Pandangan, Salah Satu Pintu Kemaksiatan

Pandangan salah satu pintu kemaksiatan
Pandangan salah satu pintu kemaksiatan

An-Najah.net – Mata adalah jendela hati. Ia juga sahabat sekaligus penuntun hati. Mata mentransfer objek dan berita-berita yang dilihatnya kehati sehingga menggerakkan pikiran lalu berkelana dan berpetualang di ruang hampa imajinasinya.

Jika liar tak tertuntun, mata pada akhirnya bisa mengotori, bahkan mengeraskan hati. Namun, jika terjaga, mata bisa membuat hati lapang, hidup-menghidupkan, bersih, dan membeningkan.

Menundukkan Pandangan

Karena melihat secara bebas bisa menjadi faktor timbulnya keinginan dalam hati, maka syariat yang mulia ini telah memerintahkan kepada kita untuk menundukkan pandangan terhadap sesuatu yang dikhawatirkan dan menjerumuskan.

Sebagaimana firman-Nya,

قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْۚذَٰلِكَ أَزْكَىٰ لَهُمْۗإِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ

“Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya. Yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.(QS. An-Nur: 30)

Baca juga: Tolak Perda Tutup Aurat, Yenny Wahid Bohongi Publik dengan Sebut Angka Pemerkosaan di Saudi Tertinggi

Allah Ta’ala memberikan petunjuk kepada orang-orang beriman dengan seruan wahai orang yang beriman. Berarti yang dipanggil adalah orang yang memiliki iman. Seruannya adalah agar tidak terjatuh pada hal-hal yang mencacati iman. Hendaklah mereka (para lelaki) menundukkan pandangan supaya tidak sampai memandang aurat dan memandang wanita yang bukan mahram. Karena akan tergoda ketika memandangnya sehingga dapat terjerumus kepada keharaman yang lebih parah.

Hendaklah mereka menjaga kemaluan dari zina yang haram yaitu bersetubuh pada kemaluan atau dubur, atau selain itu. Jangan sampai menyentuh dan memandangnya pula. Ini lebih menjaga pandangan dan kemaluan. Itu lebih suci dan lebih baik. Inilah manfaat karena meninggalkan yang haram.

Menundukkan pandangan mata merupakan dasar dan sarana untuk menjaga kemaluan. Oleh karena itu, dalam ayat ini Allah Ta’ala terlebih dulu menyebutkan perintah untuk menahan pandangan mata daripada perintah untuk menjaga kemaluan.

Jika seseorang mengumbar liar matanya, dia telah mengumbar syahwat hatinya. Dengan begitu, mata pun bisa berbuat durhaka karena memandang dan itulah zina mata. Mata itu berzina, hati juga berzina. Zina mata adalah dengan melihat (yang diharamkan), zina hati adalah dengan membayangkan (pemicu syahwat yang terlarang). Sementara kemaluan membenarkan atau mendustakan semua itu (HR. Al-Bukhari: 6243)

Baca juga: Langkah Iblis Menggoda Manusia dari Empat Arah

Dalam hadis ini, Rasulullah Saw menyebutkan zina mata pertama kali karena inilah dasar dari zina tangan, kaki, hati, dan kemaluan. Kemaluan akan tampil sebagai pembukti dari semua zina itu jika akhirnya benar-benar berzina atau mendustakannya jika tidak berzina. Oleh karena itu, marilah kita menundukkan pandangan kita. Karena jika mengumbar liar, berarti kita telah membuka berbagai pintu kerusakan yang besar.

Pada zaman sekarang, fitnah mengepung kita. Ketika kita keluar rumah, segera mata menyapa sesuatu yang bikin miris iman kita. Perempuan-perempuan di negeri ini sudah biasa dan merasa tidak berdosa keluar rumah tanpa penutup aurat.

Benar, mereka sudah berpakaian, tetapi sejatinya telanjang. Bisa jadi ketika iman dan rasa takut kita kepada Allah Ta’ala sedang di level rendah, maka dengan mudah kita mengumbar pandangan dan syahwat kita itu. Dan saat pandangan ini membangkitkan berahi, terperosok sudah mata ini pada kerusakan yang besar, seperti onani, masturbasi, sampai zina yang sesungguhnya. Wal iyadzu billah

Saudaraku, berbahagilah kita yang bisa menahan pandangan kita. Sabda Nabi Muhammad Saw. Jaminlah aku dengan enam perkara, dan aku akan menjamin kalian dengan surga: jujurlah (jangan berdusta) jika kalian berbicara; tepatilah jika kalian berjanji; tunaikanlah jika kalian dipercaya (jangan berkhianat); peliharalah kemaluan kalian; tahanlah pandangan kalian; dan tahanlah kedua tangan kalian (HR. Ahmad: 22757)

Saudaraku ingatlah hadits Muhammad Saw yang berbunyi,

إِنَّكَ لَنْ تَدَعَ شَيْئاً لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ بَدَّلَكَ اللَّهُ بِهِ مَا هُوَ خَيْرٌ لَكَ مِنْهُ

“Sesungguhnya jika engkau meninggalkan sesuatu karena Allah, niscaya Allah akan memberi ganti padamu dengan yang lebih baik.” (HR. Ahmad: 23074)

Syaikh As-Sa’di menyatakan, “Siapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah, maka Allah ganti dengan yang lebih baik. Siapa yang tundukkan pandangannya dari yang haram, maka Allah akan memberikan cahaya pada penglihatannya.” (Tafsir As-Sa’di, hlm. 596)

Penuhi Hak Pengguna Jalan

Menjaga pandangan merupakan pangkal menjaga kemaluan. Maka, siapa saja yang mengumbar pandangan matanya berarti dia hendak menjerumuskan dirinya ke dalam jurang kebinasaan.

Nabi Muhammad Saw bersabda, “Jauhilah oleh kalian duduk-duduk dijalanan” Para sahabat bertanya, “Itu adalah tempat kami duduk, dan kami tidak punya alternatif lainnya.” Beliau kemudian bersabda, “Baiklah, jika kalian harus duduk di situ, berikanlah hak kepada jalan.” Sahabat bertanya, “Apa yang menjadi hak jalan itu?” Beliau menjawab, Menundukkan pandangan, menahan diri dari melakukan sesuatu yang menyakitkan (mengganggu orang lain), dan membalas ucapan salam. (HR. Al-Bukhari: 6229, Muslim: 2121)

Pandangan merupakan akar dari kebanyakan bencana yang menimpa manusia. Pandangan itu bisa menimbulkan lintasan pikiran, lalu lintasan ini melahirkan pikiran, kemudian pikiran ini melahirkan nafsu (syahwat), lalu nafsu ini melahirkan kehendak, dan kehendak pun terus menguat sehingga menjadi sebuah hasrat dam tekad yang sangat kuat. Kalau sudah begitu, sudah tentu akan ada pelaksanaan, selama tidak ada penghalang yang merintanginya.

Baca juga: Khutbah Jumat : Memahami Jalan Kebenaran dan Kesesatan

Di antara kerugian yang ditimbulkan oleh pandangan adalah timbulnya kepayahan-kepayahan. Dengan demikian, seorang hamba akan melihat sesuatu yang tidak akan sanggup dia tahan. Ini merupakan bagian dari jenis siksaan yang paling menyakitkan.

Semoga Allah Ta’ala selalu membing kita di jalan-Nya hingga akhir hayat. Sehingga segala anggota tubuh kita -termasuk mata- tidak bermaksiat kepada-Nya, amin. Wallau Ta’ala ‘Alam [] Ibnu Alatas