Oleh-oleh dari Saudi

“Jadi darimana datangnya sayur-mayur hijau ini sementara di negeri Antum hanya ada padang pasir?,” tanya saya kepada para dosen Universitas Ummul-Quro Mekkah. “Maa-fie musykilah, sebab pertanian mulai digalakkan di beberapa kota,” jawab seorang syeikh. Kami segera “mengeksekusi” isy, fuul, ruzz bukhori, kabsyah, dajjaj masyfi bil-fahm, ikan-ikan laut dan khumus, dalam jamuan makan itu.

Meski perut ini keroncongan, tapi aneka menu itu tak mungkin dapat kami habiskan. Nasi sebanyak itu dihadapi senampan bertiga. Meski sedang musim delima, tapi tak nampak ‘asyir rumman. Juice merah darah yang maknyuss itu, banyak diyakini sebagai “viagra.” Jika ada di Indonesia mungkin akan dijuluki “viagra herbal dari buah kesukaan Ali Bin Abi Thalib RA.” Delima Yaman biasa sangat manis, delima Kairo biasa lebih masam.

Ngobrol sambil makan ternyata bumbu yang paling sedap di negeri manapun. Para syeikh ternyata tidak ada yang memakai iqol (pengikat surban). Gamis, simagh, iqol adalah pakaian rakyat di sini. Bahkan simagh atau surban, konon bisa digunakan untuk membaca seseorang berasal dari mana. Sekurang-kurangnya itulah penjelasan mahasiswa Indonesia kepada saya dulu. Saya tidak tahu, apakah informasi itu akurat atau saya sedang ditipu oleh mahasiswa yang sok tau.

“Kenapa tidak ada dari Antum yang memakai iqol,?” tanya saya penasaran. “Sebab kami adalah para uqola’ (orang-orang berakal),” jawab dosen Aqidah disambut gelak tawa berderai. Mereka ternyata bisa gojek. Kawan saya alumnus Al-Azhar Kairo bilang, meski nasi senampan besar, orang Arab biasa habis sebab separuh masuk perut dan separuh tercecer di sufroh. Saya tidak tahu itu ledekan ataukah penjelasan. Kami tertawa.

“Kami harus belajar dari kalian untuk menghadapi kelompok liberal, sebab liberalisme baru mulai digalakkan di negeri ini,” ujar seorang syeikh serius. Sebelumnya saya banyak bercerita bagaimana Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia sangat serius menjalankan program-program untuk menghadapi kelompok liberal. Mereka bahkan membuat program-program Magister Peradaban Islam.

Hmm, andai Mas Adian Husaini ikut hadi. Imajinasi saya pun melayang, elok agaknya jika komunitas Mas Adian mulai menerjemahkan karya-karya tulisnya ke dalam bahasa Arab. Tentu, hal itu bisa menjadi sumbangsih yang berharga bagi dunia. Di samping bisa meningkatkan wibawa ilmiah bangsa yang selama ini hanya menjadi konsumen buku-buku Arab. “Saya yakin, banyak penulis profesional muncul dari Indonesia hanya kami tidak bisa mengenal,” ucap seorang dosen dari Jeddah yang sering menggunakan bahasa ammiyah itu.

Obrolan yang panjang dan tiada habisnya itu menyulitkan saya untuk “mengikat makna.” Tapi setidak-tidaknya ada banyak hal yang bisa saya konstruksikan, antara lain, liberalisme banyak dikembangkan di Jordan. Di sana ada fokus menyiapkan kelompok ‘ilmani (sekuler). Di negeri itu gairah menyiapkan apa yang disebut “politisi” sangatlah menonjol. Metodologi berpikir aqlani, atau yang di Indonesia dikenal dengan “mengedepankan rasionalisme,” juga digiatkan.

Di sana juga, konon ada freedom house dan pelatihan-pelatihan intelejen terkuat di Timur Tengah yang dikelola Amerika. Banyak pemuda Arab yang direkrut untuk itu. “Kalian harus amati mahasiswa Indonesia yang pulang dari sana,” pungkas seorang syeikh sambil menikmati hidangan penutup.

