Pengaruh Maksiat Dalam Jihad

Sesungguhnya orang-orang yang berpaling (dalam jihad) pada saat bertemunya dua pasukan, tiadalah mereka berpaling kecuali dikarenakan syaithan menggelincirkannya dengan sebab (ma’shiyat) yang mereka lakukan,… (4 : 155).

Al-Hafidz Ibnu Katsir dalam tafsirnya Tafsir Al-Qur`an Al-‘Adhim menjelaskan bahwa tergelincirnya seorang mujahid dari medan peperangan di jalan Allah disebabkan oleh perbuatan ma’shiyat yang dilakukan sebelumnya. Beliau kemudian menukil perkataan para salaf bahwa sesungguhnya sebagian dari balasan kebaikan adalah (dimudahkannya) seseorang untuk mengerjakan kebaikan yang lain, begitu juga sebaliknya, sebagian dari balasan keburukan adalah (dimudahkannya) seseorang untuk mengerjakan kejelekan yang lain.

Prinsip Akumulasi

Tidak ada yang dadakan dalam sebuah proses. Suatu amal perbuatan baik dengan kualitas yang tinggi di hadapan Allah merupakan tabungan bertahap dari amal perbuatan kecil, ringan dan sederhana yang secara ikhlas dan dawam (kontinyu) dilaksanakan oleh seorang hamba. Ibarat tangga, tak mungkin mencapai puncak tertinggi tanpa melalui anak tangga-anak tangga sebelumnya yang lebih rendah. Hal yang sama berlaku juga sebaliknya, amal perbuatan buruk sekalipun kecil dan sederhana, ketika yushirru ‘ala ma fa’alu (dilakukan secara terus-menerus) juga akan mengantarkan kepada keberanian dan ringannya seorang hamba untuk melakukan perbuatan ma’shiyat yang berkualitas tinggi yang mengeluarkannya dari millah, mencabut ashlul-iman (pokok keimanan).

Sabda Rasulullah saw. :

رَأْسُ الْأَمْرِ الْإِسْلَامُ وَعَمُودُهُ الصَّلَاةُ وَذِرْوَةُ سَنَامِهِ الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ

Pokok pangkal urusan adalah Islam, tiang-tiang tegaknya adalah Sholat dan puncak ketinggiannya adalah Jihad fi sabililLah.

Tidak akan sanggup menapaki ketinggian itu kecuali hamba Allah yang paling utama. Yakni mereka yang dengan ikhlas hatinya tawajjuh menghadap Allah, tidak mempertimbangkan apa penilaian manusia ketika dia yakin (berdasar ilmu) bahwa dirinya di jalan Allah. Sebaliknya jika hati seorang hamba tidak ikhlas mencari wajah-Nya ketika beramal, kadang manusia dibuat tercengang-cengang prestasinya di jalan Allah, tetapi ternyata tidak ada nilainya bagi Allah dan ditelungkupkan ke neraka. Bukankah salah satu golongan diantara 3 (tiga) kelompok manusia yang pertama-tama ditelungkupkan ke dalam neraka adalah seorang mujahid yang gugur di jalan Allah, tetapi dia berjihad karena ingin mendapatkan pujian dari manusia? Puncak ketinggian ‘amal hanya dapat dicapai dengan perjuangan berat, sabar dan tidak kenal lelah. Karena tabi’at pekerjaan yang berat biasanya menghajatkan perhatian yang serius, teliti, sabar, tekun, dan tidak terburu-buru.

Shahabat mulia Abu Darda’ radliyalLahu ‘anhu mengingatkan manusia untuk beramal sholih sebelum berangkat menuju kancah peperangan. Prinsip akumulasi ‘amal menjadi jalan hidup sahabat mulia yang dipersaudarakan dengan Salman al-Farisiy radliyalLahu ‘anhu ini. Memasuki kancah pertempuran fi sabililLah tanpa akumulasi ‘amal kebajikan yang ditabung sebelumnya dikhawatirkan akan gagal memperjuangkan dien-Nya. Bahkan dikhawatirkan tidak mampu untuk istiqomah mempertahankan dien bagi dirinya sendiri.

Bagi beliau berperang untuk menegakkan dien-Nya, berarti menjemput musibah ikhtiyariy, memilih jalan yang memang penuh tebaran kesulitan, taburan onak dan duri, berteman dengan serakan tulang-belulang dan tengkorak, bukan hamparan karpet merah. Kesulitan itu mulai dari al-had al-adna (batas paling minim) yakni kelelahan di jalan-Nya hingga puncaknya kematian. Diantara dua batas itu terdapat beragam ujian ; luka-luka, kehilangan anggota badan, tertawan musuh dll. Lantaran itu, menerjuninya tanpa bekal sungguh berbahaya. Katanya:

إِنَّمَا تُقَاتِلُوْنَ بِأَعْمَالِكُمْ

Hanyasanya kamu sekalian bertempur dengan (berbekal) ‘amal-‘amal kalian. (Fath al-Bariy Syarah Shahih Bukhariy, Ibnu Hajar).

