Pelajaran Politik Musa as vs Firaun, Evakuasi Umat dari Cengkeraman Tiran #6

Musa vs Firaun 6
Musa vs Firaun 6
Musa vs Firaun 6

An-Najah.net –

فَأْتِيَاهُ فَقُولَا إِنَّا رَسُولَا رَبِّكَ فَأَرْسِلْ مَعَنَا بَنِي إِسْرَائِيلَ وَلَا تُعَذِّبْهُمْ قَدْ جِئْنَاكَ بِآيَةٍ مِنْ رَبِّكَ وَالسَّلَامُ عَلَى مَنِ اتَّبَعَ الْهُدَى (47)

Maka datanglah kamu berdua kepada Firaun, lalu katakan: “Kami berdua adalah utusan Tuhan Anda (Allah), maka lepaskan bani Israil (agar ikut) bersama kami dan jangan Anda siksa mereka,

sesungguhnya kami membawa bukti dari Tuham Anda (Allah), dan keselamatan untuk siapa yang mengikuti petunjuk (Allah). (QS. Thaha: 47)

Nabi Muhammad saw diutus untuk seluruh umat manusia. Sementara nabi-nabi sebelumnya diutus untuk kaumnya sendiri, termasuk nabi Musa. Hal yang mengusik pikiran kita, jika Musa as diutus untuk bani Israil, mengapa terlibat konfrontasi melawan Firaun yang notabene bangsa Mesir, bukan bani Israil?

Jawabannya, karena bani Israil berada dalam cengkeraman Firaun. Musa as tidak akan bisa membangun dan membentuk masyarakat bani Israil menjadi masyarakat islami jika tengkuk mereka masih terbelenggu kekuasaan Firaun.

Kekuasaan Firaun akan selalu menghalangi upaya perbaikan aqidah dan ibadah bani Israil, sebab Firaun punya kepentingan untuk memastikan seluruh warga negara mengikuti ideologinya.

Upaya perbaikan yang dilakukan Musa as untuk internal bani Israil bersifat kontradiktif dengan ideologi negara yang dipimpin Firaun, sementara bani Israil hanya rakyat biasa di sana. Musa as membawa ideologi tauhid, sementara Firaun mengusung syirik. Keduanya tak akan pernah akur.

Tak ada cara lain bagi Musa as kecuali mengevakuasi bani Israil dari cengkeraman Firaun. Musa as sebetulnya tak ada kepentingan untuk meruntuhkan kerajaan Firaun atau membunuh Firaun.

Kepentingan Musa as hanya membebaskan bani Israil untuk dibawa keluar Mesir agar bisa dibentuk menjadi masyarakat islami di tanah baru secara merdeka. Toh bani Israil hanya minoritas di Mesir, tidak membuat kerajaan Firaun guncang sekiranya bani Israil eksodus dari Mesir.

Tujuan kedua, Musa as ingin menyelamatkan bani Israil dari intimidasi Firaun. Gara-gara kepercayaan bahwa kerajaan Firaun akan diruntuhkan oleh salah satu putra bani Israil, Firaun kalap dengan melakukan genosida terhadap putra-putra bani Israil.

Ketika pilihan melawan tidak mungkin karena bani Israil lemah sementara Firaun terlalu kuat, maka jalan yang masuk akal hanya melobby Firaun agar mengijinkan bani Israil untuk mengungsi keluar dari Mesir.

Lalu mengapa Musa as perlu konfrontasi ideologi melawan Firaun? Bukankah tujuannya hanya mengevakuasi bani Israil dari cengkeraman Firaun, tak harus konfrontasi ideologi?

Kisah Musa as justru menegaskan bahwa membebaskan manusia dari kezaliman manusia lain harus diawali membebaskan Allah dari kezaliman manusia.

Firaun melakukan dua jenis kezaliman. Pertama, kezaliman terhadap Pencipta. Ia merebut jabatan ketuhanan dari Allah lalu menyematkan pada dirinya sendiri. Ini merupakan puncak kezaliman, sebab obyek kezalimannya adalah Pencipta, dan pelakunya hanya makhluk yang hina.

Itulah kenapa Luqman al-Hakim mengawali wejangan kepada putranya dengan tauhid, dan menyebut bahwa syirik adalah kezaliman terbesar. (Lihat QS 31: 13).

Kedua, kezaliman terhadap bani Israil. Kezaliman ini setingkat di bawah kezaliman kepada Allah. Sebab obyek kezaliman dengan pelakunya sejajar, sama-sama manusia. Pelaku punya kekuatan sementara obyek kezaliman tak punya kemampuan melawan.

Masalahnya, tak mungkin bagi Musa as menuntut dihentikannya kezaliman lebih rendah dengan mengabaikan kezaliman yang lebih tinggi. Tak mungkin Musa as mengabaikan klaim ketuhanan Firaun dan hanya membicarakan misi menyelamatkan bani Israil dari kezaliman Firaun.

Jika Musa as melakukan itu, berarti ia hanya seorang politisi, bukan nabi utusan Allah. Politisi hanya memikirkan kepentingan dirinya sendiri, sementara utusan Allah memikirkan kepentingan Allah dan hamba-hamba-Nya.

