Penyakit Berbahaya, Kebodohan Sumber Kesesatan

Kebodohan, Sumber Kesesatan
Kebodohan, Sumber Kesesatan

An-Najah.net – Tidak ada penyakit yang lebih membahayakan dalam menjalani kehidupan ini melebihi kebodohan. Dalam Islam, kebodohan termasuk sifat tercela karena menjadi sumber petaka.

Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyah mengatakan,

“Segala sifat yang pemiliknya di puji oleh Allah SWT dalam Al-Qur’an adalah buah dan hasil ilmu, sedangkan semua bentuk celaan dalam Al-Qur’an adalah buah kebodohan.” (Miftah Daar Sa’adah, 1/115)

Kebodohan  membahayakan dien seseorang. Betapa banyak orang letih ibadah berdasarkan hadits-hadits dhoif, atau berdasarkan pemikiran mereka. Bukan atas dasar dalil yang shahih. Sebab, ibadah harus berdasarkan ilmu.

Rasulullah SAW bersabda;

“Barangsiapa yang mengamalkan sebuah amalan yang tidak ada dasar dari kami, ia tertolak.”  (HR. Muslim)

Dalam masalah agama, kebodohan akan melahirkan banyak masalah. Misalnya, kebodohan terhadap bahasa Arab seringkali membuat orang salah dalam memahami nash-nash syar’i.

Kebodohan paling membahayakan ada tiga yaitu:

Pertama: Kebodohan Terhadap Wahyu.

Kebodohan terhadap Wahyu beragam bentuknya. Diantaranya, tidak mempelajari wahyu (Al-Qur’an dan as-Sunah) dengan sungguh-sungguh dan serius. Sehingga, seringkali mengedepankan akal, perasaan, dan prasangka saat berbicara hukum-hukum syar’i. Padahal perkara-perkara tersebut, telah dijelaskan dalam Al-Qur’an maupun As-Sunnah. Baik secara terperinci maupun global.

Sebagai contoh, ada beberapa orang berpendapat bahwa seseorang yang telah dimasukkan ke dalam neraka, tidak akan keluar lagi selama-lamanya. Ia kekal dalam neraka. Logika mereka: jika Allah membebaskan orang-orang yang telah masuk neraka, berarti Allah ragu dalam membuat keputusan dan inkonsisten.

Imam Asy-Syafi’iy RHM berkata, “Perkara apapun yang menimpa pemeluk agama ini, kecuali hukum-petunjuk tentang hal itu ada dalam kitab Allah SWT.” (Ar-Risalah, 1/20)

Padahal, banyak ayat Al-Qur’an dan As-Sunnah yang menjelaskan tentang sebagian mukmin yang dimasukkan ke dalam neraka lalu dibebaskan dengan rahmat-Nya atau dengan syafa’at. Baik syafaat Nabi Muhammad SAW, keluarga yang mati syahid, Al-Qur’an, serta lain sebagainya

Bentuk lainnya, adalah tidak memahami cara yang terbaik dalam menyimpulkan hukum-hukum syar’i, sehingga seringkali membenturkan satu dalil dengan dalil lainnya. Hal ini karena tidak memahami cara yang benar dalam menyimpulkan hukum-hukum Islam. Hukum syar’i dapat disimpulkan dengan baik (isntinbath ahkam), jika memenuhi dua syarat, yaitu: Dalilnya shahih dan  methode berdalilnya benar.

Kedua: Kebodohan Terhadap Manhaj Salaf

Tidak memahami konsep yang benar menjalankan agama dapat memicu kesesatan. Islam adalah dien (agama) yang bersanad, bukan pikiran manusia semata. Dan sanad keilmuan Islam yang pertama adalah Rasulullah dan para sahabatnya. Kemudian dilanjutkan oleh murid-muridnya yaitu tabi’in, kemudian dilanjutkan oleh murid-murid tabi’ain yaitu tabi’ut tabi’in.

Rasulullah SAW bersabda;

“Jagalah aku lewat para sahabat-sahabatku, kemudian lewat orang-orang sesudah mereka. Kemudian lewat orang-orang setelah mereka, kemudian lewat orang-orang setelah mereka. Setelah itu akan tersebar kedustaan; sampai seseorang bersaksi, padahal ia tidak diminta untuk bersaksi. Dan hingga seseorang bersumpah, padahal ia tidak diminta untuk bersumpah. Juga ada seseorang yang bersemangat dalam membicarakan kedustaan.

