Penentu Puasa 9 Dzulhijjah Bukan Wukuf Tapi Hilal Di Negeri itu

hilal Dzulhijjah
hilal Dzulhijjah
An-Najah.net – Rasulullah teladan umat Islam. Tidak terasa kita sudah berada di bulan Dzulhijjah, bulan penuh pahala dan ‎berkah. Keutamaanya tidak kalah dibandingkan dengan keutamaan bulan Ramadhan bahkan ‎amalan jihad. Mengapa demikian? Tikak lain, karena Rasulullah Saw pernah bersabda:‎
عَن النَّبيِ صَلَي الله ُعَلَيْهِ وَسَلَّم قاَلَ: شَهْرَا عِيْدٍ لاَ يَنْقُصَان، رَمَضَانَ وَذُوالْحِجَّة
Dua bulan untuk berhari raya tidak berkurang keduanya, Ramadhan dan ‎Dzulhijjah.” (Hr. ‎Muslim 1089)‎

Tidak hanya itu, Rasulullah teladan kita memberi kabar gembira dengan keutamaan ‎bulan ‎Dzulhijjah. Bukankah Rasulullah Saw telah bersabda:‎

مَا مِنْ أَيَّامَ اَلْعَمَلُ الصَّالِحُ أَحَبُّ إِلَى الله َعَزَّ وَجَلَّ مِنْ هذِهِ اْلأَياَّمَ الْعَشْر، قَالُوا:ياَ رَسُوْلَ اللهِ، وَلاَ جِهَادُ فِي ‏سَبِيْلِ اللهِ؟ قاَلَ: ‏وَلاَ جِهَادُ فِي سَبِيْلِ الله، إِلاَّ رَجُوْلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْجِعْ بِشَيْئ مِنْ ذَلِكَ ‏
Tidak ada hari dimana amal shalih pada saat itu lebih dicintai oleh Allah Ta’ala daripada ‎hari-hari ‎ini, yaitu sepuluh hari (dari bulan Dzulhijjah). Mereka bertanya: “Tidak ‎juga jihad fi sabilillah, ‎kecuali yang keluar (berjihad) dengan jiwa dan hartanya, ‎kemudian tidak kembali dengan ‎sesuatupun.” (Hr. Ahmad: 6505, at-Turmudzi: ‎‎757)‎
Dan pahala yang dijanjikan di dalamnya sangatlah besar, bukankah Rasulullah Saw pernah ‎bersabda:‎
عَنْ أَبِى قَتَادَةَ الأَنْصَارِىِّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَي الله ُعَلَيْهِ وَسَلَّم سُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَرَفَةَ قَالَ : يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ وَالْبَاقِيَةَ
Abu Qatadah al-Anshari menyatakan bahwa Rasulullah Saw pernah ditanya tentang shaum hari ‎‎‘Arafah. Beliau bersabda, ”Shaum ‘Arafah menghapus dosa (kecil) setahun yang lalu dan setahun ‎yang akan datang.” (Muslim, hadits no. 1162)‎

Permasalahan

Puasa tgl 9 Dzulhijjah pada tahun ini berbeda dengan waktu jama’ah haji yang wukuf di Arafah. ‎Waktu wukuf di Arafah pada hari Senin, 20 Agustus 2018. Sedangkan untuk 9 Dzulhijjah di ‎Indonesia jatuh pada hari Selasa, 21 Agustus 2018. ‎

Perbedaan tersebut disebabkan hilal di Arab dalam menentukan awal bulan Dzulhijjah terlihat ‎pada hari Ahad 12 Agustus 2018, sedangkan di Indonesia terlihat hari Sabtu, 11 Agustus 2018. ‎Lantas mana yang menjadi patokan?‎

Saudaraku, kasus tersebut sudah ada sejak masa silam. Dan kita harus sabar, legowo dan ‎menghargai perbedaan pendapat di dalamnya.‎

