Pentagon Warning Pangkalan Militer

Photo AFP
Photo AFP

WASHINGTON – Teror penembakan maut di markas Angkatan Laut (AL) pada Senin silam (16/9) menjadi pelajaran bagi Amerika Serikat (AS). Pasca insiden tersebut, pemerintah AS berniat mengevaluasi kembali sistem keamanan.

Pentagon memerintahkan evaluasi keamanan secara serentak di seluruh pangkalan militer AS. Bukan hanya di dalam negeri, instruksi itu juga berlaku bagi markas militer di luar negeri. Selain itu, para pekerja kontrak yang memiliki akses ke pangkalan-pangkalan tersebut juga dievaluasi ulang.

“Menteri Pertahanan Chuck Hagel memerintahkan evaluasi keamanan fisik dan akses individu ke seluruh fasilitas Departemen Pertahanan (DoD) di seluruh dunia,” kata seorang pejabat senior Pentagon dikutip oleh jpn (19/09).

Menurut kabar, para pekerja kontrak leluasa keluar masuk pangkalan dengan bermodalkan kartu tanda pengenal khusus. Apalagi, sempat tersiar kabar bahwa AL sengaja melonggarkan keamanan terhadap para pekerja kontrak demi menghemat anggaran. Konon, saat terjadinya penembakan pun, status pelaku sudah bukan pekerja kontrak. Tetapi, dia masih memiliki kartu tanda pengenal.

Aksi Aaron Alexis hingga kini menjadi misteri bagi publik Amerika. Motif dan motivasi pria kulit hitam tersebut sehingga beraksi menewaskan belasan orang masih didalami oleh  petugas federal.

“Apa yang mendorong pelaku membunuh begitu banyak pria dan wanita tidak berdosa? Bagaimana dia merencanakan dan melancarkan serangan tersebut? Bagaimana cara pelaku mendapat senjata api itu?” kata Ronald Machen, jaksa federal.

FBI mulai menelusuri latar belakang Alexis. Mulai kronologi kedatangannya ke Washington sampai detail aktivitas terakhirnya sebelum melancarkan serangan. “Kami memperoleh banyak informasi melalui wawancara, media digital, dan menelusuri semua petunjuk yang mengarah pada motif pelaku. Tapi, motif pelaku masih tetap misterius.” [jpnn/faris]