Pasir dan Air Mauk Menjadi Saksi Bisu Kebengisan PKI

Ubel-Ubel Hitam‎
Ubel-Ubel Hitam‎

An-Najah.net – Jasad Otto Dilarung Setelah Kepalanya Dipenggal. Tanyakan kepada pasir dan air Pantai Mauk, Tangerang, yang menjadi saksi bisu atas aksi Ubel-Ubel Hitam. Deru ombaknya memberi pesan dan cerita tentang nasib tragis seorang Otto lskandar Dinata. Sebuah peristiwa yang nyaris hilang ditelan ombak.

Baca juga; Sejarah Munculnya Komunisme di Indonesia

Dikisahkan seorang nelayan kecil bernama Jamidi, bertinggal di tepi Pantai Ketapang, Mauk, Tangerang. Karena kepolosannya, dia tidak tau menahu apa pun kehidupan Jakarta pada masa perjuangan kemerdekaan 1945. Yang diketahuinya hanyalah laut yang maha luas. Ombaknya yang keras dan ikan yang harus kutangkap sebanyak-banyaknya untuk makan anak dan istriku.

Laskar Ubel-Ubel Hitam

Sore itu, di bulan Oktober 1945, saat berangkat menangkap ikan, ia (Jamidi) mendengar perbincangan di warung kopi. Orang-orang membicarakan bahwa Pemerintah RI di Tangerang yang dipimpin oleh Bupati Agus Padmanegara, dihancurkan oleh Usman.

Usman adalah komunis yang melancarkan gerakan bawah tanah di Tangerang. Usman dan komplotannya menolak Pemerintah RI. Mereka membentuk sebuah Laskar Ubel-Ubel Hitam. Melakukan aksi teror dengan membunuh, merampok harta penduduk Tangerang, dan sekitarnya seperti di Mauk, Kronjo, Kresek, dan Sepatan.

Jamidi si nelayan menjadi satu-satunya saksi hidup yang melihat kejadian pada tanggal 12 Desember 1945. Usman dan komplotannya membubarkan aparatur pemerintah tingkat desa sampai kabupaten. Puncaknya, mereka membunuh pejabat penting di Mauk.

Pagi itu, 20 Desember 1945, matahari belum begitu tinggi. Kira-kira masih pukul 08.30 WIB. Dari kejauhan di balik semak pantai, ia (Jamidi) melihat salah satu komplotan Usman bernama Mujitaba, memancung kepala seorang lelaki di tepi pantai Ketapang, Mauk, Tangerang. Jasadnya kemudian dilarung ke laut dan hilang.

“Sungguh aku tidak tahu siapa orang yang dipancung itu. Aku hanya menduga pastilah ia sangat dimusuhi komplotan Usman,” ujar Jamidi.

14 Tahun Lamanya

14 tahun kemudian, semua menjadi jelas. Mujitaba (komplotan laskar Ubel-Ubel Hitam) yang memancung kepala seseorang, yang bertepatan pada tanggal 20 September 1945. Itu adalah pejabat penting Pemerintah RI bernama, Otto lskandar Dinata.

Baca juga: Tragedi Serangan PKI Ke Pondok Pesantren Gontor

Ternyata, Otto Iskandar Dinata adalah Menteri Pertahanan RI pertama. Otto juga merupakan salah satu pengurus Budi Utomo (awal berdiri, 20 Mei 1908) dan salah satu yang berjasa dalam mempersiapkan kemerdekaan Indonesia.

14 tahun silam, setelah pemancungan tersebut. Keluarga Otto mengambil gundukan pasir dari pantai Ketapang, Mauk. Untuk dikubur di makam Pahlawan, Bandung. Perbuatan tersebut dilakukan karena jasad Otto tak ditemukan.

Menielang akhir 1952, warga Bandung menyaksikan pemakaman kembali tokoh Pasundan Otto lskandar Dinata. Disebut pemakaman kembali karena jenazahnya sebetulnya tidak pernah ditemukan.

Sentot lskandar Dinata, salah satu putra Otto, tiba di Bandung dengan memanggul sebuah peti berisi pasir dan air laut sebagai simbul jenazah Otto. Pasir dan air laut itu dimasukkan ke dalam peti diiring doa seorang Penghulu Jaksa Tangerang. Dalam rombongan terdapat Menteri Perhubungan Djuanda, lr. Ukar Bratakusumah, Dr. Diungju serta Letnan Kolonel Sukanda.

Peti Jenazah berisi pasir dan air ini dimakamkan pada hari Minggu, 21 Desember 1952 di Taman Bahagia, daerah Lembang. Pemakaman dimulai pukul 10.00 pagi, dimulai dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya.

Hingga kini, anak cucu Otto, para peziarah dari berbagai penjuru Indonesia, hanya bisa menziarahi pasir dan air Pantai Mauk yang menjadi saksi kebengisan gerombolan PKI UbeI-Ubel hitam.

Bagaimanapun, pasir dan air pantai Mauk, adalah satu-satunya saksi bisu yang hampir terlupakan. Hanya pasir dan air pantai itu yang bisa dihadirkan di makam Otto. Di pemakaman pahlawan Bandung pun, Otto hanyalah segenggam pasir dan air yang bisa menguap kapan saja. Semua gara-gara keganasan laskar Ubel-ubel Hitam buatan Usman.

Semoga kisah sejarah ini tidak terlupakan. Di mana pun dan kapan pun gerombolan PKI tetaplah membahayakan. Baik agama, bangsa, maupun negara. Maka dari itu waspadalah!. Wallahu Ta’ala ‘Alam

Sumber            : Buku, Ayat-Ayat Yang Di Sembelih, hal 29-31, cet II

Penulis             : Anab Afifi, Thowaf Zuharon

Editor               : Ibnu Alatas