Penaklukkan Pertama Baitul Maqdis

Baitul Maqdis
Baitul Maqdis

An-Najah.net – Kisah penguasaan umat Islam terhadap bumi Syam, khususnya Al-Quds, bermula dari zaman Sayyidina Abu Bakar ash-Shidiq RA diangkat sebagai khalifah. Walau terjadi banyak kekacauan di dalam negeri, pasca wafatnya Rasulullah SAW, Abu Bakar RA tetap melanjutkan misi Rasulullah SAW yang tertunda untuk memerangi Romawi.

Kontak senjata yang paling terkenal pada zaman mertua Rasulullah SAW ini adalah perang Ajnadain. Banyak sahabat rasulullah SAW yang terlibat dalam peperangan ini. Abu Ubaidah bin Jarrah RA memimpin pasukan ini, dibantu oleh saifullah, Khalid bin Walid RA.

Di kubu Romawi, setiap sepuluh orang diikat dengan satu rantai. Harapan mereka; agar tidak ada satupun pasukan yang melarikan diri. Jihad yang terjadi pada 13 H/634 M ini, dimenangkan mutlak oleh mujahidin.

Sepeninggal Abu Bakar RA, Sayyidina Umar bin Khathab RA melanjutkan penaklukan Syam. Panglima tertinggi dipegang oleh Khalid bin Wali. Pada tahun 15 H/636 M, terjadi pertempuran yang maha dahsyat. Yang selalu dikenang dalam sejarah Islam dan Kristen. Yaitu Perang Yarmuk.

Saat mendengar Romawi memobilisasi 200.000 pasukan untuk menyerang mujahidin, sahabat Abu Ubaidah RA yang menjabat gubernur (Amir) Homs, Suriah, mengembalikan jizyah (pajak) penduduk Kristen yang bernaung di bawah pemerintahan Islam.

Jizyah adalah jaminan keamanan dan kebebasan hidup di bawah pemerintahan Islam. Maka tatkala pemerintah Islam, tidak bisa menjaga keamanan dan kebebasan hidup agama lain, jizyah harus dikembalikan. Abu Ubaidah khawatir, jika prajurit Romawi menyerang Homs, pemerintah Islam tidak mampu lagi menjaga keamanan dan kebebasan hidup kaum nahsara di Homs.

Saat menerima kembalian jizyah. Penduduk Kristen Homs menangis, mereka sedih ditinggal oleh pasukan Islam. Mereka lebih nyaman hidup di bawah pemerintahan Islam, daripada tinggal di bawah kekuasan Byzantium Kristen yang seagama dengan mereka.

Kecerdasan Khalid bin Walid

Perang Yarmuk terjadi di dekat jurang. Khalid bin Walid yang datang dari Irak bersama pasukannya, memanfaatkan posisi geografi ini. Ia kemudian menekan pasukan Romawi, hingga mengarah ke jurang. Sampai akhirnya mengepung mereka di sana. Ketika ada salah satu diantara pasukan Romawi jatuh, turut jatuh pula 10 pasukan lainnya hingga akhirnya 80.000 pasukan Romawi jatuh ke dalam jurang.

Setelah dihitung jumlah pasukan Romawi yang terbunuh dalam peperangan ini, mencapai 50.000 sehingga jumlah total korban dari kubu Romawi 130.000. Sementara Pasukan Islam gugur sejumlah 3000 dari jumlah total 36 ribu pasukan.

Dengan demikian, kemenangan besar diraih kaum muslimin. Inilah mukjizat militer abad ini. Kemenangan besar ini mengguncang Romawi. Setelah mendengar berita kekalahan telak ini, Heraklius langsung angkat kaki dari Syam dan damaskus Seraya menuturkan kalimat yang popular, “Selamat tinggal Syam, kami tidak akan kembali.”

Kholid Sang Idola

Setelah kemenangan di Yarmuk, nama sahabat Khalid bin Walid semakin melambung. Banyak orang yang mengidolakannya, inilah yang membuat Sayyidina Umar Bin Khattab RA mengkhawatirkan keselamatannya. Beliau pun mencopot Khalid bin Walid dari Panglima tertinggi, digantikan oleh Abu Ubaidah.

Salah satu alasannya, beliau khawatir akan muncul rasa sombong (kibr) di hati sahabat Kholid, sehingga ia bisa celaka dengan perasaan tersebut. Selain itu Sayyidina Umar, khawatir di kemudian hari, akan ada orang-orang yang mengkultuskan sahabat Khalid.

Artinya pencopotan Khalid dari Panglima tertinggi adalah bentuk kecintaan Umar kepada sahabat Khalid. Dan Khalid pun tidak kecewa dengan pencopotan tersebut. Bahkan beliau mengucapkan kalimat yang tidak pernah dilupakan oleh sejarah, “Aku selama ini berperang berjihad bukan karena Umar, tapi karena Tuhannya umar (Allah SWT).”

Umar mengarahkan Pasukan Islam untuk mengepung benteng Romawi Kristen yaitu Yerusalem, sekaligus membebaskan kota suci ketiga umat Islam tersebut. Pasukan yang dipimpin oleh Khalid lebih dahulu tiba 10 hari sebelum kedatangan Abu Ubaidah bin Jarrah, panglima tertinggi.

