Narasi Snouck Hurgronje Hancurkan Islam di Indonesia

Snouck Hurgronje
Snouck Hurgronje

An-Najah.net – Upaya untuk menjauhkan umat Islam dari politik sudah dilakukan sejak dahulu kala.  Snouck Hurgronje itulah nama aktor pelakunya. Ia seorang orientalis yang banyak mengkaji budaya ketimuran dan agama Islam.

Tujuan mengkaji Islam bukan untuk difahami dan diamalkan, akan tetapi dicari celah bagaimana bisa menghancurkan. Sehingga Islam tidak menjadi batu sandungan bagi mereka untuk menjajah negeri ini.

Saat itu Islam dianggap sebagai unsur yang paling berbahaya. Islam dianggap sebagai ancaman bagi hegemoni Penjajah Belanda di Nusantara. Munculnya banyak perlawanan terhadap penjajah Belanda, seperti Perang Padri, Perang Diponegoro, dan Perang Aceh serta perang yang lainnya tidak lepas dari pengaruh Islam.

Semua perang besar diatas selalu menggunakan spirit jihad atau perang sabil melawan kekuatan penjajah kafir Belanda. Untuk memenangkan pertempuran dan mencegah perlawanan pemerintah kolonial Belanda berusaha sekuat tenaga untuk melemahkan semangat jihad umat Islam di nusantara dengan segala cara yang mereka mampu.

Belanda baru menemukan cara yang dianggap ampuh setelah melibatkan seorang Islamolog, Cristian Snouck Hurgronje. Perihal keislamannya ini, Snouck pernah berkirim surat kepada temannya Theodor Noldeke, seorang ahli islamologi asal Jerman bahwa dirinya hanya sebatas izhar al-islam, berislam secara lahiriah saja. Bahkan ia menganti namanya menjadi Abdul Ghaffar.

Jasa Snouck Hurgronje bagi pemerintah Hindia Belanda sangatlah besar. Namun sebaliknya merupakan musibah bagi umat Islam di nusantara. Dia merupakan peletak dasar pemisahan politik dan agama, yang merupakan rumusan-rumusan kebijakan pemerintah kolonial Hindia Belanda dalam menangani masalah Islam.

Salah satu masukan kepada Belanda adalah gagasan tentang Sekularisasi. Untuk menaklukkan umat Islam di Indonesia, pemerintah kolonial harus memahami terlebih dahulu bahwa musuh mereka bukanlah Islam sebagai agama, melainkan Islam sebagai doktrin politik.

Rekomendasi Snouck

Snouck membagi masalah Islam atas tiga kategori, yakni: 1. Bidang Agama murni atau ibadah, 2. Bidang sosial kemasyarakatan, dan 3. Bidang politik. Masing-masing bidang menuntut pendekatan dan pemecahan berbeda.

Pertama, Bidang agama murni atau ritual-ritual ibadah murni seperti shalat, zakat, puasa, dan lainnya.

Pada bidang ini, Snouck selalu menegaskan kepada pemerintah kolonial agar jangan mengganggu sedikitpun terhadap umat Islam dalam hal ini.

Snouck mengkritik kebijakan Belanda yang menghalang-halangi umat Islam dalam melaksanakan ritual umat Islam. Bagi snouck ini merupakan cikal bakal terjadinya perlawan umat Islam terhadap hegemoni. Dari situlah muncullah perlawanan yang dijiwai perang sabil

Menurut Snouck, hal-hal yang sifatnya dogmatis seperti ini tidak akan membahayakan pemerintah kolonial, selain itu dari kalangan umat Islam sendiri akan terjadi perubahan secara perlahan untuk meninggalkan dogma-dogma mereka tanpa harus diperintah oleh pemerintah. Persoalan ibadah murni diberi warna hijau selama tidak membahayakan kekuasaan Belanda.

Kedua, Bidang sosial kemasyarakatan, yang berupa adat serta budaya yang berkembang di masyarakat.

Snouck selalu mengupayakan asosiasi kebudayaan antara kebudayaan Belanda dengan kebudayaan lokal (Local Wisdom).

Di samping itu Snouck selalu memanfaatkan kaum adat serta kaum abangan untuk membenturkan mereka dengan kaum ulama dan santri, propaganda yang disebarkan adalah ulama dan santri tidak menghargai adat setempat. Snouck menerapkan strategi belah bambu. Persoalan sosial kemasyarakatan diberi warna kuning perlu diwaspadai mana yang bisa dijadikan kawan dan lawan.

Ketiga, Bidang politik, pemerintah Belanda dengan tegas menolak setiap usaha yang akan membawa rakyat kepada fanatisme dan Pan Islamisme (khilafah). Persoalan politik diberi warna merah harus ditindak tegas.

Unsur politik dalam Islam harus diwaspadai dan kalau perlu ditindak tegas. Berbagai pengaruh asing yang menjurus ke politik harus diwaspadai. Satu hal yang perlu diperhatikan dalam hal ini adalah menghindari segala tindakan yang terkesan menentang kebebasan beragama.

Snouck sangat mengkhawatirkan munculnya ideologi Islam Politik. Bagi Snouck Hurgronje musuh politik kolonial bukanlah Islam sebagai Agama, melainkan Islam sebagai doktrin Politik, baik dalam bentuk agitasi oleh kaum fanatik lokal maupun dari luar dalam bentuk Pan Islamisme (Khilafah).

Politik Sekuler

Ide yang ingin dimatikan Snouck adalah ide politik Islam. Lebih spesifik lagi yaitu ide Khilafah (pan Islam) dan Jihad. Karena dua ide itulah yang dianggap paling berbahaya bagi keberlangsungan penjajahan Belanda. Snouck mengiginkan Islam hanya menjadi “agama Masjid” saja, jangan sampai mengurusi sampai politik. Inilah pemikiran sekular.

Khilafah dan Jihad berusaha dimatikan dengan narasi-narasi dan pemikiran-pemikiran Snouck. Salah satu narasi untuk melawan ide perlawanan dengan Jihad yang selalu dikampanyekan Snouck adalah Jihad Akbar, Jihad melawan hawa nafsu, untuk menafikan Jihad dalam makna yang sebenarnya yaitu melawan hegemoni orang kafir Belanda.

Jadi Islam yang diinginkan oleh Snouck dan dianggap sebagai Islam yang benar adalah Islam yang sudah disesuaikan dengan adat istiadat daerah, bukan Islam yang murni dan terkena pengaruh Arab yang dianggap akan mengganggu keamanan dan ketertiban. Islam yang direstui kolonial adalah Islam yang diciptakan untuk “Sujud” dan loyal terhadap kekuasaan Pemerintah Belanda.

Umat ini jangan mengikuti apa yang diingini Snouck, akan tetapi harus mengikuti apa yang dimaui oleh Allah. Bumi ini adalah buminya allah, sudah selayaknya diatur dengan syari’at Allah. Islam sebagai agama universal. Politik merupakan sarana alat untuk memperjuangkan Islam oleh karena itu Islam dan politik tidak boleh dipisahkan.

Penulis : Anwar

Sumber : Majalah An-Najah Edisi 138 Rubrik Jelajah

Editor : Abu Mazaya