Pamer Ibadah Tapi Bukan Riya

  • by

Ibadah akan menuai pahala jika dilakukan dengan ikhlas. Murni demi mencari ridha ilahi. Bukan karena pamer, riya, apalagi mengharap perhatian orang lain. Itulah sebabnya kita dianjurkan beribadah secara rahasia. Agar mudah mencapai keikhlasan. Namun tidak semua ibadah yang dipamerkan kepada orang lain disebut sebagai riya.

ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ

“Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Al-A’raf: 55)

Ayat ini memandu seseorang untuk berusaha menjaga amal ibadah. Dengan cara melakukannya secara sirr atau tertutup. Agar benih-benih riya’ tidak bersemi. Juga agar seseorang semakin bergantung kepada Allah.

Jika ibadah dilakukan tanpa sepengetahuan orang lain, peluang untuk ikhlas semakin besar. Ibadah tidak jadi semacam pencitraan, sebab tiada sorotan mata yang memandang.

عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ الْجَاهِرُ بِالْقُرْآنِ كَالْجَاهِرِ بِالصَّدَقَةِ وَالْمُسِرُّ بِالْقُرْآنِ كَالْمُسِرِّ بِالصَّدَقَةِ

Orang yang menjahar bacaan Al-Quran sama seperi orang yang menjahar sedekah. Orang yang membaca Al-Quran dengan pelan sama seperti orang yang sedekah diam-diam. (HR. Abu Daud)

Hadits ini menunjukkan satu keutamaan ibadah yang dilakukan secara rahasia hingga orang lain tidak mengetahuinya.

Imam Tirmidzi berkata, “Membaca Al-Quran sendirian lebih baik daripada dilakukan dengan terang-terangan. Sebagaimana sedekah rahasia yang tangan kiri tidak tahu apa yang diulurkan tangan kanan.”

Zubair bin Awwam berkata, “Jika kalian mampu merahasiakan ibadahmu, lakukanlah.”

Ada kalanya, ibadah itu tidak jadi rahasia lagi setelah diceritakan. Keutumaannya pun akhirnya turun dan dicatat sebagai ibadah yang dilakukan di muka umum.

Sufyan At-Tsauri berkata, “Ada seorang hamba beramal secara diam-diam. Setan terus merayunya sehingga ia ceritakan ibadah itu kepada orang lain. Maka catatan ibadah tersebut dipindahkan dari diwan amal-amal rahasia menjadi diwan amal yang dipertontonkan.”

Meskipun dianjurkan merahasiakan ibadah, tidak berarti semua ibadah yang dilakukan secara terang-terangan tidak punya keutamaan.

Ibadah-ibadah sirr lebih utama. Kecuali dalam kondisi atau kasus berikut ini;

Pertama, ibadah yang hukumnya wajib.

Ibadah yang hukumnya fardhu ain atau wajib lebih utama dilakukan secara jahar atau terang-terangan. Contohnya antara lain shalat fardhu lima waktu, zakat, shaum ramadan, haji dan adzan.

Semakin tinggi tingkat wajib satu amal ibadah, semakin dianjurkan untuk diperlihatkan.

Mengapa demikian?

Karena ibadah wajiba adalah syriat yang perlu diperlihatkan dan jangan disembunyikan. Dengan cara dijaharkan itulah agama ini tegak. Sekaligus sebagai pendana apakah masyarakat di satu derah muslim atau kafir. Juga diketahui tingkat keshalihan satu masyarakat.

Adzan yang menjadi penanda masuknya waktu shalat harus dengan suara keras. Agar bisa didengar oleh kaum muslimin. Kemudian para jamaah laki-laki datang bersama-sama untuk menjalankan shalat berjamaah. Juga saling bertegur sapa.

Zakat seharusnya dilakukan dengan terang-terangan, agar seorang yang berlebih harta diketahui telah menjalankan kewajibannya.

