Nasib Umat Islam di Akhir Zaman, dari Bangsa Pemburu menjadi Buruan Bangsa Lainnya

Umat Islam
Umat Islam
Umat Islam

An-Najah.net – Dari Samurah bin Jundub, Rasulullah SAW bersabda:

يُوشِكُ أَنْ يَمْلَأَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ أَيْدِيَكُمْ مِنْ الْعَجَمِ ثُمَّ يَكُونُوا أُسْدًا لَا يَفِرُّونَ فَيَقْتُلُونَ مُقَاتِلَتَكُمْ وَيَأْكُلُونَ فَيْئَكُمْ

Hampir-hampir saja Allah Azza wa jalla akan memberikan seluruh kekuasaan orang-orang (selain orang Arab) hingga tangan kalian penuh,

kemudian mereka itu akan berubah menjadi singa yang tidak mempunyai rasa gentar untuk lari. Mereka akan membantai para pejuang kalian dan akan memakan harta kalian. (HR. Ahmad)

Al-Hakim juga meriwayatkan hadits ini, Al-Fitan, hadits no. 8563 dan 8583. Dia menyatakan hadits isnad-nya shahih. [Al-Mustadrak (4/557 dan 546).

Sejarah Islam berisi torehan kisah-kisah kepahlawanan dan sikap ksatria kaum muslimin di berbagai medan pertempuran. Slogan hidup mulia atau mati syahid dan teriakan takbir yang membelah langit telah membuat musuh-musuh Islam mengakui kekuatan umat ini.

Perang Badar, Tabuk, Khandak, Qadisiah, hingga Yarmuk, memberi gambaran betapa sedikitnya jumlah umat Islam bila dibandingkan dengan jumlah musuh mereka. Namun sedikitnya bilangan tidak menjadi penghalang berpihaknya kemenangan pada mereka.

Bukan hanya soal kehebatan saat bertempur, kecepatan ekspansi umat Islam dalam menguasai sebuah negeri adalah prestasi tersendiri. Sebelum Rasulullah SAW wafat, hampir sebagian besar wilayah Jazirah Arab berada dalam kekuasaan kaum muslimin.

Di zaman Umar bin Khattab, 1/3 dunia berhasil ditundukkan. Di masa khalifah ke-2 tersebut isyarat Nabi agar Jazirah Arab steril dari orang-orang musyrik terwujud.

Begitulah keadaan kaum muslimin, persis seperti yang tergambar pada riwayat di atas. Jika definisi al-qital lebih diperluas tidak sekadar perang fisik dan senjata, kaum muslimin juga telah memenangkan peperangan dalam semua front dan lini kehidupan.

Peradaban yang dibangun dengan kekuatan senjata juga disempurnakan dengan kekuatan pengetahuan, akhlak, moral dan spiritual. Sehingga keunggulan Islam di atas musuh-musuhnya bukan semata keunggulan fisik dan peralatan perang semata, namun juga mencakup hal-hal yang bersifat metafisik.

Inilah yang terjadi pada kaum muslimin dan berlangsung dalam rentang waktu yang cukup panjang. Lebih dari seribu tahun kaum muslimin mampu menjaga warisan keagungan ini, bukan hanya di satu wilayah atau negara saja, melainkan hampir merata di berbagai penjuru dunia.

Dari ujung timur hingga barat, utara dan selatan, semua bisa merasakan dampak dari kemenangan ideologi langit yang diusung oleh manusia manusia pilihan itu.

Namun, sebagaimana yang juga termuat dalam nubuwat di atas, nabi juga mengisyaratkan bahwa roda bumi senantiasa terus berputar. Hingga datanglah masa dan babak kehidupan di mana kondisi umat Islam bertolak belakang dengan apa yang telah berlalu.

Bandul sejarah kini telah berbalik arah. Musuh yang dahulu sangat gentar dan ciut nyali bila mendengar nama Islam dan umat Islam, kini menjelma bagai singa buas yang tidak punya rasa gentar.