Jalan Masuk Syaithan

Syaikh ‘AbdurRohman as-Sa’diy dalam Taysiru Karim ar-Rohman memberikan penjelasan yang menarik, beliau berkata bahwa perbuatan ma’shiyat yang dilakukan oleh seorang hamba berarti hamba tersebut memberi jalan masuk kepada syaithan dan tempat kedudukan di dalam dirinya, karena perbuatan ma’shiyat merupakan jalan masuk dan kendaraan syaithan untuk menguasai manusia. Sekiranya seorang hamba berpegang teguh dengan mentaati Allah, syaithan tak akan pernah mempunyai kekuatan untuk menguasai manusia. Firman-Nya:

إِنَّ عِبَادِيْ لَيْسَ لَكَ عَلَيْهِمْ سُلْطَانٌ…

Sesungguhnya hamba-Ku tidak ada bagimu kekuasaan atas mereka…

Iblis dan qabilahnya dapat menggelincirkan hamba Allah dalam jihad fi sabililLah karena sebelumnya hamba yang berangkat ke medan jihad itu telah berbuat ma’shiyat kepada Rabb-nya, sehingga syaithan telah bertahta di dalam dirinya. Apatah lagi ketika hamba tersebut tak hanya berbuat ma’shiyat, bahkan mengakumulasi banyak perbuatan ma’shiyat, sebab ketergelinciran itu tentu saja semakin besar.

Dengan demikian, sejatinya ketergelinciran seorang mujahid dari jalan jihad merupakan ‘pembuktian terbalik’ atas kema’shiyatan atau akumulasi kema’shiyatannya, meskipun dilakukan dengan diam-diam. Sungguh hal ini layak dikhawatirkan oleh seorang mujahid atas dirinya.

Dr. Najih Ibrahim dalam tulisannya Risalatun ila Kulli man Ya’mal li al-Islam menegaskan bahwa ma’shiyat bathin -yang tidak kasat mata- lebih berbahaya dibanding dengan ma’shiyat dhahir. Kema’shiyatan bathin bak kanker, cepat sekali menjalar ke seluruh tubuh dan merusak tanpa sepengetahuan si penderita dan orang-orang sekitarnya. Penderita tidak merasakan sakit dan tidak mengeluhkannya. Ia baru mengetahuinya ketika penyakit itu telah menahun, kronis, dokter sudah angkat tangan dan obat tidak bermanfaat lagi.

Kema’shiyatan bathin seperti riya`, ‘ujub, hasad (dengki) , hubb ar-riyasah (cinta kekuasaan, selalu ingin menjadi pemimpin), hubb asy-syuhroh (suka populer) dan takabbur (sombong, menolak kebenaran dan meremehkan manusia) bisa jadi lebih berbahaya daripada kema’shiyatan dhahir seperti zina dan minum khamer.

Kadang bisa terjadi seorang mujahid karena kurang ilmu dan kurang teliti, berpadu dengan keinginan kuat untuk mengajak saudaranya berjihad di jalan Allah menurut keyakinannya, tetapi tercampur dengan perasaan lebih tinggi karena dia telah berjihad sedang yang diseru belum berjihad. Juga disertai rasa meremehkan karena dalam pandangannya orang yang diseru telah mengetahui kewajiban berjihad namun ia berpangku tangan, padahal jihad dalam status hukum fardhu ‘ayn. Dari paduan berbagai perkara ; pemahaman yang tidak komprehensif, asumsi yang salah terhadap saudara Muslim yang lain, merasa lebih tinggi dan menganggap yang lain lebih rendah,…lahirlah ajakan berjihad bernuansa menghakimi, merendahkan, mendelegitimasi baik terhadap pribadi seorang Muslim maupun tanzhim jama’ah dan segala prinsip yang dipegangnya.

Padahal bisa terjadi, kalimat-kalimat buruk yang dilepaskan itu menyebabkan murka Allah dan menyebabkan laknat-Nya. Sehingga amal jihad yang sebenarnya merupakan puncak ketinggian ‘amal itu, menjadi sia-sia. Seandainya tidak gugur pahala kebaikannya, bisa jadi pailit dan bangkrut di akherat nanti lantaran pahala ‘amal itu habis u
ntuk menebus kesalahannya kepada orang lain yang dicerca, dituduh, diambil hartanya dengan cara tidak benar, ditumpahkan darahnya dan lain-lain.

Imam Ahmad, Imam at-Tirmidziy, Imam an-Nasaa`iy mengeluarkan sebuah hadits dalam masalah ini :

Bilal bin Haris berkata, “Aku mendengar RasululLah shallalLohu ‘alayhi wa sallam bersabda, ‘Sungguh salah seorang diantara kalian benar-benar mengucapkan satu kalimat yang diridloi Allah, sedang dia tidak menyangka bahwa perkataannya itu akan sampai derajat seperti itu, sehingga Allah menetapkan keridhaan-Nya sampai hari dia bertemu dengan-Nya. Sebaliknya ada seorang diantara kalian benar-benar mengucapkan kalimat yang dimurkai Allah, sementara dia tidak menyangka bahwa ucapannya itu akan sampai derajat seperti itu, sampai Allah menetapkan kemurkaannya hingga dia bertemu dengan-Nya’.”

Amir al-Mu’minin ‘Umar bin Khaththab radliyalLohu ‘anhu lebih mengkhawatirkan kema’shiyatan pasukannya daripada kekuatan fisik (kelengkapan dan kecanggihan persenjataan serta berlipatnya jumlah tentara) musuh. Beliau menasehati pasukannya bahwa mereka ditolong oleh Allah karena ketaqwaan, bukan lantaran lengkap dan digdayanya persenjataan serta kelebihan jumlah pasukan. Ketika pasukan Muslimin berbuat ma’shiyat, keadaan mereka sama dengan keadaan musuhnya, terputus tali yang menghubungkan mereka dengan Allah dan para penduduk langit. Jika sudah begitu, musuh masih mengungguli Muslimin dengan persenjataan mereka dan jumlah pasukan yang berlipat.

Jadi semua berproses, kebaikan maupun keburukan. Orang memperoleh prestasi baik, dikarenakan proses panjang membiasakan diri dengan kebaikan dan mencegah dari keburukan. Begitu pula sebaliknya. Walhasil, tidak ada yang instan, semua berproses. *(Wawan)