Neraca Bid’ah

Bid'ah
Bid’ah

An-Najah.net –

Syaikh Utsaimin Rahimakumullah mengatakan, ada empat perkara yang mempengaruhi kemunculan bid’ah, yaitu:

1. Sumber ibadah, artinya jika ada ritual ibadah yang tidak memiliki dasar syar’i sama sekali, maka ritual ini termasuk kebid’ahan.

2. Waktu dan Tempat, maksudnya bid’ah dapat terjadi dengan mengkhususkan waktu dan tempat tertentu. Boleh jadi ibadah tersebut ada sumber atau dalilnya,

tapi akan bernilai bid’ah bila dalam pelaksanaannya pada waktu-waktu yang dikhususkan, dan pengkhususan ini tidak bersumber dari Rasulullah SAW.

Seperti sholawat antar rekaat tarawih yang dikomando oleh seseorang. Bersholawat memang sunnah, namun karena waktu pelaksanaannya dikhususkan, berubah menjadi bid’ah.

3. Penambahan, yaitu menambah bilangan ibadah yang telah disyari’atkan. Seperti menambah rekaat sholat dzuhur atau ashar menjadi lima rekaat.

4. Tata cara, bisa jadi suatu ibadah memiliki sumber yang valid, namun jika dalam pelaksanaannya ada variasi atau kreasi yang tidak dicontohkan oleh Rasul maka ibadah tersebut haram, dan bid’ah.

Tahlilan –membaca laailaha illallah contohnya, banyak ayat dan hadits memerintahkan untuk bertahlil, namun jika dilakukan dengan cara menari-nari atau dengan menggelengkan kepala ke kiri dan ke kanan maka ini masuk dalam kategori bid’ah. Karena, ia mengadakan tata cara baru, tidak memiliki dasar dalam Islam.

Dari keempat perkara inilah sebuah prosesi atau ritual ibadah bisa dinilai bid’ah atau tidak. Atas dasar ini juga, perbuatan-perbuatan yang tertera pada poin di atas dihukumi bid’ah. Wallahul musta’an.

Sumber : Majalah An-Najah Edisi 59 Rubrik Tema Utama

Editor : Helmi Alfian