Begitu pula shaum ramadhan, orang-orang berusaha melihat hilal bersama-sama. Lalu saling mengundang satu sama lain untuk buka dan sahur bersama-sama.

Begitu pula rukun islam kelima haji, belum pernah ada ceritanya dilakukan dengan diam-diam. Ada syariat tahallul, dimana jamaah haji laki-laki mencukur rambutnya. Yang kadang itu jadi petanda bahwa ia baru saja melakukan ibadah haji.

Kedua, jamaah atau kebersamaan.

Berbagai macam ibadah yang dilakukan secara kollektif atau sama-sama. Meskipun hukumnya sunnah atau tidak wajib. Seperti shalat iedul fitri dan iedul adha, shalat istisqa’, majelis ilmu hingga jihad fi sabilillah yang sifatnya ofensif.

Ibadah yang menuntut kebersamaan ini hendaknya dilakukan secara terang-terangan dan bersama-sama. Tidak dilakukan secara individual atau sambil sembunyi-sembunyi.

Ketiga, tujuan pengajaran.

Ada tipe orang yang memiliki kemampuan sebagai influencer. Mereka menjadi idola dan teladan bagi kemunitas atau kelompok masyarakat tertentu. Bagi mereka beribadah secara terang-terangan kadang lebih utama. Selama dapat menghindari riya’.

Tujuannya bukan untuk pamer, tapi dalam rangka pengajaran atau keteladanan. Sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ

:

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

“Orang yang menunjukkan kebaikan, baginya pahala seperti orang yang mengerjakannya.” (HR. Muslim)

Mari mengaca kepada Rasulullah ﷺ. Seluruh amal ibadah beliau mengandung unsur qudwah dan pendidikan. Semua amal ibadah beliau laksanakandengan terang-terangan. Agar tujuan pengajaran tata cara ibadah secara detail tercapai.

Meskipun demikian, beliau tetap memiliki memiliki waktu berkhalwat atau waktu khusus untuk bermunajat kepada Allah. Ini juga sebagai pengajaran untuk umatnya.

Semua sebenarnya adalah influencer. Namun bebeda-beda dalam kemampuan memengaruhi orang lain. Ada orang yang menjadi role model bagi keluarganya. Ada pula yang menjadi suri teladan bagi masyarakat atau negara. Bahkan ada tokoh yang berpengaruh bagi seluruh kaum muslimin di dunia. Seperti para ulama besar.

Maka para influencer itu hendaknya melakukan ibadah dengan terang-terangan. Dan memiliki waktu khusus untuk melakukan ibadah secara rahasia.

Menurut para ulama, faktor pengajaran lebih diutamakan. Karena inilah tugas utama yang diemban para rasul. Para salaf kadang melakukan ibadah di depan banyak orang, meskipun sebenarnya bisa dilakukan secara tertutup. Bukan untuk pamer, tapi untuk mengajarkan kebaikan.

Umar bin Khattab pernah membaca doa istiftah secara jahar. Ibnu Umar dan Abu Hurairah membaca taawudz dengan keras.

Keempat, ibadah-ibadah yang menjadi syiar Islam.

Ada ibadah yang disebut sebagai syiar-syiar islam dalam ayat Al-Quran. Seperti menyembelih qurban dan mengucapkan kalimat talbiyah ketika haji atau umrah.

Karena disebut syiar, otomatis harus dijalankan secara terang-terangan. Jangan sembunyi-sembunyi. Justru bidah jika dilakukan secara diam-diam.

Contoh lainnya ialah bertakbir di sepuluh hari pertama bulan dzul hijjah. Dasarnya pun cukup kuat, seperti Umar bin Khattab yang bertakbir dengan suara keras di Mina. Ibnu Umar dan Abu Hurairah bertakbir di jalanan dan pasar Madinah hingga diikuti oleh orang-orang di sekitarnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site is protected by reCAPTCHA and the Google Privacy Policy and Terms of Service apply.