatkan dari jalur Abu Hurairah, ditakhrij oleh Imam al-Bukhari, Muslim, Abu Daud, an-Nasai, at-Tirmidzi, Ibnu Majah, Imam Ahmad, Abu Awânah dan ath-Thahawi. Hadits serupa juga diriwayatkan dari jalur Abu Wail dan Abu Burdah, dari Hudzaifah ibnul Yaman. (Diringkas dari Irwâ’ al-Ghalîl, 1/193-194)

Nash hadits di atas mengacu pada riwayat Imam Muslim di dalam Kitab Shahihnya. Beliau menulisnya dalam Kitab Haidh, Bab Dalil yang menunjukkan bahwasanya Muslim itu tidak najis. Sedangkan Imam Bukhari meletakkannya pada Kitab Mandi, Bab Keringat orang junub, dan sesungguhnya orang Muslim itu tidak najis. Dan Bab Orang yang junub keluar dan berjalan di pasar dan tempat-tempat lainnya.

Intisari Hadits

Pertama, Seorang alim apabila melihat sesuatu yang keliru pada pengikut atau muridnya, hendaknya menanyakannya. Lalu meluruskan dengan menjelaskan hukumnya. Sebelumnya, Abu Hurairah dan Hudzaifah bin Yaman mengira bahwa status junub adalah najis. Karenanya, mereka menghindar sementara dari Rasulullah SAW.

Kedua, Orang junub, haidh dan nifas tidak najis. Baik liur atau keringatnya. Kondisi junub tidak menajiskannya dan benda yang disentuhnya.

Ketiga, Dianjurkan bersuci dari hadats saat menghadapi urusan-urusan yang mulia. Seperti menemui alim ulama. Termasuk sikap hormat kepada mereka dengan menjaga penampilan yang baik, rapi dan sempurna; bersih dan suci, serta memotong kuku dan rambut yang diperintahkan memotongnya, dan menghilangkan bau yang dibenci, serta tidak mengenakan pakaian yang tidak disukai, dan adab-adab lainnya.

Keempat, Apabila sedang berurusan dengan seseorang, dianjurkan untuk pamit kepadanya apabila hendak pergi dan berpisah darinya.

Kelima, dibolehkan menunda mandi junub jika ada kebutuhan selama belum masuk waktu shalat, dan boleh bagi orang junub untuk keluar dan berjalan di pasar dan tempat-tempat lainnya. (Fathul Bary,   1/391; Syarh Shahih Muslim, 4/66-67)

Baca Juga : Menghadapi Ujian Dengan Keimanan

Jasad Orang Muslim Mutlak Tidak Najis

Sudah menjadi ijma’ muslimin bahwa jasad seorang muslim adalah suci; keringatnya, liurnya ataupun air matanya, walau dalam kondisi junub, haidh, nifas, ataupun hadats kecil. Begitu pula setelah meninggal, jasadnya suci menurut pendapat paling kuat, berdasarkan keumuman hadits di atas dan perkataan Ibnu Abbas, “Orang Islam itu tidak najis, baik hidup ataupun meninggal.” (Syarh Shahih Muslim, 4/66)

Ikhtilaf Ulama’ Mengenai Jasad Orang Kafir dan Musyrik

Pertama, orang kafir dan musyrik adalah najis badannya; demikian menurut madzhab Zhahiri dan Ahlul Bait, dan sebagian ulama Malikiyah. Dalilnya adalah mafhum hadits, “Sesungguhnya orang beriman itu tidak najis”, dan QS. At-Taubah: 28, “Sesungguhnya orang-orang musyrik itu najis.” (Nailul Authâr, 1/35)

Hasan al-Bashri berkata, “Janganlah kalian berjabat tangan dengan mereka. Dan barangsiapa yang berjabat tangan dengan mereka, hendaklah dia berwudhu’.” (Tafsir ath-Thabari, 14/192)

Kedua, menurut jumhur salaf dan khalaf; jasad orang kafir dan musyrik tidak najis, sebagaimana halnya jasad orang Muslim. (Syarh Shahih Muslim, 4/66)

Menurut jumhur, para ahli tafsir sepakat bahwa lafazh najis pada QS. At-Taubah: 28 diartikan dengan makna lughawi, bukan makna urfi dalam kamus fuqaha’. Dimana orang-orang Arab kadang melontarkan ucapan najis kepada seseorang, yang maksudnya adalah kotor jiwanya, meskipun secara kasat mata badan dan bajunya itu bersih dan suci.

