Pedagang Jujur, Diakhirat Bersama Para Nabi, Shiddiqin Dan Syuhada

Transaksi Perdagangan
Transaksi Perdagangan

An-najah.net – Perdagangan merupakan salah satu jalan terbesar untuk mendapatkan kekayaan di dunia, selain sebagai sektor kegiatan pembangunan dan bentuk pendistribusian segala kebaikan ke seluruh penjuru dunia. Yang menakjubkan lagi, perdagangan juga merupakan salah satu pintu untuk memperoleh kekayaan di akhirat dan kedudukan mulia di sisi Allah. Rasulullah Saw bersabda :

التَّاجِرُ الصَّدُوْقِ الأَمِيْنُ مَعَ النَّبِيِّيْنَ, وَالصَّدِيْقِيْنَ, وَالشُّهَدَاءِ

“Pedagang yang dapat dipercaya dan jujur akan bersama-sama dengan para nabi, shiddiqin, syuhada.” (HR. At Tirmidzi).

Perdagangan merupakan kebiasaan, bangsa Quraisy berdagang pada musim dingin ke Yaman dan Musim panas ke Syam. Bagi mereka perdagangan merupakan cara untuk memenuhi kebutuhan hidup di Makkah tatkala itu. Mereka mondar-mandir antara Yaman dan Syam, Persia dan Romawi. Bahkan, Nabi Muhammadd Saw sendiri dahulu juga seorang pedagang, begitu pula para sahabatnya.

Manakala bangsa Arab sepanjang padi dan sore berada dalam suasana perdagangan, disibukkan oleh menghitung untung dan rugi, maka bahasa wahyu yang ditujukan kepada mereka pun tidak jarang bernuansa seperti ini. Allah Swt berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا هَلْ أَدُلُّكُمْ عَلَى تِجَارَةٍ تُنْجِيكُمْ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ (10) تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ (11)

“Hai orang-orang yang beriman! Maukah kamu aku menunjukkan kepada kamu suatu perniagaan yang (dapat) menyelamatkan kamu dari azab yang pedih? (Hendaklah) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad dengan harta-harta dan jiwa-jiwa kamu dijalan Allah. Yang demikian itu lebih baik bagi kamu, jika kamu mengetahui. (QS. Ash-Shaff [61] : 10 – 11).

Dalam menyifati orang-orang munafik, penyembah dunia dan pencari kenikmatan, Allah Swt berfirman :

أُولَئِكَ الَّذِينَ اشْتَرَوُا الضَّلَالَةَ بِالْهُدَى فَمَا رَبِحَتْ تِجَارَتُهُمْ وَمَا كَانُوا مُهْتَدِينَ (16)

Mereka itulah orang-orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk, maka tidaklah beruntung perniagaan mereka dan sejak dahulu tidaklah mereka termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk. (Qs. al-Baqarah [2] : 16).

Pada prinsipnya setiap bentuk perdangangan harus menggunakan cara yang terhormat. Untuk memperingatkan terhadap curang, dusta, dan serakah.

Terkhusus lagi, terdapat perintah khusus untuk berlaku jujur bagi para pelaku bisnis karena memang kebiasaan mereka adalah melakukan penipuan dan menempuh segala cara demi melariskan barang dagangan.

Dari Rifa’ah, ia mengatakan bahwa ia pernah keluar bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ke tanah lapang dan melihat manusia sedang melakukan transaksi jual beli. Beliau lalu menyeru, “Wahai para pedagang!” Orang-orang pun memperhatikan seruan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sambil menengadahkan leher dan pandangan mereka pada beliau. Lantas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ التُّجَّارَ يُبْعَثُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فُجَّارًا إِلاَّ مَنِ اتَّقَى اللَّهَ وَبَرَّ وَصَدَقَ

Sesungguhnya para pedagang akan dibangkitkan pada hari kiamat nanti sebagai orang-orang fajir (jahat) kecuali pedagang yang bertakwa pada Allah, berbuat baik dan berlaku jujur (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Hidup di dunia ini, punya misi untuk beribadah kepada Allah Swt. Maka hidup harus senantiasa sesuai dengan aturan sang khaliq supaya mendapatkan berkah dalam melakukan transaksi jual beli. Jangan sampai memakan harta orang lain dengan cara yang bathil. Karena itu semua akan berkonsekuensi baik didunia maupun diakhirat. (Abu Khalid/annajah).