Penyimpangan Persepsi Ibadah: Akar Kemunduran Umat Islam

(an-najah.net) – Penyimpangan paling berbahaya yang menerpa generasi Islam belakangan ini adalah penyimpangan persepsi ibadah. Kesalahan ini telah melahirkan cendekiawan muslim dengan berbagai gelar tidak peduli terhadap nasib umat Islam. Kiblat peradaban mereka pun rusak dan akhirnya melahirkan pemisahan antara agama dan negara. Islam yang dibawa oleh Nabi kita Muhammad saw ini dianggap tidak mampu mengimbangi kemajuan zaman.

Tetapi, barangkali perlu dipertanyakan, sudah berama lama mereka menggagas kemajuan bangsa dan sudah seperti apa hasil yang dipersembahkan? Tidak salah bila Wan Mohd Nor dalam Rihlah Ilmiahnya menyindir para cendekia dan ulama yang salah memahami Islam dengan ungkapan syair Imam Ghazali:

Wahai cendekia modernis dan ulama keliru
Kenapa Muhammad saw difitnah melulu?
Sekian lama kau menghuni sarangnya di takhta bangsa
Masih gagal membimbing bangsa mencapai cita.[1]

Ketika seseorang membandingkan antara pemahaman generasi Islam pertama bahwa ibadah itu memiliki makna yang komprehensif dan pemahaman generasi Islam masa kini bahwa ibadah itu bermakna sempit, ia pasti merasa tidak aneh bila umat ini mengalami kemunduran dan berada pada kondisi yang buruk saat ini. Wajar bila mereka justru jauh dari kepemimpinan umat manusia, dan hanya menjadi buih yang diombang-ambingkan oleh umat lain; diintai dari semua sisi seperti serigala yang mengintai mangsa.[2]

Makna Ibadah yang Sesungguhnya

Makna komprehensif dalam ibadah didefinisikan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah r.h. dengan ungkapan, “Ibadah adalah istilah yang mencakup segala perkataan dan perbuatan lahir maupun batin yang dicintai dan diridhai Allah.

Ia mencakup shalat, zakat, puasa, haji, berbicara jujur, menunaikan amanah, berbakti pada kedua orang tua, silaturahmi, menepati janji, menyeru manusia kepada kebaikan, mencegah mereka dari kemungkaran, memerangi kaum kafir dan munafik, berbuat baik pada tetangga, anak yatim, miskin, musafir, manusia secara umum dan hewan yang dimiliki, berdoa, zikir, membaca dan sebagainya. Demikian pula, cinta Allah dan rasul-Nya, takut kepada Allah, taubat kepada-Nya, mengikhlaskan agama untuk-Nya, sabar menjalankan hukum-Nya, mensyukuri nikmat-Nya, ridha kepada takdir-Nya, tawakal, mengharap rahmat-Nya, takut kepada azab-Nya dan lainnya merupakan ibadah pada Allah.”[3]

Bila ibadah dipahami seperti itu, setiap muslim pasti bisa menerima semua aspek kehidupan dan akan dihadapi dengan penuh antusias. Sebab, semuanya bernilai ibadah kepada Allah selama komitmen terhadap syarat-syaratnya.

Dengan pemahaman ibadah yang menyeluruh seperti itu, generasi Islam pertama berhasil mencapai berbagai kejayaan di semua aspek pada masanya. Ketika umat menerapkan iman dan ibadah yang benar, dan akhlak merupakan bagian dari ibadah wajib bagi muslim, terjadilah pencapaian gemilang yang belum terulang dalam sejarah. Dalam waktu kurang dari setengah abad, penaklukan Islam berhasil menguasai wilayah mulai dari India di timur dan Selat Hindia di barat. Ini merupakan prestasi gemilang yang tidak pernah ada tandingannya dalam sejarah. Target mereka bukanlah bumi jajahan, melainkan hati yang mendapat hidayah dengan cahaya Allah, lalu masuk ke dalam agama Allah secara berbondong-bondong.[4]

Dengan demikian, masihkah ada keraguan terhadap Islam sebagai solusi peradaban manusia? Hanya orang-orang yang berakal sajalah yang bisa berpikir jernih. [is]

[1] http://insistnet.com/index.php?option=com_content&view=article&id=306:neomodernisme-itu-dulu-kini-islamisasi-ilmu&catid=1:adian-husaini

[2]Mafâhim Yanbaghî an Tushahhah, Muhammad Quthb (173).

[3] Majmû’ul Fatâwâ: X/150.

[4] Ibid: X/222.

http://insistnet.com/index.php?option=com_content&view=article&id=306:neomodernisme-itu-dulu-kini-islamisasi-ilmu&catid=1:adian-husaini