Pejuang yang Bangkrut (1/2)

Ilustrasi Bangkrut
Ilustrasi Bangkrut

An-Najah.net- Bangkrut merupakan keadaan yang paling tidak disukai oleh para pengusaha. Semua orang yang mempunyai usaha menginginkan usahanya berkembang, membesar dan mendatangkan keuntungan. Tetapi sesungguhnya keadaan pailit tidak hanya menimpa mereka yang memiliki perusahaan, bahkan petani kecil pun tak luput dari kemungkinan bangkrut. Seperti pengalaman riel para petani kecil di sekeliling kita yang berturut-turut gagal panen karena serangan wereng, tikus, kekeringan dll. Ini pailit dalam kehidupan dunia, kehidupan sehari-hari kita.

Ada kondisi bangkrut yang lebih menakutkan, tetapi mayoritas manusia tidak peduli, yakni keadaan hangusnya pahala amal seorang hamba kelak di hadapan Allah pada hari pembalasan.

Kepedulian manusia terhadap kondisi bangkrut yang ini bertingkat-tingkat sesuai gradasi ketebalan imannya kepada Allah dan yaumul-akhir. Semakin kuat keimanan seseorang, semakin besar tingkat kepeduliannya terhadap persoalan ini, sehingga efek positif dalam kesehariannya akan menjadikan dirinya berusaha sekuat mungkin untuk menyuburkan sebab-sebab keberuntungan dirinya dan berusaha keras mengatasi sebab-sebab yang dapat mengantarkannya kepada kebangkrutan.

Hakekat Kebangkrutan

Suatu ketika Nabi shallalLohu ‘alayhi wa sallam bertanya kepada para shahabat :

أَتَدْرُونَ مَا الْمُفْلِسُ . قَالُوا الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لاَ دِرْهَمَ لَهُ وَلاَ مَتَاعَ. فَقَالَ « إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِى يَأْتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلاَةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ وَيَأْتِى قَدْ شَتَمَ هَذَا وَقَذَفَ هَذَا وَأَكَلَ مَالَ هَذَا وَسَفَكَ دَمَ هَذَا وَضَرَبَ هَذَا فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِى النَّارِ »

 

“Tahukah kamu siapakah orang yang pailit itu?” Para shahabat menjawab, “Menurut kami, orang yang bangkrut adalah orang yang tidak punya dirham (uang) dan tidak memiliki kekayaan”. Maka beliau menjelaskan, “Sebenarnya orang yang bangkrut dari ummatku itu adalah orang yang datang pada hari kiyamat dengan membawa (pahala) sholat, shiyam dan zakat, namun dia datang dalam keadaan telah mencela si anu, mengambil harta si anu, melecehkan kehormatan si anu, memukul si anu dan menumpahkan darah si anu. Maka kebaikannya diambil untuk si anu, diambil lagi untuk si anu (yang lain). Apabila kebaikannya sudah habis sebelum habis kedhalimannya terhadap orang-orang itu, maka diambillah kejahatan orang-orang itu lalu dipikulkan kepadanya, hingga akhirnya dia masuk neraka”. (Riwayat Imam Muslim).

Beliau meng- edukasi umatnya pengertian kepailitan hakiki, berbeda dengan pemahaman publik. Jika manusia pada umumnya mempersepsi kebangkrutan dengan ketiadaan harta, uang dan perbekalan hidup, maka Nabi mengajarkan bahwa ada kebangkrutan yang lebih harus diwaspadai, ditakuti dan dihindari,…kebangkrutan di akherat. Seorang hamba telah benar-benar meng-akumulasi pahala dari berbagai amal ibadah ; sholat, puasa, haji, zakat, shodaqoh dll, dimana penyebutan itu tidak bermakna pembatasan, artinya beragam kebaikan dan pahala telah dikumpulkan, dan nyata-nyata merupakan hasanat di hadapan Allah. Tetapi disamping akumulasi pahala, hamba tersebut juga membawa tumpukan kedhaliman terhadap sesama hamba, dosa yang membuat puso pahala amal , menghabiskannya, bahkan bisa terjadi kebaikan yang dibawanya tidak sanggup menutup kedhalimannya. Pada keadaan ini, bencanalah yang menimpa hamba beriman yang pailit tersebut. Banyak sekali penggambaran dramatik baik dalam firman-Nya, sabda nabi-Nya, maupun penjelasan para shahabat dan tabi’in mengenai keadaan pelaku kedhaliman pada hari pembalasan nanti.

Dosa Kepada Allah dan Dosa Kepada Sesama Hamba

Dosa seorang hamba beriman kepada Allah, selalu mempunyai peluang untuk diampuni, bahkan dijamin akan diampuni oleh Allah, asal hamba beriman tadi tidak jatuh kepada dosa mempersekutukan-Nya dengan makhluq-Nya. Bahkan sekiranya hamba tersebut belum bertaubat hingga maut menjemput, asal bukan dosa syirik. Tetapi kedhaliman seorang hamba terhadap sesama hamba, jika tidak diselesaikan di dunia maka di akherat nanti pelaku kedhaliman sungguh dalam bayang-bayang kebangkrutan.

Sedangkan orang kafir dan orang musyrik yang membawa kesyirikan dan kekafirannya sampai mati, karena kekufuran merupakan puncak dosa, maka tidak ada pembicaraan mengenai kedhaliman mereka kepada sesama hamba. Tak ada harapan ampunan, tak ada harapan pembebasan dari siksaan.

Membebaskan diri dari dosa kedhaliman adalah dengan mengganti hak yang didhalimi, atau meminta dihalalkan dengan kerelaan yang didhalimi dan meminta maaf kepadanya. Kedhaliman, kadang dalam bentuk perkataan yang menodai kehormatan dan menyakiti perasaan (al-humazah), kadang bahasa tubuh yang dimaksudkan sebagai penghinaan (al-lumazah), menuduh dengan tuduhan palsu, menyiksa secara fisik tanpa alasan yang dibenarkan syari’at, atau terang-terangan merampas harta dan menguasainya secara tidak benar. Kedhaliman, lazimnya dilakukan oleh pihak yang kuat kepada pihak yang lemah. (Bersambung) -[Dinukil dari majalah An-Najah Edisi 80]