Seandainya Firaun sejak loby pertama langsung membebaskan bani Israil untuk dibawa pergi oleh Musa as, apakah Musa as akan melanjutkan konfrontasi ideologi terhadap Firaun? Tidak, karena Musa diutus untuk memperbaiki keislaman bani Israil, bukan bangsa Mesir.

Musa as otomatis akan tinggal bersama bani Israil di tempat baru dan melakukan dakwah untuk perbaikan internal bani Israil. Dengan demikian, konfrontasi dengan Firaun hanya konsekwensi logis dari tugas “menjadi nabi untuk bani Israil”.

Tapi masalahnya, secara sunnatullah mustahil sosok yang dengan jumawa menzalimi Allah akan dengan mudah menghentikan kezaliman kepada sesama manusia – bani Israil. Karenanya asumsi itu tak akan pernah terjadi.

Artinya, Firaun hanya akan menghentikan kezaliman kepada sesama manusia jika ia terlebih dahulu menghentikan kezaliman kepada Allah. Itulah mengapa Musa as mengawali diplomasinya dengan narasi tauhid: Kami berdua adalah utusan Tuhan Anda (Allah).

Baru kemudian narasi kemanusiaan: maka lepaskan bani Israil (agar ikut) bersama kami dan jangan Anda siksa mereka.

Jika kita kaitkan dengan realita masa kini, apa yang dilakukan Musa as sangat relevan untuk dijadikan pelajaran. Hari ini umat Islam dikendalikan tengkuknya oleh kekuatan kafir global yang selalu menzalimi sementara umat Islam lemah dalam posisi terus terzalimi.

Jika kita ingin memperbaiki keadaan umat Islam secara ideal, hingga pada pelaksanaan hukum Allah secara sempurna, maka cara yang paling logis adalah dengan membebaskan umat Islam terlebih dahulu dari belenggu kekuasaan kafir dunia. Selama belenggu itu masih menjerat, perbaikan hanya akan bersifat parsial, tak pernah sempurna.

Sunnatullah pada Musa as terulang pada era nabi Muhammad saw. Ada fase memukul kekuatan kekafiran dan mengevakuasi umat Islam dari cengkeraman kekuatan kafir (Mekah) menuju wilayah sendiri yang merdeka.

Setelah terkonsentrasi di wilayah sendiri (Madinah), barulah Islam bisa diterapkan secara sempurna dalam mengatur kehidupan umat Islam dari hal yang paling kecil hingga paling besar.

Sunnatullah ini masih berlaku hingga kini. Umat Islam harus lebih fokus memukul kekuatan kafir agar cengkeramannya kepada umat Islam longgar bahkan lepas sama sekali, lalu masuk babak baru yaitu membumikan Islam secara sempurna di tengah komunitas umat Islam yang telah merdeka dari jerat kekuasaan kafir.

Sunnatullah penegakan Islam tak pernah berubah. Kisah Musa as bukan dongeng pengantar tidur, tapi narasi sunnatullah yang niscaya berulang pada setiap zaman dengan kemasan yang berbeda.

Proses evakuasi umat dari cengkeraman kekafiran niscaya memerlukan kekuatan senjata, dan ini sudah diakomodasi dalam Islam dengan ibadah bernama jihad fi sabilillah.

Pada kasus nabi Musa as, syariat jihad masih dalam bentuk yang sangat awal, hanya bermodal sabar dan tawakkal maka Allah sendiri yang akan menghancurkan musuh-Nya.

Dalam kasus Nabi Muhammad saw, jihad sudah lebih matang dengan kombinasi antara pertolongan Allah dan usaha nyata manusia dalam menyiapkan kekuatan bersenjata.

Perang Badar dan perang-perang berikutnya adalah bagian dari fase evakuasi umat dari cengkeraman kekafiran itu.

Salah satu tokoh modern yang mengusung narasi evakuasi umat dari cengkeraman kekafiran adalah Usamah bin Ladin. Kalimatnya terkenal ketika menyapa Amerika: Wahai Amerika, kalian tak akan pernah merasa aman selama anak-anak kami di Palestina tidak merasa aman dari kezaliman Anda.

Tujuan kalimat ini agar AS melepaskan cengkeramannya terhadap umat Islam, untuk kemudian umat bebas mengatur hidupnya sendiri.

Kecanggihan senjata merupakan alat hegemoni AS dan Barat terhadap umat Islam, dilawan dengan jihad fi sabilillah. Sementara Demokrasi merupakan alat politik bagi AS untuk menjerat umat Islam, dilawan dengan komitmen hati untuk membencinya dan jika sudah memungkinkan membuangnya ke tong sampah.

Selama umat Islam masih mencintai Demokrasi, mereka akan terus dikendalikan secara sukarela oleh AS dan tak akan pernah lepas untuk hidup mandiri dengan cara Islam. Wallahua’lam bis-shawab.

Sumber : Join channel telegram.me/islamulia

Penulis : @elhakimi

Editor : Helmi Alfian