Di akhir masa keemasan Turki Utsmani, memasuki abad ke 18-19 dan 20 masehi, musuh-musuh Islam menemukan momentum kebangkitan mereka untuk memukul umat Islam. Revolusi industri di Barat menjadi titik balik kekuatan Barat di segala bidang kehidupan dunia.

Bangsa Barat mulai bangkit dengan beragam sarana dan teknologi yang berhasil mereka temukan. Mereka bekerja siang malam untuk membalik keadaan. Semua bidang dan keahlian mengelola kehidupan mereka tempuh. Beragam disiplin ilmu pengetahuan mereka pelajari sampai titik maksimal yang bisa mereka capai.

Sementara, masa-masa itu merupakan titik kritis umat Islam. Abad 17 hingga 20 M merupakan fase keruntuhan dan kemerosotan umat Islam di segala bidang; politik, sosial, ekonomi, akhlak, pendidikan, bahkan akidah dan syariah.

Pada masa-masa kemunduran kaum muslimin, buku-buku akidah berisi perdebatan masalah-masalah akidah dengan landasan ilmu kalam, tidak lagi mengajarkan peranan iman dalam kehidupan nyata manusia. Al-Qur’an dan As-Sunnah yang begitu jelas memaparkan masalah akidah justru ditinggalkan.

Pada masa ini juga, berbagai bentuk kesyirikan dan sarana-sarana yang mengantarkan kepada syirik menyebar luas di tengah umat.

Sementara, dalam bidang syariat, banyak ilmu-ilmu syar’i yang diajarkan telah dicampuri oleh syirik, bid’ah, hadits-hadits palsu atau lemah dan cerita-cerita israiliyat; juga didominasi oleh tasawuf, filsafat dan ilmu kalam.

Kemunduran di bidang ini juga diwarnai dengan fenomena betapa mudahnya pemberian ijazah (gelar) keulamaan meskipun orang-orang yang diberi gelar tersebut belum memiliki kelayakan.

Bahkan jabatan mengajar, memberi fatwa, mengimami, dan menjadi qadhi dialihkan dengan jalan pewarisan; setiap kali seorang ulama, mufti, imam, atau qadhi meninggal, maka anak, saudara atau kerabatnya menggantikan kedudukannya.

Meskipun tidak memiliki kemampuan yang cukup. Jika itu yang menimpa pada bidang ilmu syari’at, maka kondisi politik, militer, ekonomi dan kehidupan sosial kaum muslimin jauh lebih mengenaskan lagi.

Puncak dari semua kemunduran itu adalah runtuhnya khilafah. Pada tahun 1924 Turki Utsmani resmi dibubarkan setelah beberapa puluh tahun sebelumnya hanya sekadar simbol tanpa ada eksistensi.

Sejak saat itu, hingga kini, semakin sempurnalah apa yang disabdakan nabi di atas, kemudian mereka itu akan berubah menjadi singa yang tidak mempunyai rasa gentar untuk lari. Mereka akan membantai para pejuang kalian dan akan memakan harta kalian.

Riwayat di atas, dikuatkan dengan sabda Nabi SAW lainnya, “Nyaris tiba saatnya banyak umat yang memperebutkan kalian, seperti orang-orang makan yang memperebutkan hidangannya.” Maka, ada seseorang bertanya, “Apakah karena sedikitnya kami pada hari itu?”

Beliau menjawab, “Justru jumlah kalian banyak pada hari itu, tetapi ibarat buih di atas air. Sungguh Allah akan mencabut rasa takut kepada kalian dari dada musuh kalian dan menimpakan kepada kalian penyakit wahn.” Seseorang bertanya, “Apakah wahn itu, wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “Cinta dunia dan takut mati.” (HR. Ahmad : 21891 dan Abu Daud : 4297)

 

Sumber : Majalah An-Najah Edisi 116 Rubrik Akhir Zaman

Penulis : Abu Fatiah Al-Adnani

Editor : Helmi Alfian