“Kenapa Amerika tidak memberi demokrasi di negeri ini? Sementara atas nama demokrasi, Amerika sering memaksakan kehendak dengan invasi?” Pertanyaan saya disambut senyum. Tentu itu pertanyaan sensitif di negeri ini.

Kepalang basah, saya pun bertanya lagi, “Apa betul analisa orang Barat bahwa jika Saudi diberi demokrasi, yang terpilih jadi pimpinan adalah Usamah bin Laden?” Untuk meringankan bobot atau ekses (bahaya J) dari soalan itu, saya mencari sandaran, “Sekurang-kurangnya, itulah analisa kolumnis di koran Amerika yang pernah saya baca.”

Akhirnya, seorang dari mereka menanggapi, “Mungkin tidak terlalu salah. Ada eksperimen pemilu lokal (skala provinsi) di sini. Uniknya, yang terpilih adalah ulama dan tokoh panutan.” Syeikh itu ternyata sangat tajam menangkap substansi soalan saya. Ia tak terjebak dengan teks “Usamah” tapi bisa menangkap konteks “tokoh agama.” Ya, dibalik “kebrengsekan” masyarakat Arab yang masyhur, ternyata mereka memiliki penghormatan yang lebih terhadap ulama.

“Ya Akhi.. Alhamdulillah, di negeri kami penerapan kurikulum Islami telah mapan. Regulasi pendidikan membuat semua yang sekolah otomatis mengenal Islam secara benar. Memang tidak sedikit pemuda yang menyimpang dari hidayah, tapi ada saatnya mereka sadar dan kembali ke fitrah. Asas Islam yang telah tertanam akan menjadi modal yang sangat berharga. Mereka akan mengerti ‘jalan pulang.’ Inilah yang paling ditakuti orang Barat. Mereka menginginkan hal ini diubah karena dinilai sebagai ancaman buat eksistensi mereka. Alhamdulillah, masyayikh disini masih kuat mempertahankan.” Urai syaikh yang mahir Ilmu Fiqih dan berasal dari Klan yang kuat itu.

Saya tertegun. Kurikulum negara membentuk budaya. Bagi Amerika dan sekutunya, jelas itu bahaya laten. Bukankah pers Barat sering menyebut bahaya “wahabisme”?. Ingatan saya melayang ke statemen Donald Rumsfeld suatu ketika, “Barangkali kita perlu membentuk suatu yayasan swasta untuk menghentikan madrasah-madrasah yang radikal agar menjadi lebih moderat.” Barrack Obama juga pernah menyampaikan programnya, “Saya akan mengalokasikan dana sebesar $2 miliar untuk memerangi pengaruh-pengaruh sekolah Islam yang telah mencekoki pikiran para pemuda dengan pesan-pesan kebencian.” Para petinggi Amrik itu sangat sadar bahwa menghabisi pejuang Islam adalah omong kosong tanpa menghabisi ideologinya.

Akhirnya saat itu tiba. Genderang perang dengan stigma “Wahabisme” mengalami peningkatan yang massif akhir-akhir ini. Kesuksesan tim penindak dalam ranah “kriminal” telah dianggap berhasil. Saatnya ada peningkatan dan pengembangan pada ranah “ghazwul fikri.”

Kita sedang disuguhi kenyataan dari rekomendasi Rand Corporation dalam Civil Democratic Islam, Partners, Resources and Strategies. Di antaranya “Dukung kelompok tradisionalis dalam menghadapi fundamentalis; Publikasikan kritik-kritik kelompok tradisionalis terhadap tindak kekerasan dan ektrimisme kelompok fundamentalis; Pupuk terus perselisihan antara tradisionalis dan fundamentalis, dan jangan sampai mereka bersatu”

Apa yang ditulis oleh Cheryl Bernard sejak 2003 itu, kini bukan lagi kekhawatiran yang dibahas dalam seminar-seminar aktifis masjid. Hum min jildatina wayatakallamu bi-alsinatina (mereka dari kulit dan bahasa yang sama dengan kita). Musuh semakin jelas tapi kawan semakin tak jelas. Semoga umat Islam Indonesia diselamatkan dari upaya pecah belah ini.

Mekkah, Musim Haji

Bambang Sukirno