Nasionalisme Santri

santri-untuk-negeri-2-e1454639435333

Janggutnya sudah mulai memutih. Suara baritonnya menambah wibawa. Di pesantren Ia dikenal tangkas menjawab pertanyaan wartawan. “Jadi apa arti nasionalisme menurut bapak?” tanyanya suatu ketika kepada seorang utusan pemerintah. Utusan itu sebelumnya mengutarakan bahwa tim mereka mendapat tugas untuk menyelenggarakan training kebangsaan. “Apa Bapak meragukan nasionalisme kami, nasionalisme santri-santri kami?” protes Kyai yang mulai sepuh itu.

“Jika Bapak meragukan pembelaan kami terhadap negeri ini, silahkan diuji… . Bawa masuk tentara Amerika ke Indonesia, kami jamin santri kami akan berada di depan untuk menghadapi mereka. Dan saya jamin birokrat-birokrat yang sok nasionalis itu akan lari terbirit-birit meski setiap Senin hormat bendera.” lanjutnya berargumen

Setelah berdiskusi panjang, utusan itu akhirnya setengah menyerah. Di satu sisi betapa pun ia adalah delegasi yang harus pulang membawa hasil. Gagal dalam sebuah misi bisa mengancam karir dan periuk nasi. Di sisi lain ia juga tak bisa menjawab berbagai argumentasi Sang Kiai. Akhir kata, disepakatilah sebuah kompromi. Kuliah kebangsaan tetap diadakan; diselipkan dalam sebuah sambutan acara seremonial pesantren yang kolosal bukan dalam bentuk training, melainkan pidato dengan durasi sekitar 1 jam.

Dan untuk mewujudkannya, sang utusan memberikan dana atas nama, “Training Kebangsaan.” (hehehe, mau juga duitnya). Karena yang memberi kuliah adalah seorang menteri kawan saya harus meminjan mobil camry Pemerintah Kabupaten waktu itu. (wah, seharusnya sekali-sekali diajak jalan kaki ya..).

Itu cerita dua tahun lalu. Kini upaya mereduksi arti cinta tanah air kembali mencuat. Seorang Bupati, konon dulu adalah seorang guru dan sekolah tempatnya mengajar kini kekurangan murid. Tiba-tiba menebar ancaman hendak menutup sebuah SDIT yang mulai maju. Sebuah upaya yang jauh dari kepribadian seorang guru.

Di tempat lain, seorang Wali Kota yang terkenal santun dan berpihak kepada wong cilik juga tiba-tiba mengumbar ancaman, akan menutup sebuah SDIT. Semua atas sebab “tak menjalankan upacara bendera.” Berapa pesantren di luar Jawa juga mulai mendapatkan tekanan serupa. Meski tak diwartakan di surat kabar, hormat bendera kini menjadi indikator penting loyalitas seseorang kepada bangsanya. Kita kembali dibawa ke Orde Lama.

Menarik, sebab “tebar ancaman” ternyata hanya tertuju pada beberapa sekolah tertentu. betapa banyak institusi pendidikan di negeri ini yang tak menggelar upacara bendera, dan tak pernah dipersoalkan. Hal ini mengingatkan kita saat Januari lalu, sebuah lembaga bernama Setara Institut mengklaim telah melakukan riset atas TK IT dan SD IT. Simpulnya, TK It dan SD IT telah mengajarkan benih radikalisme Islam. Karena sering melombakan Nasyid jihad Palestina.

“Lagu-lagu jihad itu mengancam NKRI, dan bertentangan dengan Pancasila. Kenapa tidak pakai lagu-lagu perjuangan Indonesia?” Kata Ismail Hasani, sang peneliti yang tak jelas jasanya kepada bangsa ini. “Jadi kita harus waspada!” katanya. Pernyataan itu muncul dalam paket acara “Deradikalisasi” di Hotel Atlet. Tak memerlukan penjelasan panjang tentang siapa dan mau kemana arah diskusi itu.

Padahal banyak pelajaran penting soal “nasionalisme santri” di negeri ini. Saat organisasi separatis RMS beraksi di Maluku, seorang pejabat penting di Badan Intelijen Negara sowan kepada seseorang sesepuh jihadis. Ini tentu bukan cerita koran. Tapi cerita behind the scene yang bersumber dari pelaku.

Sang Intel meminta bantuan agar aktivis jihadis membantu negara untuk menghadapi kelompok separatis itu. “Segala sesuatunya akan kita siapkan pak,” bujuk sang intel. Sesepuh itu menjawab, “Maaf, kami tidak biasa beramal atas dasar order. Kami hanya beramal lillahi Ta’ala.” Pada saat itu para aktivis jihadis ternyata sudah ada di lapangan, tentu karena Allah Semata.

Tokoh Intel yang dulu sering nongol di media itu menanggapi, “Baik, jika Bapak tidak bersedia, kami akan meminta pada aktivis yang lain.” Bahwa mental siap membela negara dimiliki kelompok santri bukanlah rahasia. Birokrat sangat mengerti akan hal itu. Sejarah menunjukkan negeri ini dibangun oleh tetesan darah santri. Sebuah komunitas perwira nan ikhlash. Kelompok yang komunitas yang menggariskan hidupnya dalam dua kalimat, “hidup mulia atau mati syahid.

Sayang banyak orang memanfaatkan keihlasan santri selama ini. Bukankah doktrin jihad terbukti paling unggul melawan Belanda. Dalam hazanah kita, ada Pangeran Diponegoro, Tuanku Imam Bonjol, Pangeran Antasari, dan lain-lain. Jihad sebagai spirit perlawanan mereka tercatat apik dalam buku buku babad sejarah negara ini.

Saat Belanda hengkang para pejuang sejati kembali ke Surau-Surau. Sebaliknya para tentara yang masa itu adalah output didikan Belanda dan Jepang justru tampil memimpin negeri bak pahlawan kesiangan. santri ternyata hanyalah sebuah komoditas.

Saat para aktivis jihadis berjibaku menghadapi RMS, petugas keamanan bersembunyi di kolong-kolong seperti burung pipit sambil berkata, “Mas tembak-menembaknya sebelah sana saja, biar tidak kena saya.” Ini cerita seorang Mujahid kepada saya. Saat aktivis jihadis gugur tertembus peluru RMS, para birokrat kita tengah asyik berselingkuh dengan bangsa-bangsa penindas, sibuk menjual aset-aset negara. Sebuah tindakan yang oleh Stiglitz, mantan Ketua Tim Ekonomi Bank Dunia menyebut sebagai “penjajahan sistemik.” Lama berkecimpung dalam urusan itu, Stiglitz akhirnya tidak tahan dan menulis testimoni dalam “Globalization And It’s Discontets.” Ia ternyata masih punya Nurani.

Tapi lihat di negeri ini, bukankah bangsa ini sudah mulai melupakan perampokan atas nama privatisasi? Apa kabar Semen Gresikgate, Krakatau Steelgate, Telkomgate dan Indosatgate? Hampir bisa dipastikan sebagaimana dituturkan stiglitz, bahwa dalam setiap privatisasi ada 10% masuk ke kantong decision maker. Dan yang pasti kebanyakan makelar hitam itu adalah manggala P4 yang fasih melafalkan Pancasila dan khusuk dalam upacara bendera.

Bambang Sukirno

Edotor: Sahlan Ahmad

Diambil dari majalah An-Najah Edisi 71, Agustus 1011, hal. 51