Perang Mu’tah, Tiga Komandan Syahid Mempertahankan Bendera Tauhid

Bendera Tauhid
Bendera Tauhid

An-najah.net – Perang Mu’tah merupakan salah satu perang terbesar dalam Islam. Perang ini terjadi pada bulan Jumadil Ula tahun 8 Hijriyah. Rasulullah Saw menentukan waktu dan tempat pertempuran ini. Rasulullah Saw juga menunjuk para komandan pasukannya.

Rasulullah Saw menunjuk Zaid bin Haritsah, hamba sahaya beliau, sebagai komandan pasukan. Jika Zaid Syahid, maka diganti Ja’far bin Abu Thalib. Jika Ja’far syahid maka diganti Abdullah bin Rawahah.

Rasulullah Saw bersabda :

إِنْ قُتِلَ زَيْدٌ فَجَعْفَرٌ ، فَإِنْ قُتِلَ جَعْفَرٌ فَعَبْدُ اللَّهِ بْنُ رَوَاحَةَ

“Jika Zaid gugur maka komando beralih kepada Ja’far, jika ia gugur maka komando pasukan beralih kepada Abdullah bin Rawahah.” (HR. Bukhari)

Jumlah personil satuan tempur ini sebanyak 3.000 pasukan. Harus menghadapi 200.000 pasukan musuh dengan senjata lengkap. Perang ini terjadi antara Islam dan Salibis nasrani dari bangsa Arab dan non-Arab. Perang ini berpengaruh terhadap masa depan negara Romawi.

Ini merupakan langkah awal penaklukan dan pembebasan negeri Syam dari bangsa Romawi. Dapat dikatakan bahwa perang ini merupakan langkah nyata yang dilakukan Rasulullah Saw untuk meruntuhkan negara Romawi yang diktator atas negeri Syam.

Baca Juga (Ajari Anak Tauhid Sejak Dini)

Situasi Pertempuran Mu’tah

Mukjizat Nabi Muhammad Saw nampak melalui kabar yang beliau sampaikan kepada penduduk Madinah terkait alur peperangan. Seakan beliau mengatur dan menyaksikan peperangan itu. Tidak ada satu pun kabar yang beliau sampaikan keliru, padahal saat itu belum ada jaringan kabel, siaran televisi, rekaman video atau media-media lain.

Di Madinah, Nabi Muhammad Saw mengabarkan jalannya pertempuran secara detail seakan melihatnya secara langsung dari kejauhan. (Syaikh Abu bakar jabir Al Jazairi, Hadzal Habib Muhammad Saw Ya Muhibb, Hal 386)

Setelah naik mimbar dan menyerukan shalat berjama’ah, beliau menyampaikan, “Pintu kebaikan, pintu kebaikan, pintu kebaikan. Aku akan mengabarkan kepada kalian tentang pasukan kalian yang sedang berperang itu. Zaid gugur sebagai syahid – beliau kemudian mendoakan ampunan untuknya-,.

Setelah itu panji (liwa’) perang diraih Ja’far. Ia menyerang musuh hingga syahid – beliau kemudian mendoakan ampunan untuknya-. Beliau terdiam hingga wajah-wajah Anshar berubah. Mereka mengira jika Abdullah bin Rawahah tertimpa sesuatu yang tidak mereka inginkan.

Nabi Saw meneruskan, “Ia memerangi musuh hingga gugur sebagai syahid. Beliau meneruskan, Saat ibnu Rawahah gugur panji perang diraih Tsabit bin Arqam al Anshari. Ia berkata, “Wahai kaum muslimin! Pilihlah salah seorang dari kalian untuk memegang panji ini.”

Mereka sepakat memilih Khalid bin Walid. Rasulullah Saw meneruskan, Setelah itu panji perang diraih salah satu pedang Allah, Khalid bin Walid ia pun melindungi pasukan. Sejak itulah Khalid bin Walid disebut Saifullah (pedang Allah).

Keistimewaan perang ini

Perang Mu’tah adalah satu-satunya perang yang beritanya turun dari langit. Karena Nabi telah memberitahukan atas syahidnya ketiga komandan itu sebelum tiba berita dari medan perang. Bahkan nabi Saw telah menceritakan mengenai peristiwa-peristiwanya.

Ia juga istimewa dibandingkan peperangan lainnya karena ia adalah perang satu-satunya yang memiliki tiga komandan yang dipilih Nabi Saw secara berurutan : Zaid bin Haritsah, Ja’far bin Abi Thalid dan Abdullah bin Rawahah.

Bahkan dalam kisah ini ada kisah heroik dalam membela panji perang (liwa’) agar bendera itu tidak jatuh. Dimana bendara itu tertuliskan kalimat tauhid yaitu kalimat Laa Ilaha Illaallah Muhammadur Rasulullah.

Baca Juga (Belajar Tauhid dan Aplikasinya Dari Luqman Al Hakim)

Rasulullah Saw bersabda :

كَانَتْ رَايَةُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَوْدَاءَ، وَلِوَاؤُهُ أَبْيَضَ

“Rayah Rasulullah Saw berwarna hitam dan Liwa beliau berwarna putih.” (HR Imam Tirmidzi dan Imam Ibn Majah dari Ibn Abbas)

كَانَتْ رَايَةُ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَوْدَاءَ وَلِوَاءُهُ أَبْيَضَ مَكْتُوْبٌ فِيْهِ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ

Rayah Rasulullah saw. berwarna hitam dan Liwa-nya berwarna putih. Tertulis di situ Laa Ilaaha illaallah Muhammadur Rasulullah  (HR Abu Syaikh al-Ashbahani dalam Akhlâq an-Nabiy saw.).

Zaid menyerang musuh dengan membawa bendera tauhid itu hingga gugur. Kemudian bendara perang itu diraih ja’far. Ia melancarkan serangan dengan membawa bendera itu.

Ja’far menyerang hingga tangannya kanannya putus. Ia meraih bendera dengan tangan kiri dan beperang hingga tangan kirinya putus. Ia kemudian mendekatkan bendera itu dengan kedua lengannya hingga menemui kesyahidannya.

Pada tubuhnya terdapat delapan puluh sekian tebasan, dalam referensi yang lain ada 90 lebih luka dalam medan jihadnya. Maka bendera itu diambil Abdullah bin Rawahah. Ia maju hingga menemui kesyahidannya pula.

Ditulis : Abu Khalid

Sumber : Syaikh Abu bakar jabir Al Jazairi, Hadzal Habib Muhammad Saw Ya Muhibb

Editor : Miqdad