Pemuda Haparan “Bangsa”‎

Pemuda harapan bangsa

An-Najah.net – Pemuda adalah masa keemasan. Tak heran banyak ungkapan-ungkapan yang menunjukkan betapa besar harapan terhadap para pemuda. Di tangan mereka urusan umat, baik dan buruknya masa depan umat ini. Jika pemuda hari ini baik, maka baiklah masa depan umat. Sebaliknya, jika pemuda hari ini buruk, suramlah masa depan mereka.

Masih Butuh Pembimbing

Tak dipungkiri, pemuda hari ini banyak bergelimang syahwat. Pola dan gaya hidup barat merasuk dalam pikiran dan perilaku mereka. Pergaulan bebas, minum-minuman, nyanyian-nyanyian syahwat, majalah dan gambar porno dan perzinaan bukan dianggap sesuatu yang tabu. Sementara pengawasan dan kontrol orang tua semakin longgar.

Baca juga: Kabar Gembira Bagi Para Penggenggam Bara di Akhir Zaman

Bukankah Rasulullah Saw selama hidupnya menjadi murobbi (pendidik) bagi umatnya, baik dengan perbuatan, ucapan, penetapan dan serta sifat-sifat yang mulia saat mendidik umatnya. Begitu juga umat hari ini (terkhususnya para pemuda), mereka memiliki semangat yang membara, namun masih membutuhkan adab, arahan, serta tarbiyah dalam kehidupannya.

Berikut, salah satu contoh keteladanan Rasulullah Saw saat mendidik para sahabatnya dengan lembut dan kasih sayang.

Kisah Pemuda yang Ingin Berzina                

Kisah ini menarik untuk dicermati di tengah maraknya perzinaan hari ini. Dalam hadis dijelaskan, ada seorang laki-laki datang kepada Rasulullah Saw dan berkata, “Ya Rasulullah Saw, saya ingin Islam, tetapi saya tidak dapat meninggalkan zina. “Mendengar pertanyaan orang ini, para sahabat yang mendengarnya emosi, namun Rasulullah Saw menenangkannya dan tidak mencela sedikit pun orang yang bertanya tersebut.

Baca juga: Generasi Rabbani, Kebutuhan Ummat Zaman Now

Rasulullah Saw kemudian balik bertanya, “Relakah kamu bila ibumu dizinai?” Lelaki tersebut menjawab, “Tidak.” Rasulullah Saw bertanya lagi, “Relakah kamu jika saudarimu dizinai?” Lelaki itu kembali menjawab, “Tidak.” Rasulullah Saw bertanya lagi, “Relakah kamu putrimu dizinai?” Lelaki itu menjawab, “Tidak “Rasulullah Saw bertanya lagi, “Relakah kamu bibimu (dari pihak ayah) dizinai?” Lelaki itu menjawab, “Tidak, “Rasulullah Saw bertanya lagi, “Relakah kamu jika bibimu (dari pihak ibu) dizinai?” Lelaki itu menjawab, “Tidak.”

Maka Rasulullah Saw bersabda, “Bagaimana orang lain akan rela, padahal kamu sendiri tidak rela dengan hal itu? Lelaki itu akhirnya diam. Kemudian berkata, “Aku bertobat kepada Allah Ta’ala dari perbuatan zina.” Kemudian Rasulullah Saw meletakkan tangannya di atas dadanya seraya bersabda:

اللهُمَّ كَفِّرْ ذَنْبَهُ، وَطَهِّرْ قَلْبَهُ، وَحَصِّنْ فَرْجَهُ

Ya Allah, ampunilah dosanya, bersihkanlah hatinya, dan jagalah kemaluannya. (HR. Thabrani: 7679)

Kisah ini cukup menarik di tengah perzinaan dianggap lumrah. Pergaulan bebas terjadi dimana-mana. Batas antara laki-laki dan perempuan semakin tipis. Bisa dijadikan contoh dalam mendidik para generasi muda kita, untuk membendung perzinaan yang merajalela.

Baca juga: Kultum : Mencetak Generasi Qurani Zaman Now

Semoga Allah Ta’ala selalu melindungi generasi-generasi muda kita dari berbagai fitnah dan syubhat yang dianggap lumrah di era ini, amin. Wallahu Ta’ala ‘Alam

Penulis             : Ibnu Jihad

Editor               : Ibnu Alatas