Jawaban:‎

Rasulullah Saw pernah bersabda:‎
الصَّوْمُ يَوْمَ تَصُومُونَ وَالْفِطْرُ يَوْمَ تُفْطِرُونَ وَالأَضْحَى يَوْمَ تُضَحُّونَ
‎“Puasa kalian ditetapkan tatkala mayoritas kalian berpuasa, hari raya Idul Fithri ditetapkan ‎tatkala mayoritas kalian berhari raya, dan Idul Adha ditetapkan tatkala mayoritas kalian beridul ‎Adha.” (HR. Tirmidzi no. 697)‎
Imam Tirmidzi ketika menyebutkan hadits ini berkata,‎
وَفَسَّرَ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ هَذَا الْحَدِيثَ فَقَالَ إِنَّمَا مَعْنَى هَذَا أَنَّ الصَّوْمَ وَالْفِطْرَ مَعَ الْجَمَاعَةِ وَعُظْمِ النَّاسِ

‎“Sebagian ulama menafsirkan bahwa hadits ini yang dimaksud adalah berpuasa dan berhari raya ‎bersama al jama’ah dan mayoritas manusia”. Yang dimaksud At Tirmidzi adalah berpuasa dengan ‎pemerintah (ulil amri), bukan dengan ormas atau golongan tertentu. (Muhammad bin ‘Isa at-‎Turmudzi, Sunan At-Tirmidzi, cet II, jilid 3, hal. 71, no 679, versi syamila)‎

Hadits di atas menjelaskan berpuasa dan berhari rayalah bersama pemerintah. Walaupun ‎ketetapan pemerintah berbeda dengan wukuf di Arafah.‎

Fakta Pengsyariatan

Dalam fakta sejarah, ulama sepakat shaum ‘Arafah lebih dahulu di syariatkan dari pada wukuf di ‎‎‘Arafah. Shaum Arafah disyariatkan pada tahu ke-2 hijriah sedangkan wukuf disyariatkan ke-7 ‎hijriah.‎

Kalaulah puasa 9 Dzulhijjah disebabkan karena wukuf, lantas bagaimana puasanya Rasulullah ‎Saw dan para sahabat di tahun ke-2, 3, 4 dan 5, yang mana berpuasa tanpa adanya wukuf di ‎‎‘Arafah. ‎
Maknanya, dapat dipastikan Rasulullah Saw melaksanakan shaum ‘Arafah pada tanggal 9 ‎Dzulhijjah berdasarkan rukyah penduduk Madinah dan sekitarnya.‎

Sisi Informasi dan Transportasi

Baca juga: Tiga Permasalahan Udhiyah Yang Harus Diketahuai

Bila dikaitkan dengan teknologi transportasi dan informasi. Teknologi pada masa nubuwah hanya ‎dapat memindahkan informasi dengan kecepatan rata-rata 40 km/hari. Jarak Mekah-Madinah ‎yang sekitar 490 Km membutuhkan setidaknya 12 hari untuk penyampaian informasi rukyah ‎penduduk Mekah ke Madinah. ‎

Untuk menentukan 1 Dzulhijjah dan melaksanakan shaum ‘Arafah dan berhari raya ‘Idul ‘Adha ‎tidak mungkin Rasulullah Saw dan para sahabat menunggu kabar dari Mekah yang baru tiba pada ‎tanggal 12 Dzulhijjah. ‎

Pendapat ini senada dengan pendapatnya syaikh Utsaimin yang berpendapat, bahwa terbitnya ‎fajar serta tenggelamnya matahari itu mengikuti daerahnya masing-masing, demikian pula ‎penetapan bulan, penetapan waktu harian (yaitu mengikuti daerahnya masing-masing)”‎
Rasulullah Saw bersabda:‎
إِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَصُومُوا, وَإِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَأَفْطِرُوا, فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَاقْدُرُوا لَهُ
‎“Jika kalian melihat hilal, maka berpuasalah. Jika kalian melihatnya lagi, maka berhari rayalah. ‎Jika hilal tertutup, maka genapkanlah (bulan Sya’ban menjadi 30 hari).” (HR. Bukhari no. 1906 ‎dan Muslim no. 1080). (Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin Majmu’ Fatawa wa Rosa-il Syaikh, ‎cet terakir, jilid 20, hal. 47-48,) Wallahu a’lam
Penulis ‎: Ibnu Jihad‎
Editor ‎: Ibnu Alatas