Pejuang yang Bangkrut (2/2)

Ilustrasi BangkrutAn-Najah.net- Kedzaliman adalah dosa yang sangat ditakuti oleh hamba-hamba Allah SWT yang shaleh. Sebab balasan bagi sebuah kedzaliman, baik kedzaliman kepada sang Khaliq, atau kepada sesama, akan disegerakan. Tidak sekedar dibalas kelak di akherat nanti, namun juga akan ditimpakan saat dia dunia.

Walau, perkara tersebut halal baginya, terkadang para ulama meninggalkan. Karena khawatir, ia menjadi sebab terjatuh dalam kedzaliman, dan keharaman.

Sahabat Abu Darda’ RA berkata, “Kesempurnaan takwa adalah seorang hamba bersungguh-sungguh bertakwa kepada Allah SWT. Ia berhati-hati agar tidak durhaka kepada Allah SWT, walau sebesar biji sawit. Bahkan, ia meninggalkan apa yang dia anggap halal, karena khawatir menjadi sebab terjatuh dalam keharaman.” (Kitab Az-Zuhd, Ibn Mubarok, 1/18)

Kedhaliman Pemangku Amanah

Pemegang amanah merupakan posisi yang sangat ditakutkan dan cenderung dihindari oleh generasi salaf namun menjadi rebutan manusia di zaman ini, baik disebabkan ketidaktahuan generasi sekarang, atau perubahan orientasi hidup yang lebih memburu materi. Salaful-ummah memandang amanah (kekuasaan politik) dari sisi tanggung jawab (akuntabilitas) di dunia, terlebih di akherat, sedang generasi sekarang memandang dari peluang yang terbuka untuk mengambil keuntungan materi dari hak orang banyak.

Kepemimpinan, yang di tangannya tergenggam hak manusia banyak, jika dipegang oleh orang yang memiliki kapabilitas dan dia secara pribadi tidak berhasrat terhadapnya, dia memegangnya karena desakan tanggung jawab didorong oleh orang banyak yang mengetahui kemampuannya, akan membawa efek kebaikan maksimal  bagi manusia. Jika sebaliknya, maka sebaliknya pula hasilnya. Justru karenanya, amanah kepemimpinan merupakan sebesar-besar wasilah taqorrub kepada Allah jika dilaksanakan secara benar, sebaliknya merupakan sebab penyesalan terbesar bagi yang mengkhianatinya. Tidak berlebihan jika Allah melalui lisan nabi-Nya menjamin imam yang adil merupakan golongan pertama diantara 7 (tujuh) golongan yang akan mendapatkan perlindungan Allah tatkala tidak ada perlindungan dari selain-Nya.

Makna dibalik janji tersebut, tidak ada jaminan bagi Imam yang tidak melaksanakan amanah kepemimpinan secara adil, mengkhianati amanah, bahkan merampas hak-hak rakyat yang dipimpinnya, untuk dilindungi Allah dalam naungan-Nya, minum di telaga nabi-Nya dan masuk kedalam jannah-Nya. Bahkan sekalipun dia seorang yang beriman. Sebab pahala kebaikannya habis lantaran perbuatan aniayanya kepada rakyatnya. Kedhaliman pemimpin kepada rakyat memiliki dimensi berbeda jika dibandingkan dengan kedhaliman yang dilakukan person per person. Kedhaliman seseorang subyek pelaku perbuatan dhalim kepada obyek tertentu yang pasti, lebih sederhana dan mudah diselesaikan selama subyek pelaku berkeinginan untuk berhenti, bertaubat dan ingin membebaskan diri dari kesalahan masa lalunya. Sedang seorang pemimpin yang dhalim, perampas hak-hak rakyat yang dipimpinnya, baik dengan cara kasar terang-terangan maupun dengan penipuan, tidak mudah untuk diselesaikan karena obyek kedhalimannya yang luas, banyak person, tersebar dan tidak bisa memastikan terjadinya komunikasi timbal balik. Bahkan ketika seorang pemimpin dhalim ingin bertaubat, ingin mengembalikan hak-hak rakyat yang dirampas (ditipu), atau sekadar meminta maaf tanpa mengembalikan hak yang telah dirampas, pasti kesulitan. Jika ada sebagian yang bisa menerima pengembalian hak, kadang ada yang telah mati dalam keadaan haknya belum dikembalikan. Jika ada yang bisa menerima permintaan maaf tanpa pengembalian hak, selalu ada yang tidak bersedia memaafkan. Terlebih, betapa sulitnya memastikan komunikasi timbal-balik dengan mereka. Belum lagi rakyat yang hanya bisa merasakan akibat kedhaliman tanpa mengetahui bahwa dirinya didhalimi. Artinya pemimpin dhalim, sangat berkemungkinan bangkrut dihari kiyamat nanti, sekalipun ketika melakukan udh-hiyah selalu menuntun sapi yang paling besar dan disorot kamera.

Kedhaliman Mujahid

Tak terkecuali, seorang mujahid yang telah mencapai puncak ketinggian amal pun tidak dijamin bebas dari kemungkinan kepailitan amal ini. Rasul bersabda,

…وَأمَّا مَنْ غَزَا فَخْرًا وَرِياَءً وَسُمْعَةً وَعَصَى الإمَامَ وَأَفْسَدَ فِي الأَرْضِ فَإِنَّهُ لَنْ يَرْجِعَ بِالْكَفَافِ  (رواه أبو داود)

…Sedangkan orang yang berperang dengan menyombongkan diri, ingin dilihat dan didengar (kehebatannya oleh manusia), membangkang pemimpin dan berbuat kerusakan di muka bumi, maka ia tidak akan kembali  dengan kecukupan (tidak mendapat pahala bahkan memikul dosa).” (HR. Abu Dawud).

Yang dikisahkan dalam hadits di atas adalah orang yang telah berada di medan jihad, terlibat kongkrit dalam ‘amal jihad, berada di barisan mukmin yang memenuhi panggilan Rabb-nya untuk membela dien-Nya, sangat mungkin secara verbal juga mengklaim mencari ridlo Allah dengan jihadnya itu, tetapi pantulan akhlaq yang muncul tidak mencerminkan klaimnya. Dia menolak kebenaran dan meremehkan sesama mujahid, seakan tak ada orang lain yang berjihad selain dirinya, publikasi ‘amalnya lebih heboh dari kualitas ‘amalnya, terhadap mereka yang mempunyai tajribah dalam jihad tidak mau mendengar apalagi menta’ati  dan berbuat kerusakan di muka bumi.

Andai amal jihadnya maqbul (diterima) oleh Allah, dan dia datang pada hari kiyamat dengan berbagai pahala amal, termasuk pahala amal dzarwatu sanam, yakni jihad fie sabililLah,…kedhalimannya bisa menghabiskan pahala amalnya, termasuk amal jihadnya, untuk menebus dosa kedhalimannya, bahkan mungkin kurang. Bayangkan jika keadaannya lebih buruk lagi, amal jihadnya ghayru maqbul (tidak diterima) oleh Allah, sedang dia sudah merasa memiliki akumulasi amal yang banyak, betapa celakanya! Wal-‘iyadzu bilLah. Seorang mukmin,… apalagi seorang mujahid selayaknya selalu berada dalam kekhawatiran ini, dan harapan diterima amalnya, diampuni dosanya oleh Allah dan meminta maaf kepada saudaranya sesama mukmin.* (Selesai)- [Dinukil dari majalah An-Najah Edisi 80]