Pelajaran Politik Musa as vs Firaun, Loyalitas Uang vs Loyalitas Iman #4

musa vs Firaun 4
musa vs Firaun 4
musa vs Firaun 4
musa vs Firaun 4

An-Najah.net –

وَجَاءَ السَّحَرَةُ فِرْعَوْنَ قَالُوا إِنَّ لَنَا لَأَجْرًا إِنْ كُنَّا نَحْنُ الْغَالِبِينَ (113) قَالَ نَعَمْ وَإِنَّكُمْ لَمِنَ الْمُقَرَّبِينَ (114)

Para ahli sihir itu datang kepada Fir’aun mengatakan: “(Apakah) kami benar-benar akan mendapat upah, jika kamilah yang menang?” 113.

Fir’aun menjawab: “Ya, dan Anda benar-benar akan termasuk orang-orang yang dekat (kepadaku).” 114. (QS. Al-A’raf: 113-114)

Firaun geram setelah melihat mukjizat yang diperlihatkan Musa as, yaitu tongkat dilemparkan ke tanah maka berubah menjadi ular besar, dan tangannya mengeluarkan cahaya putih setelah dikepitkan ke ketiak.

Firaun dan para pejabat yang hadir saat itu menyimpulkan secara gegabah, apa yang ditunjukkan Musa as menegaskan bahwa ia seorang ahli sihir yang hebat.

Maka Firaun bertekad untuk mengalahkannya, tentu saja dengan sihir yang lebih kuat. Firaun mengumpulkan ahli-ahli sihir paling sakti seantero negeri.

Mereka adalah rakyat Firaun yang sudah selayaknya loyal kepada perintah sang raja. Tapi nampaknya ada hal menarik yang bisa menjadi pelajaran dalam kisah ini, yakni negosiasi soal upah yang akan diterima oleh para ahli sihir dari Firaun.

Pertama, negosiasi menggunakan kata penguat (benar-benar), yang mencerminkan kekhawatiran mereka untuk dibohongi oleh Firaun.

Besar kemungkinan, kasus orang dimanfaatkan oleh Firaun atau tangan-tangan kekuasaannya tapi akhirnya hanya mendapat pepesan kosong merupakan hal biasa, sehingga para ahli sihir merasa perlu untuk menegaskan imbal hasilnya.

Sebuah ungkapan yang menggambarkan kualitas loyalitas rakyat terhadap penguasa. Bukan kecintaan tulus, tapi hanya setengah hati. Bandingkan dengan realita sekarang.

Kedua, ikatan loyalitas Firaun dengan rakyat dan siapapun yang membantunya adalah uang atau upah. Buktinya, para ahli sihir menegosiasikan upah di hadapan Firaun.

Dan Firaun juga tak menolak, menegaskan itu hal yang jamak. Apapun selalu diukur dengan uang. Penguasa menggunakan kekuasaannya untuk mendulang uang, karenanya rakyat menirunya persis tak lebih tak kurang. Mereka hanya mau membela penguasa jika ada jaminan uang. Bandingkan dengan realita masa kini.

Ketiga, Firaun paham bahwa siapapun yang alam pikirannya dipenuhi ambisi uang, pada dasarnya juga suka kekuasaan. Maka selain menyetujui soal negsosiasi upah, Firaun memberi bonus berupa janji kedekatan dengan lingkar kekuasaan kepada para ahli sihir.

Salah satu kebanggaan naluriah manusia adalah dekat dengan para penguasa dan orang terkenal. Tentu saja semuanya dengan syarat para ahli sihir memenangkan pertarungan melawan Musa as.

Ternyata pertarungan dimenangkan Musa as. Para ahli sihir lalu sujud sebagai tanda beriman terhadap Musa as. Para ahli sihir melihat ular hakiki lengkap dengan ruh yang menelan ‘ular’ tali dan kayu karya mereka. Fakta ini benar-benar di luar teori ilmu sihir yang mereka pelajari. Kenyataan ini memantik iman di hati mereka.

Para ahli sihir yang awalnya terikat loyalitas uang dengan Firaun melepas ikatan itu secara terang-terangan tanpa izin dan koordinasi dengan Firaun. Spontan mereka sujud.

Dan itu bermakna maklumat pindahnya loyalitas kepada Musa as di depan mata Firaun. Sebuah pemandangan dramatis yang sangat menyakitkan bagi Firaun.

Tak ayal ini membuat Firaun naik pitam, dan mengeluarkan vonis mati dengan cara paling sadis; tangan dan kaki dipotong secara menyilang, sesudah itu disalib di batang korma sampai mati.

Tapi vonis mengerikan itu sama sekali tak menggentarkan para ahli sihir yang sudah kadung beriman. Maknanya, loyalitas uang rapuh, karena hanya bersandar pada kepentingan sesaat.

Sementara loyalitas iman lebih mengakar di hati karena ia berjangka panjang hingga alam akhirat. Meraih loyalitas iman memang tidak mudah,

bahkan sebagiannya perlu latar belakang peristiwa dramatis yang penuh resiko dan pengorbanan, tapi jika sudah merasuk dalam jiwa, kekuatannya dapat menyapu semua tantangan, termasuk ancaman kematian.

Pelajaran yang bisa dipetik dari kisah ini khusus untuk para aktifis Islam:

1- Ikatan loyalitas barisan kebatilan itu hanya perkara remeh – uang – karenanya lemah seperti jaring laba-laba yang tampak rapi saling menyambung tapi sejatinya rapuh. Jangan merasa lemah menghadapi kekuatan mereka.

2- Bagi para aktifis Islam, mengalahkan loyalitas uang yang mengikat para pembela kebatilan tidak bisa dengan uang yang lebih banyak. Selain ia bukan jalan Islam, para aktifis Islam juga biasanya kalah modal. Maka yang paling tepat adalah mengalahkan loyalitas mereka dengan iman.

3- Ikatlah loyalitas umat dengan iman maka Anda akan kuat karena iman akan melahirkan pengorbanan sampai mati. Tanamkan iman sebagai energi perlawanan. Jangan hanya mengajarkan iman sebagai kenikmatan spiritual, tapi juga spirit perlawanan terhadap kebatilan.

Kasus terkini (perseteruan Ahok vs ulama) adalah cermin pertarungan antara loyalitas uang melawan loyalitas iman.

Jika iman kalah, bukan berarti uang lebih kuat, tapi yang benar iman belum menjadi pengendali kehidupan umat Islam, terutama dalam berpolitik. Berarti PR ulama masih berlanjut, menanamkan iman lebih mendalam di hati seluruh elemen umat.

Sumber : https://t.me/IslaMulia

Penulis : @elhakimi

Editor : Helmi Alfian