Selama 10 hari itu, peperangan sangat sengit orang-orang Romawi menunjukkan kegigihannya mempertahankan benteng terakhir mereka tersebut. Pada hari ke-11, Abu Ubaidah RA, tiba-tiba disambut dengan takbir menggema dan menggetarkan pasukan Romawi.

Hal ini membuat salah seorang Patrick, yang dihormati di Yerusalem berkata kepada pasukan Romawi, “Demi Injil, jika memang pemimpin mereka dating, maka kekalahan kalian di ambang pintu.” Mereka heran dan bertanya, “Bagaimana bisa terjadi?”

Patrick menjawab, “Kami mendapati di ramalan-ramalan kitab suci kita, bahwa yang akan menaklukkan bumi ini dari ujung ke ujung, termasuk diantaranya Palestina adalah seorang laki-laki berkulit sawo matang, tinggi dan besar, matanya lebar. Jika memang ia sudah datang, kalian tidak akan berdaya memeranginya. Maka, serahkanlah Al-Quds kepadanya.”

Ciri-ciri ini adalah ciri khas Umar Bin Khattab RA. Ketika Patrick tahu bahwa yang datang bukan orang yang diramalkan dalam kitab sucinya. Ia menyuruh pasukan Romawi untuk melanjutkan peperangan. Pertempuran dilanjutkan. Mujahidin mengepung Baitul Maqdis selama 4 bulan lebih, seluruh akses ditutup oleh mujahidin sehingga Romawi Nasrani kesulitan.

Sang Patrick akhirnya memutus utusan untuk bertanya kepada Pasukan Islam seperti apa ciri pemimpin mereka yang ada di Madinah yaitu Umar Bin Khattab. Kaum muslimin memberitahukan ciri-ciri Umar Bin Khattab dan ternyata ciri-cirinya sesuai dengan ramalan kitab suci orang-orang Kristen.

Patrick mengajak berunding Abu Ubaidah. Patrick bertanya, “Wahai muslim, Wahai orang Arab, jika kalian datang ke sini untuk menghancurkan negeri ini, kalian akan hancur. Karena negeri ini dijaga oleh Allah SWT.”

Sahabat Abu Ubaidah menjawab, “Justru kami datang kesini untuk memuliakannya dan mengagungkannya. Karena negeri ini, negeri Suci kami, kiblat pertama kami, tempat nabi kami Isra Miraj, dan tempat nabi kami mengimami seluruh para nabi!”

Patrick mengatakan, “Kalau begitu kami serahkan kunci Yerusalem ini kepada kalian. Tapi syaratnya yang menerimanya adalah pemimpin kalian di Madinah.”

Abu Ubaidah pun mengundang Umar Bin Khattab RA, ke Al-Quds. Maka Sayidina Umar berangkat dari Madinah, dengan seorang pelayannya tanpa diiringi oleh Pasukan Pengawal beliau berdua hanya membawa satu ekor unta yang dinaiki secara bergantian.

Ketika memasuki Al-Quds, jatah mengendarai unta adalah pembantunya. “Wahai tuanku, ambil jatahku. Naiklah ke unta ini.” Pembantu menawarkan jatahnya. Sayidina Umar menolak. Saat memasuki Al-Quds beliau disambut dengan takbir para mujahidin.

Sesaat sebelum memasuki gerbang Al-Quds, mereka harus melewati sebuah sungai. Sayyidina Umar mencopot sepatunya. Tangan kanannya memegang sepatu, sementara tangan kirinya memegang tali unta. Inilah yang membuat Abu Ubaidah RA mengatakan,

“Wahai Amirul Mukminin, sungguh engkau telah melakukan aib di mata orang-orang Romawi [menuntun unta dan memegang sandal].” Dalam pandangan Romawi, perbuatan ini tidak layak dilakukan oleh seorang pemimpin tinggi seperti Khalifah.

Umar bin Khathab RA justru mengingatkan Abu Ubaidah, “Sungguh celaka, jika bukan kamu yang mengucapkan kalimat itu. Wahai Abu Ubaidah, tidakkah kamu ingat? Dulu kita bangsa yang hina, bangga dengan tradisi jahiliyah kita, Lalu Allah SWT memuliakan kita dengan Islam. Sungguh, siapa saja yang mencoba mencari kemuliaan dengan cara di luar Islam, (dengan tradisi Romawi atau Persia), Allah SWT pasti akan menghinakan kita.”

Umar pun memasuki benteng Al-Quds dengan menuntun unta. Berjalan tegak penuh wibawa, sederhana, aura keshalehannya menjadikan orang-orang mengaguminya. Melihat suasana itu, sang Patrick gentar dan takut, lalu berkata, “Tak seorangpun yang mampu menghadapi mereka ini. Serahkan saja Al-Quds pada mereka, niscaya kalian akan selamat. ”

Setelah itu dibuatlah perjanjian antara Umar mewakili Islam dengan Patrick mewakili Romawi. Dimana isinya, Umar bin Khathab memberi jaminan keamanan bagi tempat-tempat suci agama. Tidak boleh dirusak sedikitpun.

Penulis : Mas’ud Izzul Mujahid

Sumber : Majalah An-Najah Edisi 146 Rubrik Tema Utama

Editor : Anwar