Pantaskah Diri Kita di Sisi Allah Ta’ala?

Pantaskah Diri Kita Di Sisi Allah
Pantaskah Diri Kita Di Sisi Allah

An-Najah.net – Mengukur nilai diri di sisi Allah Ta’ala. Suatu ketika ulama tabi’in, Malik bin Dinar duduk bersama kawan-kawannya. Malik bin Dinar terkenal dengan semangatnya dalam penyucian jiwa. Saat mereka asyik mengobrol, datanglah Abu Ubaidah dengan membawa tali dari serabut. Kedua ujungnya ada dua tali yang melingkar.

Tiba-tiba Abu Ubaidah mengikat leher Malik dengan ujung tali dan satunya lagi dimasukkan ke lehernya sendiri. Kemudian Malik bin Dinar berkata, “Anggaplah aku dan kamu berada di hadapan Allah Ta’ala -dalam keadaan dirantai-lalu apa yang akan kamu katakan di hadapan Allah Ta’ala. Lalu keduanya menangis, dan kawan-kawannya yang lain pun ikut menangis.”

Baca juga: Teladan Hebat dari Para Sahabat

Renungilah Saudaraku!

Saudaraku, bukankah Allah Ta’ala telah mengabarkan jauh-jauh hari. Bahwa, kelak di akhirat semua akan soal dan dipertanggungjawabkan baik pendengaran, penglihatan, gagasan dan pemikiran. Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya” (QS. Al-Isra’: 36)

Lantas apakah kita sudah siap dengan itu semua. Ketika persidangan dimulai –di hadapan Allah Ta’ala– mulut terkunci, tangan dan kaki menjadi saksi yang tak bisa dipungkiri. Dalam persidangan dunia kita masih bisa memanipulasi data. Yang benar disalahkan, yang tersangka dibebaskan. Tapi itu semua tidak berlaku di akhirat. Semua akan menjadi saksi dan mempertanggungjawabkan perbuatannya di dunia.

Baca juga: Istiqomah Di Tengah Gelombang Fitnah

Metode Para Salaf Ketika Bermuhasabah

Salah satu sarana tarbiyatun nafs -mendidik jiwa- yang dilakukan oleh para salaf adalah selalu menakar amal ibadah yang pernah mereka kerjakan. Untuk itu, mereka sering kali membayangkan dirinya setelah wafat, saat ditanya di kuburan, di padang mahsyar, saat dihisab oleh Allah Ta’ala, saat pembagian catatan amal, atau saat menyeberangi shirot.

Kisah di atas adalah salah satu buktinya. Bayangan ini sering kali membuat mereka menganggap kecil amal ibadah yang telah mereka lakukan, terkadang hal ini dilakukan untuk meningkatkan rasa takut kepada Allah Ta’ala dan meningkatkan mawas diri saat jiwa melemah. Sehingga semangat ibadah pun meningkat dahsyat.

Bahkan dalam beberapa buku biografi salaf, didapati sebagian mereka menggali kuburan di halaman rumahnya. Bukan untuk menguburkan keluarganya yang meninggal, bukan juga untuk dirinya nanti setelah meninggal.

Kuburan tersebut digunakan untuk muhasabah. Setiap malam beliau masuk ke dalam liang tersebut, lalu membayangkan kematian. Menghadirkan gambaran saat ia diletakkan ke dalam kuburan sendirian lalu didatangi malaikat bertanya kepadanya.

Baca juga: Manhaj Salaf Solusi Problematika Umat Islam

Ia pun menyesali kelalaiannya dan bertekad untuk menjadi lebih baik. Mungkin jika hal ini dilakukan oleh seseorang di zaman kita, akan dianggap tidak waras. Melakukan perbuatan “konyol” yang tidak berguna.

Dikisahkan tabiin bernama Ibrahim At-Taimi yang sering membayangkan dirinya berada di Neraka. Beliau berkisah, “Aku memisalkan diriku seakan-seakan di atas api neraka, dirantai dan dibelenggu, dipaksa makan buah zaqqum, minum air yang sangat dingin dan bernanah. Aku pun bertanya kepada diriku, ‘Apa yang kamu inginkan’ la menjawab, ‘Kembali ke dunia untuk menyelamatkan aku dari siksa ini.’

Aku juga memisalkan diriku seakan-akan di surga. Hidup senang bersama bidadari. Memakai pakaian sutera halus dan tebal. Aku pun bertanya kepada diriku, ‘Apa yang kamu inginkan?’ la pun menjawab, ‘Kembali ke dunia untuk mengerjakan amalan yang bisa menambah pahala ini.’

Kenali Dirimu Di Sisi Allah Ta’ala

Demikianlah salaf dalam menakar dirinya di hadapan Allah Ta’ala Seberapa ketaatan seorang hamba di hadapan Allah Ta’ala sebesar itu juga nilai di sisi Allah. Dan sebesar itu juga potensi dirinya untuk selamat dari adzab Allah Ta’ala kelak di hari kiamat.

مَنْ أَرَادَ أَنْ يَعْلَمَ مَا لَهُ عِنْدَ اللهِ جَلَّ ذِكْرُهُ، فَلْيَنْظُرْ مَا للهِ عَزَّ وَجَلَّ عِنْدَهُ

Barang siapa yang ingin mengetahui kedudukannya (nilainya) di sisi Allah Ta’ala, maka lihatlah (seberapa besar) hak Allah ia tunaikan.” (HR. Daruquthni, dihasankan Al-Bani dalam Silsilatul Ahadits Ash-Shohihah: 2310)

Zainal ‘Abidin al-Qohiri berkata saat menjelaskan hadis di atas, “Allah Ta’ala akan memposisikan seorang hamba di sisinya, sesuai kadar hamba tersebut memposisikan Allah Ta’ala dalam dirinya. Besar-kecilnya kedudukan Allah Ta’ala dalam hatinya, sangat bergantung pada ma’rifah dan ilmunya tentang Allah Ta’ala.

Baca juga: Mengapa Pertolongan Allah Tak Kunjung Tiba?

Baik pengagungan, penghormatannya, rasa malu dan takutnya kepada Allah Ta’ala, keseriusannya menjalankan perintah Allah Ta’ala, ketundukannya terhadap hukum-hukum Allah Ta’ala. Serta, totalitas penyerahan dirinya kepada Allah Ta’ala lahir dan batin.” (Zainal ‘Abidin al-Qohiri, At-Taisir Bisyarhi Al-Jami’ Ash-Shoghir, cet. III, jilid 2, hal. 393)

Semoga risalah singkat ini menjadi cambuk bagi kami khususnya, dan umumnya kepada seluruh kaum muslimin. Agar selalu bermuhasabah, introspeksi diri. Apakah layak hidup di dunia, dan tinggal di akhirat, di sisi Allah Ta’ala? Semoga menjadi renungan bersama. Wallahu Ta’ala ‘Alam

Penulis             : Ibnu Jihad

Editor               : Ibnu Alatas