Baca Juga : Haruskah Saya Harus Mengkafirkan, Untuk Menjaga agamaku?

Artinya menurut jumhur, orang-orang kafir itu najis aqidahnya dan kotor jiwanya, bukan najis badannya sehingga patut dicuci dan dibasuh, seperti halnya tinja dan air seni. (Tafsir al-Manar, 10/241,243)

Kemudian bukankah pada Qs. al-Maidah ayat 5 Allah telah menghalalkan orang beriman menikahi wanita ahlul kitab? Tentunya keringat, liur dan lendir yang keluar dari tubuhnya tidaklah bisa dihindari oleh suaminya yang Muslim saat bersentuhan dan berhubungan. Dan tidak ada perintah Syariat untuk membasuh dan mencucinya, kecuali seperti yang dilakukannya kepada istrinya yang muslimah. Ini semua menunjukkan bahwa badan manusia hidup tidak najis. (Fathul Bary, 1/390)

Adapun tafsiran Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa najisnya kaum musyrikin itu seperti najisnya anjing dan babi. Ini dijawab oleh Imam ath-Thabari dalam tafsirnya (14/191), “Pendapat ini diriwayatkan dari Ibnu Abbas lewat jalan yang tidak terpuji, makanya kami benci menyebutkannya.”

Perkataan al-Hasan ataupun Ibnu Abbas di atas adalah satu sikap berlebih-lebihan, agar kita menjauh dan berhati-hati terhadap orang-orang musyrik. (Tuhfât al-Ahwadzi, 1/325)

Maka dari itu menurut sebagian ulama dan dibenarkan oleh Imam Nawawi, jenazah orang kafir lazimnya jenazah Muslim adalah tidak najis. (Syarh al-Muhadzzab, 2/561)

Sebagian ulama lain menilai masalah ini dikembalikan kepada hukum asal bangkai. Hukum asal bangkai adalah najis kecuali jika ditemukan dalil yang mengubah hukumnya. Contohnya; bangkai hewan laut, dia halal karena adanya hadits, “(Laut) itu suci airnya dan halal bangkainya.”

Demikian juga mayat orang beriman, dia tidak najis berdasarkan hadits, “Sesungguhnya orang beriman itu tidak najis”, mutlak, baik hidup ataupun mati; sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Abbas, “Janganlah kalian katakan mayat-mayat kalian itu najis, sesungguhnya orang Mukmin itu tidak najis, baik hidup ataupun mati.” (HR. Said bin Manshur, dan sanadnya shahih)

Baca Juga : Matinya Iman Kaum Muslimin

Selain itu, maka harus dikembalikan kepada hukum asal bangkai yaitu najis; dan di antaranya adalah mayat orang kafir dan musyrik. (Syarh Zaad al-Mustaqni’ Syaikh asy-Syanqithi, 1/371).

Syaikh Muhammad Shalih al-‘Utsaimin menjelaskan, “Jika menyalatkan orang kafir saja dilarang padahal itu adalah perbuatan paling mulia bagi si mayit dan paling mendatangkan manfaat; maka perbuatan yang lebih ringan dari shalat tentunya lebih dilarang, karena orang kafir adalah najis, dan memandikannya tidak bisa mengangkat kenajisannya.

Ini berdasarkan firman Allah, “Sesungguhnya orang-orang musyrik itu najis”, dan mafhum hadits, “Sesungguhnya orang Muslim itu tidak najis.” Maka dari itu memandikannya adalah haram, karena di antara syarat sahnya mandi adalah Islam.” (asy-Syarh al-Mumti’, 5/270)

Semoga ini menjadi pendapat paling kuat dalam menyikapi mayat orang kafir dan musyrik. Wallaahu a’lam.

Sumber : Majalah An-najah Edisi 111 Rubrik Fiqih Ibadah

Penulis : Abu Asiyah Zarkasyi

Editor : Anwar