Penasihat Senior Al-Qaidah, Abu Hafsh Al-Mauritani, Taraju'; Benarkah?

abu-hafs(an-najah.net) “Dalam beberapa tahun terakhir kita mencari-cari bagaimana kabarnya Mahfudz Walad Al-Walid atau Abu Hafsh Al-Mauritani. Kita pernah mendengar bahwa ia telah gugur syahid, insya Allah. Kita pun memintakan kerahmatan dan pengampunan baginya.

Kali lain, kita mendengar bahwa ia di penjara Iran. Kita pun memohon kepada Allah SWT agar membebaskannya dan selamat dari tangan mereka.

Beberapa bulan lalu, kita mendengar bahwa Iran telah menyerahkan dirinya kepada pemerintah Mauritania. Kita pun mengucapkan sukacita mendengar pembebasannya tersebut.

Kita berharap bahwa hal itu akan menjadi awal penyempurnaan proyek jihad yang memang untuk itulah dia keluar dari negerinya sejak dua puluh tahun lalu.

Akan tetapi, kita terkejut baru-baru ini karena orang yang kita tunggu-tunggu tersebut kembali dengan pemikiran dan pandangan baru.”

Untaian kalimat tersebut menjadi pembuka tulisan Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Asy-Syinqithi dalam bukunya Hal Taraju’u Walad Al-Walid am Uhturiqat Al-Qaidah? (Apakah Walad Al-Walid Menarik Pendapatnya, ataukah Al-Qaidah telah difitnah?), yang dirilis oleh Mimbar Tauhid dan Jihad pada Ahad kemarin, 27/1/2013.

Apa sebenarnya yang terjadi dengan salah satu penasihat senior Al-Qaidah ini? Apakah beliau benar-benar taraju’ dari pemikiran jihad sebelumnya?

Dalam tulisan setebal 114 halaman tersebut, Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Asy-Syinqithi menyimpulkan bahwa Abu Hafsh Al-Mauritani telah berubah pikiran. Hal itu tampak dalam wawancaranya dengan saluran TV Al-Jazeera. Beliau seolah-olah telah menemukan tujuan sejatinya setelah keluar dari penjara.

Asy-Syinqithi melihat wawancara itu telah dirancang sebelumnya, terbukti dari jawaban yang selalu konsisten sepenuhnya dengan tujuan pertanyaan, seakan dialog itu dilakukan melalui remot kontrol. Bahkan, tampak semangat penjawab lebih tinggi daripada penanya.

Adakalanya, penanya tampak lebih tahu jawabannya daripada Abu Hafsh. Misalnya, penanya mengingatkan beberapa perkara yang tidak diingat oleh Abu Hafs. Misalnya ungkapan, “Mereka berkata kepada Anda, Presiden Obama menunggu jawaban ini.” (hal. 3).

Beberapa jawaban Abu Hafsh dalam wawancara itu adalah:

  1. “Setelah pembentukan komite oleh Kongres AS untuk menyelidiki penyebab peristiwa September, Komisi ini sendiri menemukan bahwa saya pribadi adalah salah satu yang paling bermusuhan dengan peristiwa pada bulan September tersebut.” (hal. 16; terdapat kesalahan redaksi: bulan September dengan kata Desember)
  2. “Iran, pada kenyataannya dalam masalah kasus kami, melakukan hal-hal yang baik dalam beberapa persoalan dan buruk di beberapa persoalan lain, tetapi secara keseluruhan Iran adalah bisa diterima. Bahkan mungkin bisa dikatakan lebih daripada sekadar diterima. Keberadaan kami di Iran melewati beberapa tahap, namun belakangan ini mereka menunjukkan keramahan.” (hal. 17).
  3. “Pemerintah Mauritania telah melakukan banyak upaya bersama AS, yang hasilnya adalah keberadaan saya (baca: kebebasan) hari ini di Mauritania.” (hal. 18).
  4. “Ada beberapa ikhwah yang diserahkan (oleh Amerika) ke negara mereka (Iran) dan ada ada sejumlah lain yang dikirim ke Afghanistan, lalu Afghanistan menyerahkan mereka ke Amerika.”  (hal. 22).

