Pelajaran dari Kisah Kancil dan Buaya

Tinta Sidik Jari
Tinta Sidik Jari

An-Najah.net – Masih ingat dongeng kancil mengakali buaya?
Meski kecil dan lemah, kancil bisa menipu buaya yang menjadi penguasa di sungai dan muara.

Alkisah suatu hari kancil hendak menyeberangi sungai yang sangat lebar. Tak ada tempat dangkal ataupun jembatan untuk menyeberan . Namun ia melihat sekumpu an buaya sedang berenang.

Bukannya takut pada buaya, dalam pikiran kancil malah terbit ide cemerlang. Ia pun menyeru pada kawanan buaya, ”Hai para buaya yang perkasa, mendekatlah ke sini, maukah kalian mendengar kabar gembira?”

”Ada apa Cili” tanya para buaya. “Akan datang membawa pembagian daging kerbau yang besar untuk kalian. Namun aku perlu menghitung berapa jumlah kalian, maka berbarislah dari sini ke seberang sana,” jelas si kancil dengan liciknya.

Maka para buaya yang kuat tapi bodoh, serta tamak pada makanan yang tak jelas asal muasalnya, pun berbaris rapi. Lalu kancil melompat ke punggung buaya yang terdekat, sambil terus melompat dihitungnya satu persatu buaya hingga ke seberang.

Setelah sampai, ia segera pergi meninggalkan para buaya yang terus menunggu kapan kerbau yang dijanjikan itu akan datang.

Pelajaran dari Kisah

Dongeng ini sudah dikisahkan oleh para Orangtua pada anak-anaknya. Berisi pelajaran bahwa kekuatan dan banyaknya jumlah semata tak bermakna saat ber adapan dengan kecerdikan.

Meski terkesan jadul alias kuno, ibrahnya masih sangat relevan untuk zaman sekarang. Tidak percaya?

Mari kita ganti tokoh dan variabel dalam dongeng di atas dangan beberapa hal faktual di saat ini. Kancil itu ganti jadi politisi. Kawanan buaya kita ganti jadi umat Islam di negeri ini.

Janji kerbau besar menjadi kampanye kehidupan bernegara yang lebih baik dan menyejahterakan. Perhitungan jumlah buaya menjadi pemungutan suara alias pemilu berlangsung lima tahun sekali.

Sudah terlihat sekarang? Maka nampak jelas bahwa umat lima tahun sekali dikibuli kampanye para kancil berwujud politisi.

Di giring ke bilik-bilik suara untuk diinjak dan dilompati agar mereka bisa meraih tujuannya, berkuasa. Setelah itu ditinggal begitu saja sampai lima tahun berikutnya, saat ritual yang sama berulang.

Pengulangan ini menunjukkan bahwa kondisi umat malah lebih parah. Dalam dongeng para buaya marah besar dan berjanji tak akan melepaskan kancil kalau ia mendekat lagi ke sungai yang mereka tempati.

Sementara umat masih selalu mempercayai janji para politisi. Padahal, sebodoh-bodohnya keledai pun tak akan terantuk batu yang sama untuk kedua kalinya.

Lalu apa sebabnya umat menjadi begitu bodoh? Sama seperti buaya dalam dongeng, mereka lupa bahwa fitrah dan sunnah kehidupan mereka tidaklah bergantung pada janji kosong.

Buaya harus memburu dan menerkam mangsanya, sedangkan umat islam harus mendekat pada Allah dan berjihad untuk meraih kejayaannya.

Namun kecintaan pada dunia membuat umat menjauh dari jalan-Nya. Sementara ketakutan pada kematian membuat mereka enggan berjihad. Inilah yang dikabarkan oleh Rasulullah sebagai aI-wahn.

Penyakit jiwa yang menyerang dan membunuh kekuatan umat Islam sehingga banyaknya jumlah dan besarnya potensi tak menghalangi mereka diperebutkan umat-umat lain seperti hidangan di nampan. Na’udzubillah min dzalik.

Sumber : Majalah An-Najah Edisi 101 Rubrik Renungan

Penulis : Ibnu

Editor : Helmi Alfian