Pengamat AS: Teror Bom Boston Bukan Dipicu Atas Dasar Agama

201401_tamerlan-tsarnaev-dan-dzhokhar-tsarnaev--pelaku-pengeboman-boston_663_382
Tamerlan Tsarnaev dan Dzhokhar Tsarnaev, terduga pengebom bom Boston

BOSTON (an-najah) – Dua terduga pelaku bom Boston adalah dua kakak beradik Muslim beretnis Chechnya. Namun, pengamat mewanti-wanti untuk tidak terlalu cepat mengambil kesimpulan aksi itu dilandaskan atas dasar agama.

Menurut ulasan Boston Globe, Jumat waktu setempat, Tamerlan dan Dzhokhar Tsarnaev tidak dikenal sebagai seorang yang religius. Bahkan, menurut pengakuan beberapa temannya, Dzhokhar seperti remaja Amerika kebanyakan, suka main skateboard, berpesta, dan sesekali mengisap ganja.

Tamerlan juga bukanlah seorang yang religius. Dalam sebuah foto, petinju ini terlihat berlatih dengan seorang wanita berpakaian you-can-see, tindakan yang tidak akan dilakukan seorang Muslim ortodoks.

Memang, beberapa tahun lalu, Tamerlan tiba-tiba menjadi sangat taat. Dia terlihat sering memakai gamis dan menumbuhkan jenggot. Namun, ini hanya berlangsung selama sebulan, setelah itu jenggotnya dicukur.

Yuri Zhukov, pengamat masyarakat dan keamanan global di Universitas Harvard mengatakan, tidak ada bukti bahwa tindakan mereka dilandaskan agama. Menurut dia, ini lebih pada problematika masyarakat biasa, seperti halnya penembakan di AS beberapa waktu lalu.

“Cerita yang berkembang di sini persis seperti seorang pria yang kesepian dan ingin menonjol. Lalu, dia melakukan tindak kekerasan, seperti penembakan sekolah waktu itu, bukan pergerakan militan radikal Islam,” kata Zhukov, seperti dilansir dari vivanews.

Monica Duffy Toft, profesor di Universitas Oxford menyampaikan hal yang sama. Menurut penelitiannya, Dzhokhar memiliki sedikit teman di Facebook, tidak seperti anak-anak seusianya.

Tamerlan juga pernah mengaku tidak memiliki teman Amerika dan tidak mengerti pola pikir mereka. “Saya kira keduanya adalah pemuda yang tidak bisa beradaptasi. Ini kombinasi antara nasionalisme dicampur jihad versi sendiri, dan pemuda yang sulit menyesuaikan diri dengan budaya Amerika,” kata Toft.

Islamofobia

Pemimpin komunitas Islam di Boston, Ibrahim Rahim, yang juga imam di masjid Yusuf di kota tersebut mengaku belum pernah melihat keduanya mengunjungi mesjid itu. Dia menyayangkan jika ada orang yang menganggap insiden Senin lalu didasari paham Islam.

“Kedua pelaku tidak pernah terlihat di masjid Yusuf, orang-orang seperti mereka juga tidak akan disambut di sini. Doa dan belasungkawa kami sampaikan kepada para korban tewas dan terluka,” kata Rahim.

Setelah identitas korban terungkap, masjid terbesar di Boston itu membatalkan upacara doa bersama untuk menunjukkan toleransi pada para korban. Rahim khawatir, ke-Islaman kedua tersangka akan semakin membuka keran kebencian pada Islam di Amerika Serikat, usai insiden 11 September 2001.

“Ini akan semakin membuka pintu pada industri Islamofobia, sebuah industri para pembenci yang kurang terdidik, untuk menyerang komunitas Muslim. Yang diperlukan sekarang adalah membalas kebencian dengan cinta, cobaan dengan kesabaran, dan ketakutan dengan kesolehan,” ujar Rahim. [fajar/viva]