Dalam wawancara tersebut, Abu Hafsh juga mengkritik keras Al-Qaedah dan Mujahidin. Dan menyerang mereka dengan cara yang menimbulkan banyak tanda tanya tentang motif serangan tersebut.

Tetapi, menurut Asy-Syinqithi, tidak ada yang baru dalam kata-katanya. Semua kritikannya hanyalah mengulang ungkapan orang-orang yang telah tertipu sebelumnya, yakni isu keamanan, fatrah Makkiyah, dan pembunuhan sipil. Yang baru hanya satu, yakni Abu Hafsh mendukung orang-orang yang berpendapat seperti itu.

Syaikh Abdullah Asy-Syinqithi menyebut taraju’ di tengah-tengah Salafi Jihadi merupakan fenomena yang banyak terjadi pada masa kini. Hal itu telah terjadi pada orang biasa, pemimpin terkemuka, maupun ideolog. Bahkan ada pula taraju’ yang dilakukan oleh suatu jamaah secara keseluruhan.

Ini semua terjadi berulang-ulang di setiap negara yang pemimpin manhaj jihadnya banyak yang di penjara; Arab Saudi, Mesir, Libya, Mauritania, dan Maroko.  Sering kali kita mendengar si fulan taraju’ setelah keluar dari penjara.

Ilmu di Penjara

Penjara memang menjadi tempat orang mengalami tekanan psikologis, pembunuhan tekad, dan pemaksaan untuk melepaskan prinsip dan akidah.

Namun, sulit diakui bila perubahan pemikiran setelah seseorang keluar dari penjara adalah kebenaran sejati dan koreksi atas kesalahan pemikiran sebelumnya.

Apakah penjara bisa tiba-tiba menjadi pabrik satu-satunya untuk semua perubahan pemikiran?

Apakah penjara kini menjadi “universitas” bagi para ulama dan mahasiswa untuk mendapatkan ilmu yang tidak bisa didapat di lapangan (baca: medan jihad)?

Apakah orang yang dalam keadaan tertekan dan dibatasi lebih mampu meneliti dan menemukan kebenaran ilmiah daripada orang yang bebas tanpa tekanan?

Tiada lain itu adalah pencucian otak bagi para mujahid. Lihat halaman 7-12.

Tanda tanya yang muncul adalah bagaimana mungkin seorang pemimpin Al-Qaidah ditangkap Amerika, lalu Amerika membiarkannya hidup aman di tengah-tengah masyarakat?

Apakah mungkin Amerika membebaskannya tanpa syarat hanya karena ia membenci serangan terhadap Amerika?

 Sulit dipahami, sebab sebagian muslim yang tidak ada hubungan dengan organisasi Al-Qaidah ditangkap dan dibawa ke Guantanamo, termasuk anggota Jamaah Tabligh, dan kameramen Al-Jazeera, Sami Al-Haj.

Tetapi, Abu Hafsh menyatakan bahwa tidak ada yang berubah dalam pemikiran maupun manhajnya.  

“Sebenarnya tidak ada pendapat yang ditarik kembali. Semua peikiran yang saya yakini hari ini adalah sama dengan pemikiran saya sebelumnya,” ungkapnya dalam wawancara itu.

Bagaimana pun, semua pernyataan tersebut sepertinya berkaitan dengan berita di media tentang Abu Hafsh, mulai dari kabar bahwa dia telah gugur, di penjara di Iran, hingga akhirnya bebas.

Ala kulli hal, sebagai bagian dari kerja media, saya melihat Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Asy-Syinqithi dalam tulisan setebal itu tiada lain sebagai bentuk kritik terhadap apa yang diucapkan, bukan sebuah kebencian. Itu adalah wujud saling menasihati sebagai sesama Muslim. Bila Anda juga membacanya dan mengatakan bahwa bahasanya jauh dari bahasa nasihat, mungkin kita perlu memahami bahwa bahasa orang itu berbeda-beda. Wallahu a’lam.

Redaksi: Agus