Siapa yang ingin wanginya surga, hendaklah ia komitmen dengan al-Jama’ah. Sesugguhnya tangan Allah SWT bersama dengan jama’ah. Dan sungguh, setan bersama dengan satu orang, ia menjauh dari orang yang berdua.” (HR. ath-Thabrani)

Dalam al-Ibanah, Imam Ibnu Batthah RA, meriwayatkan bahwa sahabat Hudzaifah bin al-Yaman, berkata;

“Setiap ibadah yang belum pernah dicontohkan para sahabat Muhammad SAW, jangan sekali-kali kau melaksanakannya. Karena generasi awal  (salaf) tidak menyisakan pendapat apapun dalam masalah agama, bagi generasi berikutnya (semuanya telah disampaikan oleh mereka). Bertakwalah kepada Allah SWT wahai para qurro’, ambil jalan orang-orang sebelum kalian (salaf).”

Imam Ahmad RHM berkata, “Tidak ada satu masalahpun (dalam agama), kecuali sudah dibahas oleh para sahabat Rasulullah SAW. Atau, minimal, perkara yang serupa telah dikaji oleh mereka. Sungguh, ketika banyak wilayah yang ditaklukkan,  Islam meyebar di berbagai daerah, permasalahanpun semakin beragam. Dan para sahabat berbicara serta menghukumi permasalahan-permasalahan tersebut berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Memang, sebagian diantara mereka menjawab permasalahan ini dengan akalnya. Namun, ini sangat langka.” (Majmu’ Fatawa, 4/208)

Ketiga: Kebodohan terhadap Maqashidusy Syari’ah

Maqoshidusy Syari’ah adalah tujuan-tujuan pokok diturunkannya wahyu Allah SWT dan Sunnah Rasulullah SAW. Imam Ibnul Qayyim RHM berkata, “Sesungguhnya pokok dan pondasi syari’ah ini dibangun di atas hikmah-hikmah dan kemashlahatan para hamba. Baik di dunia ataupun akhirat.” (I’lamul Muwaqqi’in, 3/14)

Kebodohan terhadap maqashidusy syari’ah akan menyebabkan kesesatan dan kekacauan dalam berfatwa. Terlebih, jika permasalahan tersebut adalah perkara kontemporer. Ketika menjelaskan sebab terjadinya perbedaan pendapat dan kemunculan bid’ah, pakar Maqashidusy Syari’ah, imam Asy-Syatibi menjelaskan; ada tiga sebab pokok terjadinya kebid’ahan, yaitu: Perbedaan agama –keyakinan-, mengikuti hawa nafsu, dan membiarkan kebiasaan (tradisi) yang melanggar syari’at.

“Ketiga sebab ini,” tulis beliau lebih lanjut, “bersumber dari kebodohan terhadap maqoshidusy syari’ah, dan mereka-reka makna syari’ah dengan persangkaan, tidak ada upaya verifikasi –tatsabbut-; tidak berpedoman pada kajian mendalam, mencukupkan diri dengan persangkaan itu. Cara ini tidak akan dilakukan oleh ulama yang terpercaya (roshikhun fil ilmi).” (al’I’tishom, 2/690)

Sebagai contoh, imam Asy-Syathibi memisalkan kalangan khawarij. “Tidakkah Anda perhatikan kelompok khawarij?” Tulis sang imam, “Bagaimana mereka keluar dari agama ini, sebagaimana keluarnya anak panah dari busurnya. Sebab Rasulullah SAW menyebut mereka dengan;

“Mereka membaca Al-Qur’an, namun bacaannya tidak sampai melewati tenggorokan mereka.” Maksudnya –wallohu’alam– bahwa mereka tidak memahami apa yang dibaca. Sehingga bacaannya tidak sampai ke hati mereka. Sebab pemahaman itu adalah perbuatan hati, jika bacaan tersebut tidak sampai ke hati. Maka otomatis mereka tidak memahaminya. Khawarij hanya terpaku pada suara dan huruf yang terdengar. Tidak memahami hakikat maknanya.” (al’I’tishom, 2/691)*

Penulis : Mas’ud Izzul Mujahid

Sumber : Majalah An-najah Edisi 139 Rubrik Dirasatul Firaq

Editor : Anwar